GOES TO MA'RADH AL QAHIRAH (CAIRO INTERNATIONAL BOOK FAIR)



Akhir-akhir ini dinginnya Cairo lebih menggigit dari biasanya, Matahari pun kian malu-malu menampakan diri seolah ia enggan memancarkan teriknya karena angin yang berhembus begitu dingin dan kencang. Sesekali diselingi hujan rintik-rintik disertai angin debu. Brrrr dingin. Tapii tentu ini bukan alasan bagiku dan suami tercinta untuk memulai perburuan buku di Ma'radh (lebih tepatnya menemani beliau berburu buku). Rasa penasaran dengan yang namanya “Ma'radh” akhirnya terbayar sudah. Syukur alhamdulillah pada akhirnya kami berdua dapat kesempatan juga untuk mengunjungi ajang tahunan yang paling ditunggu-tunggu. "Ma'radh kitab ad-duwaly" atau "Cairo International Book Fair" yang ke-42 tahun. Disinilah surganya para pecinta ilmu dan buku. Dimana ribuan bahkan jutaan manusia tumpah ruah di ajang ini , tua muda tenggelam dalam lautan buku karya para penulis juga penerbit dari seluruh antero negeri, khususnya penerbit dari negara-negara Timur Tengah.

Luar biasa, dua kata yang paling tepat untuk menggambarkan semaraknya ajang tahunan yang paling dinanti-nanti. Lautan buku begitu rupa memanjakan setiap pengunjungnya, baik yang tengah berburu kitab-kitab klasik hingga kitab-kitab kontemporer karya ulama-ulama terkemuka diseluruh negeri, disinilah gudangnya. Dari buku-buku islami hingga buku-buku umum dan populer karangan para penulis terkenal disini jugalah tempatnya. Siapa saja boleh masuk kok dengan tiket hanya 1 Le saja atau kalau dirupiahkan sekitar Rp.1850,- Asyik kan?

Areal yang luasnya lebih dari 1 Hektar ini (mungkin, ini nebak aja habisnya luaaaaas banget), dari ujung ke ujung dipenuhi oleh stand-stand penerbit buku dari berbagai negara. Di dalam satu areal kurang lebih terdapat 7 hall/ gedung. (ralat, setelah hari ke-3 mengitari areal ma'radh ternyata bukan 7 hall, tetapi ada 15 hall yang dipenuhi stand penerbit buku) Satu gedung biasanya diisi oleh puluhan stand penerbit yang berasal dari kawasan mesir dan juga dari luar mesir. Belum lagi stand-stand buku yang berada di luar gedung, terlihat berderet rapih sejak dari pintu masuk. Kebayang donk, kalau ingin puas "ngubek" setiap stand sembari berburu aneka buku, kitab, atau buku-buku populer lainya perlu waktu berhari-hari untuk bisa menjelajah dari gedung ke gedung dan dari stand yang satu ke stand berikutnya.

Di ajang ini ada yang sedikit berbeda dari gedung yang ditempati oleh negara Saudi Arabia, negara ini memiliki 1 gedung tersendiri yang seluruhnya diisi oleh penerbit-penerbit yang berasal dari negaranya. Tampilan gedungnya pun terlihat jauh lebih ekslusif jika dibandingkan dengan gedung yang digunakan oleh negara lain. Menampilkan keunikan corak dan ornamen khas negara teluk yang begitu kental, serta pakaian khas yang dikenakan oleh para penjaga stand yang semuanya laki-laki lengkap dengan galabiah serta kafiyehnya membuat kami serasa tengah berada di negeri minyak nan makmur ini. Berbagai macam penerbit besar semisal Jami'ah Ummul Qura dan Jami'ah Islamiyyah (Keduanya merupakan Universitas besar di Saudi) menawarkan kitab-kitab klasik dan kontemporer yang banyak dicari oleh pengunjung. Umumnya buku-buku terbitan Saudi cendrung lebih mahal daripada buku-buku terbitan negara-negara arab lain. Tapi bagi mereka yang betul-betul mencari sumber rujukan mengenai keislaman alasan “lebih mahal sedikit" tentu tidak menjaadi soal.




