Kamar sempit ini terasa semakin menghimpit dadaku yang sesak. Temaram lampu menambah kemuraman di dalam hati yang tengah gundah menanti aroma bencana yang terasa semakin mendekat, menyeruak menampar-nampar pipiku yang dingin dan memucat. Aku kian merundukan pandangan menekuri lantai semen yang mengelupas karena rapuh. Jengah rasanya ditatapi perabotan butut dikamar pengap ini, seolah-olah mereka tengah asyik mengintai setiap gerak-geriku yang menggigil ketakutan, bercampur dengan rasa ngeri bergantian menggedor batinku yang merintih. Ah Tuhan apa yang akan terjadi padaku hari ini? sekarangkah saatnya?
“BRAK !!” jantungku seakan melompat, terdengar bedebam pintu dibuka dengan paksa, mungkin ia menendang atau mendobraknya sekuat tenaga. Aku memeluk kedua lututku yang gemetaran dan merapatkan tubuhku mencari perlindungan diantara dinding-dinding kamar yang dingin dan lembab. Kengerian ini semakin menjalari seluruh persendianku, kakiku kian melemas tak kuasa menanti bencana yang akan menyambutku. Kupejamkan kedua mata ini rapat-rapat, aku tak ingin melihat gelegak kemarahannya memburu tubuhku. Sungguh aku ingin menghilang dari bumi ini secepatnya.
“DASAR ANAK SIAL !!”
“KAU PIKIR KAU INI SIAPA, HAH ?! JAGOAN?!”
Ah, bencana itu kini ada dihadapanku. Berdiri menjulang dengan geletar kemurkaan. Aku mulai merasakan cengkraman kasar menggoncang bahuku, menarik tubuhku kuat-kuat tepat kehadapannya dengan kedua tangannya yang kokoh. Kukunya yang hitam seolah-olah menancap di dalam daging mudaku hingga membuatku meringis kesakitan. Aku hanya mampu memalingkan muka menghindari busuk nafasnya karena alkohol murahan yang ia tenggak di warung remang-remang kampung sebelah. Sekuat tenaga aku katupkan gigiku yang gemeletuk karena ngeri. Aroma kemurkaan begitu lekat kurasakan dalam setiap dengusan nafasnya. Aku tak tahan, ingin rasanya bersembunyi dari tatapan matanya yang mencela penuh kebencian. Tapi kemana aku harus sembunyi?
Ah, ibu.. aku menginginkan ibu disini, menyelamatkan aku dari bencana yang selalu memburuku dan menerjangku setiap saat. Tetapi, dimanakah engkau ibu? Mengapa kau tak pernah ada bersamaku setiap kali aku begini. Kau hanya membisu tanpa melihat ke arahku. Seringkali ku lihat kau tundukan wajahmu dan kemudian menutup kedua telingamu dengan rapat seolah kau tak pernah mendengar rintihanku.
Ibu, lihatlah aku anakmu yang malang. Kumohon tataplah mataku yang mengharapmu dalam pedih. Ingin rasanya kau memeluk tubuhku yang luka, menyeka hatiku yang perih dengan tetes air mata Ibu yang menyejukan. Tapi kenapa wajahmu selalu engkau palingkan dariku. Kau hanya menangisiku diam-diam kala sepi. Aku tahu kau menyayangi aku lebih dari apapun. Aku tahu itu ibu..
Semakin rekat kupejamkan kedua mata ini, mengusir harapanku akan ibu dari kepalaku yang terasa pening. Mencoba membendung air mata yang mulai keluar menjajal pertahananku. Tuhan, aku tak ingin menangis, tak ingin kuperlihatkan muka cengengku di depan lelaki ini. Mungkin ia semakin girang melihat ketidakberdayaanku, atau mungkin ia jijik melihat wujudku. Dan benar, direnggutnya rambutku tanpa iba sedikitpun, dihadapkannya mukaku persis di wajahnya yang bengis penuh kebencian.
Lelaki berperawakan kasar dihadapanku ini tak lain adalah ayahku. Kulitnya legam terbakar matahari dengan kilatan keringat yang berleleran di sekujur tubuhnya. Kebengisan hatinya tertoreh pada garis-garis wajahnya yang tegas dan kasar. Kedua tangan yang keras dihiasi alur-alur urat yang menonjol layaknya batang kayu yang siap menghantamku kapan saja. Aku tak pernah sanggup menatap kedua matanya yang berkilatan seperti mata panah yang sedia menghujam kemudian merobek-robek hatiku dengan tatapannya yang senantiasa mengejek.
