Rendank Padang (Sebuah Kisah Tentang Sahabat)

Siapa yang tak kenal sensasi “menggigit” rendang daging? Masakan tradisional bersantan khas Padang, Sumatra Barat. Dengan cita rasa yang kaya rempah bercampur pekatnya karambia (kelapa) yang membalut serat demi serat irisan daging sapi khas dalam. Padupadannya bersama bumbu berempah membaur dan menyatu menyeruakan aroma harum nan gurih yang menggoda setiap indera penciuman. Membuat air liur mengumpul dan semakin tak terbendung membangkitkan selera. Rasanya tak sabar untuk mengecap, mengerat dan merasakan setiap detail kekhasannya. Perut-perut laparpun kian meronta keroncongan. Seperti Winda… Lho..?! Apa hubungannya.. ?!?

Winda Nazir, sebutlah namanya demikian. Sahabatku yang seorang padang tulen berkarakter khas seramai rempah. Seperti rendang yang merupakan perlambangan keseluruhan dari masyarakat minang. Kesetiaannya yang selekat santan senantiasa mengiringi aneka bumbu pemasak sehingga mampu mengasilkan rasa unik nan lezat, layaknya kedekatan kami sebagai sahabat yang erat, lekat dan gurih.

Dulu, pertama kali aku menilik sosoknya, nuansa minang terasa kental dalam pribadinya. Gadis padang berkulit gelap dan berhidung jambu terlihat manis dengan jilbabnya ia mengenakan terusan tunik longgar hingga ke lutut. Ditambah dialeknya yang khas restoran-restoran padang yang gemar aku kunjungi, dengan cengkoknya yang unik dan berirama menjadikannya terasa begitu “padang”.

Atmosfer inilah yang membuat aku teramat takjub dengan sosoknya. Alasannya sangat sederhana, seumur hidup sebelum aku menjejakan kaki di area kampus tercinta, aku hanya mengenal orang-orang yang berkarakter serupa, tak ada keragaman dan perbedaan budaya. Semuanya urang sunda, tok !

Bandung yang kian disesaki pribadi dan budaya heterogen, yang semakin tenggelam ke-sundaanya dan kemudian beranjak menjadi sebuah kota yang plural dan universal, akhirnya mempertemukan aku Si-sunda dengan Winda Si gadis minang dari rantau. Si pendiam dan Si ramai, kompilasi unik ini yang menjadikan kami semakin dekat.

Ia seorang pribadi yang keras dan bersemangat. Lengkingannya semenggigit lado atau cabai pedas yang kerap membuat gaduh seisi dunia, sangat meriah. Hanya saja berbeda dengan karakter lado yang cendrung tegas, gadis minang ini kerapkali ragu dengan pendiriannya, terkadang kamipun turut dibuatnya bingung dengan “cita-cita” sebenarnya si gadis minang ini.

Sejatinya Ia memiliki potensi yang luar biasa besar, kemampuan interpersonal adalah asset paling utama dari seorang Winda. Gadis yang supel, populer dan mudah bergaul, ia mampu berhubungan dengan siapa saja. Seperti seorang marketer.. Sangat khas orang Padang bukan..?!

Tapi proses pencarian jati diri yang sejati terasa begitu panjang. Pernah satu ketika kami dibuatnya terkaget-kaget.

“Gue ikutan audisi Indonesian idol..!!"

Serunya lantang dan meyakinkan. Aha..!! Ternyata cita-citanya menjadi Idola Indonesia, menjadi seorang penyanyi. Bersoraklah kami penuh sukacita.

Dan ia pun mengawali perjalanan panjang untuk menyingkirkan ribuan peserta audisi di seluruh Bandung. Memang tidak mudah tapi bukan berarti tidak mungkin. Apapun bisa saja terjadi, selama ada kerja keras dan atas seijinNYA tentu saja. Demi cita-cita inilah penampilannya kemudian bertransformasi selayaknya idola masa itu. Berkostum kuning menyala dan.. Hm, ada yang berbeda kelihatannya..? Ahh ya..rambut hitamnya tergerai bebas tanpa jilbab. O..ow kami kaget dan terbengong-bengong dibuatnya, mndapati sosoknya yang hmmm… Beda.

Ketika itu aku, Nina serta seorang teman dengan segenap doa dan dukungan penuh mengantarkan dirinya menuju gerbang kesuksesan, menuju lahirnya idola baru Indonesia. Sepanjang perjalanan menuju Sabuga, tempat dimana audisi diselenggarakan. Tanpa lelah, tanpa menyerah ia mengasah seluruh bakat terpendamnya, bernyanyi-nyayi ala Reza Arthamevia yang mendesah-desas. Beruntung aksi latihan instant gadis padang ini tidak ditambahi gaya merapat-rapat di-dinding andalannya Reza. Cukup pendengaran kami saja yang menjadi korban. Pikirku kalau saja kala itu Trie Utami yang menjadi jurinya, habislah gadis ini dibantai kejamnya pitch control. Pasrah, kamipun berharap semoga penyakit pendengaran para juri Indonesian Idol kumat temporer saat gadis ini tampil. Hihi...

Tak sampai 1 jam kami menunggu ditengah rintik hujan sore itu. Berharap-harap cemas ditemani sepiring baso tahu hoki pengganjal perut yang semakin kelaparan. Dari jauh terlihat wajahnya yang manis menyembul-nyembul diantara lautan calon idola. Ia mengembangkan senyum cerianya ketika datang menghampiri kami yang penasaran mendengar cerita spektakuler di dalam sana. Sejuta pertanyaan berkecamuk mencari-cari jawaban dari sosoknya. Berhasilkah Ia Memukau para juri dengan gaya mendesah ala Reza? Apakah Ia diaudisi artis-artis sekelas Titi DJ dan Indra Lesmana? Atau mungkin gadis padang ini malah sudah sempat berfoto bersama mereka??

"Gue gak jadi ikut audisi..!"


Serunya dengan bersemangat. Dan lagi-lagi kami dibuatnya kaget.

"Terus ?!"

Kami semakin penasaran, menunggu jawaban yang paling masuk akal dari keputusannya.

"Winda laper.. cari makan aja yuk.."


Pekiknya manja dengan seringainya yang khas, dan kemudian berlalu meninggalkan mimpinya yang meredup. Tetapi sinar diwajahnya masih tetap sama, cerah ceria.

Itulah Winda sahabat kami tercinta, tak tahu kenapa perjuangan sang Gadis minang ini terhenti sebelum ia sempat menghujamkan senjata andalannya di tengah ajang paling spektakuler dinegri ini. Entah karena lapar seperti yang Ia katakan, ataukah berjuta-juta manusia yang menyesaki Sasana Budaya Ganesha saat itu telah membuat jiwa perangnya surut dan ahirnya ia pun mencari strategi yang lain, dengan kekuatan baru. Dan Ia adalah Si gadis Minang yang selalu penuh semangat mencari mimpi-mimpinya.


P.s: masih inget tulisan yg ini kan? windaku sayang, kini satu persatu mimpi sudah kamu raih.. menunggu maret nggak akan berasa ya, bahagia selalu ya sayang......... miz u


0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts with Thumbnails

Salam...



Selamat datang di Blog yang sederhana ini. Sekedar catatan singkat dari seorang Rina Saepulloh.

Semoga sedikit tulisan yang disuguhkan dapat berkenan dihati.

Selamat menikmati, salam silaturahim dan salam hangat dari Kairo