Kriiiiiiiiing !!!!!!!! Kriiiiiiiiiiiiing !!!!!! Dering bel terdengar menyalak dan melengkingkan bunyi2an yang memekakan telinga seluruh penghuni rumah besar itu. Aku celingukan di depan pagarnya yang bercat hijau.“Hey.. Rina ! Masuk aja !” terdengar teriakan sedikit cempreng yang tak kalah melengking seperti bel rumahnya. Kepalaku mendongak ke arah datangnya suara, mataku bergerak mencari-cari sosok bersuara cempreng tadi diantara jendela-jendela besar yang berderet. Tak lama kutangkap lambaian tangan ramping menyembul dari celah jendela yang terbuka sedikit. Sosoknya tidak terlihat jelas, tapi aku langsung mengenalinya.
Senyumku merekah, dan mataku berbinar cerah bersemangat kegirangan menemukan bayangannya di balik kaca yg tertutup tirai putih. Telapak tangannya melambai-lambai menyuruhku masuk. Kelak rumah ini menjadi rumah keduaku. Tempat singgah ketika lapar dan haus dipenghujung bulan dan tempatku bernaung ketika gerbang kost telah rapat tergembok. Rumah yang selalu terbuka dan hangat menyambut.
Saat itu adalah kedua kalinya bertemu Nina, setelah satu hari sebelumnya kami sempat bertemu untuk pertama kali di ITENAS. Ketika kami sama-sama berstatus mahasiswa baru. Dan pagi itu kami bersepakat untuk berangkat sama-sama.ke kampus. Dikemudian hari kami layaknya sepasang kembar siam yang tak pernah terpisahkan, dimana ada nina disitu ada aku, begitu pula sebaliknya.
Baiklah..mari kuceritakan tentang sosok dibalik jendela tadi. Seorang sahabat yang membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama. Seperti terkena sihir yang membuatku terus lekat mengintip sosoknya yang berwajah seperti tokoh komik. Ketika kedua alisnya tampak mengkerut dan matanya yang kecil turut menyipit hingga terlihat seperti segaris. Rambutnya pendek dengan poni yang yang selalu ia pakaikan jepit berjejer. Jerawat-jerawat kecil terhias di dahinya. Wajahnya merenggut serius, memperhatikan lekat-lekat senior yang tengah memberikan pengarahan diantara sekumpulan mahasiswa baru yang mengelilinginya.
Terlihat beberapa senior dengan sejumlah atribut yang bermacam-macam sibuk hilir mudik menebarkan aura-aura keseniorannya, serta mengerahkan seluruh pesona penarik simpati junior-junior potensial untuk mereka jadikan target operasi selanjutnya. Sebuah budaya klasik diawal tahun ajaran baru sebagai ajang pencarian jodoh. Mahasiswa baru, pacarpun baru..Syukur-syukur bisa dapet jodoh di kampus pula. :D
Ditengah eksistensi para senior yang cendrung mendominasi suasana kelas, dengan riuh rendah junior-junior yang tampak mulai terpikat oleh pesona para seniornya. Mataku tak lepas mengintai setiap gerak gerik perempuan yang berwajah merenggut tadi.
Raut mukanya terlihat kocak. Sesekali ia menghela napas dalam-dalam hingga pundaknya yang sempit ikut naik. Perlahan dilepas udara yang memenuhi rongga paru-parunya sembari menepuk-nepuk bibirnya yang menguap, pundaknyapun menurun malas. Tampak jelas ia bukannya tengah serius memperhatikan sang senior yang begitu semangat berceramah. Tetapi ia sibuk menahan kantuk yang menjalari seluruh wajahnya hingga terlihat cemberut.
Namanya Anindita Ratna Palupi, tapi kami terbiasa memanggilnya Nina. Sebuah nama kecil yang disematkan kedua orangtuanya untuk putri satu-satunya dari tiga bersaudara.
Sosoknya ramping dan jangkung, tinggi badannya sekitar 165 cm lebih tinggi dariku yang hanya 155cm. Saat berhadapan dengannya seringkali aku harus sedikit mendongakan kepalaku supaya dapat menatap persis diwajahnya. .
Wajahnya manis, ia memiliki mata yang kecil tanpa kelopak, bulu matanya pun pendek-pendek. Pipinya tirus dengan dengan dagu yang lancip. Garis-garis wajahnya sedikit oriental, Namun kulitnya kuning kecoklatan, tipikal warna kulit khas perempuan berdarah jawa. Tetapi sisi ke-jawa-an yang biasanya memperlihatkan bahasa tubuh yang anggun serta kemayu telah luruh dari gerak-geriknya yang tak bisa diam.