Inilah ayahku, suami dari ibuku yang malang. Seorang kuli serabutan yang tak jelas apa pekerjaannya. Bisanya hanya menggantungkan nafkah pada ibu. Menurutku ia tak lebih dari seorang pengangguran malas, tukang judi kelas teri yang tak pernah ditakdirkan beruntung seumur hidupnya. Tuhan memang Maha Adil, lelaki seberengsek dirinya tak pernah dibiarkan mengecap kemenangan sekalipun.
Sungguh aku tak rela melihat ibu di injak ayah, hanya untuk mencukupi hasrat judi ayah yang menggila diperasnya keringat ibu yang telah lelah. Malang nian engkau ibu. Sedari pagi hingga petang kau banting tulang menjadi buruh cuci, untuk mengantungi sepeser uang yang tak seberapa, tapi tak sedikitpun kau nikmati hasil jerih payahmu. Ia memang memuakan dan sungguh kasar. Kekasarannya seringkali ia luapkan pada siapa saja yang ia kehendaki. Tapi entahlah, walau demikian aku tak pernah melihat dirinya memiliki kebencian yang sebegitu rupa seperti rasa benci yang ia miliki terhadapku.
Aku tak tahu kenapa ia begitu membenciku, begitu muak melihat rupaku. padahal aku adalah puteranya. Sedikitpun aku tak ingin membuatnya kecewa, tetapi seringkali ia memuntahkan kekesalannya padaku dengan perangainya yang tak berbelaskasih. Mencaci dengan bicaranya yang kotor dan tak berpendidikan. Ia selalu berhasil membuatku merasa menjadi anak yang paling hina. 14 tahun bersamanya, tak pernah kurasakan ia memperlakukan aku seperti apa yang ia lakukan pada kedua adikku. Walau ayah memperlakukan mereka dengan perangai yang sama buruknya, menghardik dengan amarah atau menyumpahi mereka dengan kata-katanya yang kotor, tapi tak pernah sekalipun ia menyiksa adik-adiku sebagaimana ia menyiksaku dengan sungguh biadab. Engkau memang tak adil ayah.
Dahulu, ketika adik-adikku mendorongku hingga terjatuh, menghempaskanku hingga aku terluka. Aku mengapai-gapai tangan ayah berharap ia akan meredam tangisanku dengan sentuhan hangat yang menenangkan. Tetapi aku memang terlalu senang berandai-andai, mana sudi ia membagi kasihnya padaku. Sekalipun ia tak pernah menatapku dengan lembut. Sorot matanya yang mengejek seolah-olah aku ini mahluk menjijikan. Ah, ayah.. tak adakah tersisa sedikit cinta untukku? Kau begitu senang menyakitiku dengan lisanmu dan menyiksaku dengan kedua tanganmu. Apa aku telah membuatmu hina?
Apakah karena aku anak haram ibuku seperti yang orang-orang katakan?
Aku semakin lelah berada dalam kekuasaan amarahnya yang meledak-ledak, ia terus menghantam muka dan tubuhku tanpa ampun. Tinjunya seperti godam yang merajang tubuhku hingga tulang belulang. Kurasakan lumuran darah segar membanjiri sekujur tubuhku yang semakin lemah. Aku tak tahu lagi seperti apa rupaku saat ini mungkin sudah sehancur hatiku yang luluh lantak tak berbentuk. Ia kian kesetanan layaknya seekor serigala buas yang memperoleh kesenangannya dengan mengoyak-ngoyak tubuhku hingga bercerai berai, menjejakan kakinya sekuat teriakannya diatas kepalaku yang semakin berat.
“TENGIK !”
“KAU APAKAN ANAK SI SURYO !?”
“DIAJARI SIAPA KAU MENGHAJAR ORANG, HAH?!!!”
Lamat-lamat ku dengar gelegar suaranya yang melemah dalam pendengaranku. Dunia semakin gelap, kini tak lagi kurasakan nyeri di sekujur tubuhku. Aku seakan melayang entah kemana, terbang bersama berkas cahaya yang membawaku terbang tinggi. Ah, inikah waktuku ?
Ayah…Sekejam apapun engkau, kau tetaplah ayahku yang tercinta sekaligus yang teramat ku benci. Tak peduli aku baik atau bertingkah nakal, sungguh tak ada bedanya bagimu. Selama ini kau lebih senang menghajarku, memakiku dengan sumpah serapah yang amat menyakitkan hatiku. Tahukan ayah, engkaulah yang mengajari aku menjadi sepertimu.