Di samping dikunjungi oleh sebagian besar masyarakat mesir, agenda tahunan ini juga banyak diburu oleh pengunjung non-Mesir, baik pengarang dan penerbit dari banyak negara, juga salah satunya adalah serbuan mahasiswa/i Indonesia yang tengah mencari illmu di beberapa Universitas Mesir. Ma'radh ini betul-betul dijadikan kesempatan emas bagi mereka untuk melengkapi koleksi buku-buku serta sumber rujukan, atau hanya sekedar cuci mata sambil jalan-jalan bersama teman.

Yang paling menarik dari ajang ini adalah antusiasme masyarakat mesir pada budaya baca dan literasi. Terlihat dari gaya berbelanja buku mereka yang bisa dibilang royal. Hampir setiap pengunjung yang keluar dari ma'radh dapat dipastikan menenteng buku lebih dari satu. Tak tanggung-tanggung mereka berbelanja sambil membawa troli bahkan koper (troli sama koper lebih gede mana ya?). Padahal ada anggapan bahwa kebanyakan masyarakat mesir cenderung hemat dan sederhana untuk urusan gaya hidup. Tapi sepertinya tidak untuk berbelanja buku. Mungkin karena alasan inilah masyarakat mesir dikenal dengan budaya bacanya yang tinggi. Setiap hari, selalu ada buku-buku baru yang terbit, meskipun tingkat buta huruf di Mesir juga konon masih cukup tinggi. Masyarakat Mesir juga banyak yang miskin dan kekurangan, namun karena minat baca dan rasa ingin tahu mereka yang besar, maka kesulitan ekonomi atau mahalnya buku tidak menjadi alasan untuk tidak membaca buku.

Ada rasa iri hati jika melihat kenyataan ini, membayangkan bagaimana melorotnya budaya membaca di tanah air. Jadi teringat dahulu ketika getol-getolnya menghadiri bookfair. Paling standard hanya membeli 1 sampai 2 buah buku, selebihnya sekedar keliling sembari baca ditempat (begini nih tipikal orang yang gak mau rugi :P). Entah kenapa, rasanya kok beraat ketika harus merogoh kocek untuk satu buku saja, seolah-olah banyak sekali alasan yang selalu dijadikan pembenaran untuk memelihara rasa “enggan” membeli buku. Terutama mahalnya harga buku, pada akhirnya selalu dijadikan alasan paling klasik yang menyurutkan niat membaca. Alhasil memiliki perpustakaan pribadi dirumah hanya menjadi angan-angan dan mimpi semata, (gaya banget ya angan-angannya :-P)

Baiklah kembali lagi ke Ma'radh. Di ajang tahunan ini pengunjung tak hanya dimanjakan oleh penjelajahan di lautan buku, tetapi masyarakat mesir banyak yang memanfaatkan ajang ini untuk acara kumpul-kumpul bersama teman dan keluarga. Tersedia taman-taman luas nan nyaman untuk melepas lelah sepulang perburuan. Sambil menyantap kabab, firakh, sawarmah, dan banyak lagi jajanan lainnya yang khas Timur tengah bisa menjadi pilihan, tentunya tak lengkap tanpa secangkir kopi Turki panas untuk menambah asyiknya acara perburuan. Namun bagi yang lidahnya masih asing dengan penganan khas arab disediakan juga jajanan sejuta umat, alias jajanan yang bisa ditemukan dengan rasa yang familiar di negara manapun semacam KFC dan McD. Gimana? tertarik?

Itulah hari-hari yang kami lalui dengan berpetualang di kemeriahan Ma'radh al Qahirah. Terasa begitu melelahkan dan dengan sukses telah berhasil membuat kedua kaki ini biru-biru karena kebanyakan jalan, ditambah pundak dan kedua tangan serasa kaku akibat tas ransel berisi belanjaan buku milik suami yang super berat. Tetapi pernah berada diantara jutaan manusia yang mencintai ilmu dan buku merupakan harga yang tak akan pernah terganti sampai kapanpun. Thanks to akang yang sudah membuka satu lagi jendela dunia dengan memperkenalkan ma'radh ini. Bagi yang belum sempat ke Ma'radh, masih ada kesempatan sampai tanggal 13 Pebruari 10. Jangan lewatkan ya, dan selamat berburu !


Katamea, 05 Pebruari 2010

Oleh: Rina Saepulloh

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts with Thumbnails

Salam...



Selamat datang di Blog yang sederhana ini. Sekedar catatan singkat dari seorang Rina Saepulloh.

Semoga sedikit tulisan yang disuguhkan dapat berkenan dihati.

Selamat menikmati, salam silaturahim dan salam hangat dari Kairo