Terkadang tingkah lakunya seperti kucing, entah karena kecintaannya yg begitu besar terhadap kucing, atau karena setiap pembawaanya yang komikal layaknya perilaku binatang berbulu itu?.
Kucing memang sudah menjadi hidupnya, kuingat satu kejadian yang membuatku terkaget-kaget ketika pertama kalinya menyaksikan dengan takjub sebuah “kebun kucing” dilantai dua rumahnya. Belasan bahkan puluhan binatang berbulu itu berkeliaran dan menjelajahi setiap sudut ruangan. Aromanya yang khas tercium begitu lekat dalam ingatanku, seringkali membuat hidung terasa gatal karena khayalan bawah sadarku bermain-main dengan sensor penciuman dan menyampaikannya menuju otak. Aku seperti berada di tengah lautan bulu-bulu kucing yg menggelitiki seluruh lorong didalam hidungku.
Namuni ia layaknya peri penyelamat bagiku, aku yang seorang anak kost seringkali terjebak masalah-masalah klasik khas anak perantauan. Tak pernah sekalipun ia menutup kedua tangannya yang selalu siap untuku kapanpun dan dimanapun, menyelamatkanku dari kesengsaraan berminggu-minggu. Dan senyumnya senantiasa hangat kala menyapa, memberikan keriangan untuk setiap orang yang berada didekatnya.
Pernah suatu ketika keriangannya berubah menjadi kepanikan yang luar biasa. Sebuah tragedi berdarah membuat jantungku serasa lepas dan berhenti sketika, napasku seperti enggan mengalir di kerongkonganku hingga paru-paru terasa menggembung sesak sekali.
Malam itu, terdengar isak tangis keras serta rintihan yang menyayat hati diseberang sana.
“Rinaaaaaaaaaaaaa..!!!"
"jempol gue kepotoooong..!!!”
Kepanikan pun dimulai, secepat kilat aku melesat memburu rumahnya yang hanya berjarak sekitar 20M. Mukaku seketika memucat, seakan tak ada darah yang sampai ke otaku. Sejuta prasangka buruk berkecamuk ketika menyaksikan darah segar berceceran dimana-mana. Kengerian mulai menjalar disekujur tubuhku yang kian melemas. Aku menemukan sosoknya yang menyedihkan, terduduk cemas dan berlelehan air mata, ia memegangi bagian kakinya yang terpotong hanya ditutupi helai-helai tissue penuh darah. Perutku terasa mual dan melilit, tetapi mataku sibuk mencari-cari potongan jempol yang terputus.
Tragedi jempol berdarah dimalam rabu, terkadang membuat kami tersenyum geli. Tuntutan kejam tugas Niramana 3D dari seorang Pak Andri Masri ternyata mampu memacu semangat juang 45 kami hingga tetes darah penghabisan. (ehm.. tepatnya tetes darah penghabisan nina)
Nirmana 3D adalah mata kuliah paling angker yang pernah kami temui dimasa kuliah. Tenaga berlipatpun akhirnya selalu dikerahkan karena rasa ngeri berkepanjangan yang kerap menghantui waktu-waktu lengah kami. Mata yang tak kuasa untuk terpejam, selalu terjaga diantara tumpukan karton 3mm dengan tangan yang tak pernah lepas dari pisau cutter. Siap menyayat !
Dan celakanya di tengah tekad yang kian membaja untuk merampungkan Box 3mm, semangat kejar deadline ahirnya menjadi petaka bagi nina. tajamnya pisau cutter yang melenceng dengan sukses mengarah ke jempol kaki kanannya. Dan tragedi berdarahpun tak terelakan, secuil daging harus rela tersayat.
Walau lega karena kejadiannya tidak seburuk pikiranku yang meracau tak menentu, membayangkan jempol yang terputus dari kakinya, membuatku geli bercampur ngeri. Beruntung hanya sayatan kecil di ujung jempolnya, sedikit jahitan di UGD RS Bormeous telah menyelamatkan kepanikan tiada dua dimalam itu…
(Ninaaaaaa... inget gak tragedi itu???)
P.s: 4 ninaku..... Love u (catatan jaman dulu, selalu ngangenin masa2 itu....)


0 komentar:
Poskan Komentar