(Cerpen ini ditulis 12 Juni 2008, terinspirasi setelah nonton BUSER tentang gejala sosial "Orang tua yang tega membunuh anaknya)
“BRAK !!” jantungku seakan melompat, terdengar bedebam pintu dibuka dengan paksa, mungkin ia menendang atau mendobraknya sekuat tenaga. Aku memeluk kedua lututku yang gemetaran dan merapatkan tubuhku mencari perlindungan diantara dinding-dinding kamar yang dingin dan lembab. Kengerian ini semakin menjalari seluruh persendianku, kakiku kian melemas tak kuasa menanti bencana yang akan menyambutku. Kupejamkan kedua mata ini rapat-rapat, aku tak ingin melihat gelegak kemarahannya memburu tubuhku. Sungguh aku ingin menghilang dari bumi ini secepatnya.
“DASAR ANAK SIAL !!”
“KAU PIKIR KAU INI SIAPA, HAH ?! JAGOAN?!”
Ah, bencana itu kini ada dihadapanku. Berdiri menjulang dengan geletar kemurkaan. Aku mulai merasakan cengkraman kasar menggoncang bahuku, menarik tubuhku kuat-kuat tepat kehadapannya dengan kedua tangannya yang kokoh. Kukunya yang hitam seolah-olah menancap di dalam daging mudaku hingga membuatku meringis kesakitan. Aku hanya mampu memalingkan muka menghindari busuk nafasnya karena alkohol murahan yang ia tenggak di warung remang-remang kampung sebelah. Sekuat tenaga aku katupkan gigiku yang gemeletuk karena ngeri. Aroma kemurkaan begitu lekat kurasakan dalam setiap dengusan nafasnya. Aku tak tahan, ingin rasanya bersembunyi dari tatapan matanya yang mencela penuh kebencian. Tapi kemana aku harus sembunyi?
Ah, ibu.. aku menginginkan ibu disini, menyelamatkan aku dari bencana yang selalu memburuku dan menerjangku setiap saat. Tetapi, dimanakah engkau ibu? Mengapa kau tak pernah ada bersamaku setiap kali aku begini. Kau hanya membisu tanpa melihat ke arahku. Seringkali ku lihat kau tundukan wajahmu dan kemudian menutup kedua telingamu dengan rapat seolah kau tak pernah mendengar rintihanku.
Ibu, lihatlah aku anakmu yang malang. Kumohon tataplah mataku yang mengharapmu dalam pedih. Ingin rasanya kau memeluk tubuhku yang luka, menyeka hatiku yang perih dengan tetes air mata Ibu yang menyejukan. Tapi kenapa wajahmu selalu engkau palingkan dariku. Kau hanya menangisiku diam-diam kala sepi. Aku tahu kau menyayangi aku lebih dari apapun. Aku tahu itu ibu..
Semakin rekat kupejamkan kedua mata ini, mengusir harapanku akan ibu dari kepalaku yang terasa pening. Mencoba membendung air mata yang mulai keluar menjajal pertahananku. Tuhan, aku tak ingin menangis, tak ingin kuperlihatkan muka cengengku di depan lelaki ini. Mungkin ia semakin girang melihat ketidakberdayaanku, atau mungkin ia jijik melihat wujudku. Dan benar, direnggutnya rambutku tanpa iba sedikitpun, dihadapkannya mukaku persis di wajahnya yang bengis penuh kebencian.
Lelaki berperawakan kasar dihadapanku ini tak lain adalah ayahku. Kulitnya legam terbakar matahari dengan kilatan keringat yang berleleran di sekujur tubuhnya. Kebengisan hatinya tertoreh pada garis-garis wajahnya yang tegas dan kasar. Kedua tangan yang keras dihiasi alur-alur urat yang menonjol layaknya batang kayu yang siap menghantamku kapan saja. Aku tak pernah sanggup menatap kedua matanya yang berkilatan seperti mata panah yang sedia menghujam kemudian merobek-robek hatiku dengan tatapannya yang senantiasa mengejek.
Inilah ayahku, suami dari ibuku yang malang. Seorang kuli serabutan yang tak jelas apa pekerjaannya. Bisanya hanya menggantungkan nafkah pada ibu. Menurutku ia tak lebih dari seorang pengangguran malas, tukang judi kelas teri yang tak pernah ditakdirkan beruntung seumur hidupnya. Tuhan memang Maha Adil, lelaki seberengsek dirinya tak pernah dibiarkan mengecap kemenangan sekalipun.
Sungguh aku tak rela melihat ibu di injak ayah, hanya untuk mencukupi hasrat judi ayah yang menggila diperasnya keringat ibu yang telah lelah. Malang nian engkau ibu. Sedari pagi hingga petang kau banting tulang menjadi buruh cuci, untuk mengantungi sepeser uang yang tak seberapa, tapi tak sedikitpun kau nikmati hasil jerih payahmu. Ia memang memuakan dan sungguh kasar. Kekasarannya seringkali ia luapkan pada siapa saja yang ia kehendaki. Tapi entahlah, walau demikian aku tak pernah melihat dirinya memiliki kebencian yang sebegitu rupa seperti rasa benci yang ia miliki terhadapku.
Aku tak tahu kenapa ia begitu membenciku, begitu muak melihat rupaku. padahal aku adalah puteranya. Sedikitpun aku tak ingin membuatnya kecewa, tetapi seringkali ia memuntahkan kekesalannya padaku dengan perangainya yang tak berbelaskasih. Mencaci dengan bicaranya yang kotor dan tak berpendidikan. Ia selalu berhasil membuatku merasa menjadi anak yang paling hina. 14 tahun bersamanya, tak pernah kurasakan ia memperlakukan aku seperti apa yang ia lakukan pada kedua adikku. Walau ayah memperlakukan mereka dengan perangai yang sama buruknya, menghardik dengan amarah atau menyumpahi mereka dengan kata-katanya yang kotor, tapi tak pernah sekalipun ia menyiksa adik-adiku sebagaimana ia menyiksaku dengan sungguh biadab. Engkau memang tak adil ayah.
Dahulu, ketika adik-adikku mendorongku hingga terjatuh, menghempaskanku hingga aku terluka. Aku mengapai-gapai tangan ayah berharap ia akan meredam tangisanku dengan sentuhan hangat yang menenangkan. Tetapi aku memang terlalu senang berandai-andai, mana sudi ia membagi kasihnya padaku. Sekalipun ia tak pernah menatapku dengan lembut. Sorot matanya yang mengejek seolah-olah aku ini mahluk menjijikan. Ah, ayah.. tak adakah tersisa sedikit cinta untukku? Kau begitu senang menyakitiku dengan lisanmu dan menyiksaku dengan kedua tanganmu. Apa aku telah membuatmu hina?
Apakah karena aku anak haram ibuku seperti yang orang-orang katakan?
Aku semakin lelah berada dalam kekuasaan amarahnya yang meledak-ledak, ia terus menghantam muka dan tubuhku tanpa ampun. Tinjunya seperti godam yang merajang tubuhku hingga tulang belulang. Kurasakan lumuran darah segar membanjiri sekujur tubuhku yang semakin lemah. Aku tak tahu lagi seperti apa rupaku saat ini mungkin sudah sehancur hatiku yang luluh lantak tak berbentuk. Ia kian kesetanan layaknya seekor serigala buas yang memperoleh kesenangannya dengan mengoyak-ngoyak tubuhku hingga bercerai berai, menjejakan kakinya sekuat teriakannya diatas kepalaku yang semakin berat.
“TENGIK !”
“KAU APAKAN ANAK SI SURYO !?”
“DIAJARI SIAPA KAU MENGHAJAR ORANG, HAH?!!!”
Lamat-lamat ku dengar gelegar suaranya yang melemah dalam pendengaranku. Dunia semakin gelap, kini tak lagi kurasakan nyeri di sekujur tubuhku. Aku seakan melayang entah kemana, terbang bersama berkas cahaya yang membawaku terbang tinggi. Ah, inikah waktuku ?
Ayah…Sekejam apapun engkau, kau tetaplah ayahku yang tercinta sekaligus yang teramat ku benci. Tak peduli aku baik atau bertingkah nakal, sungguh tak ada bedanya bagimu. Selama ini kau lebih senang menghajarku, memakiku dengan sumpah serapah yang amat menyakitkan hatiku. Tahukan ayah, engkaulah yang mengajari aku menjadi sepertimu.
(Cerpen ini ditulis 12 Juni 2008, terinspirasi setelah nonton BUSER tentang gejala sosial "Orang tua yang tega membunuh anaknya)


0 komentar:
Poskan Komentar