Diam-diam kuperhatikan sosok perempuan seusiaku di seberang sana. Namanya Kiki, mungkin usianya sekitar 18 tahun atau lebih tua sedikit? 18 tahun adalah usia normal mahasiswa yang baru menapakan kakinya di universitas, Ketika anak yang baru lulus SMA hendak belajar menjadi seorang MAHA nya SISWA. Ketika mereka beringsut menjadi sosok yang belajar dewasa, hampir dewasa, menjelang dewasa, dan sejenisnya. Dan saat itulah aku pertama kali melihat sosoknya, sedikit berbeda.Garis rahangnya tegas dengan dagu meruncing sempurna, dia memiliki bibir tipis yang unik, Ketika tawanya mengembang deretan gigi putih yang berjejer teratur terlihat kontras dengan kulitnya yang kecoklatan. Kelak kutahu dari mana ia memiliki bibir yang merekahkan senyuman yang begitu unik. Konon Ia membawa gen yang diturunkan dari ibunya yang berdarah belanda.
Tapi entah kenapa, belum pernah sekalipun aku melihat ia mengembangkan senyum ke arahku, atau sekedar menatap dengan tatapan “hai ayo kita berteman?.” Tatapannya senantiasa lurus ke depan, tanpa menoleh dan tanpa peduli apa yang ada disekitarnya. Ketika berjalanpun ia melangkah cepat-cepat dengan tas ransel yang tampak berat dan kebesaran. Entah apa saja isi tasnya? pikirku.
Sketch books yang tak pernah lepas ia genggam erat ditangan kanannya. Belum lagi tangan kiri yang tak kalah sibuk menenteng tools box berisi peralatan gambar. Tampak menderita, tapi sepertinya ia tak peduli, langkahnya semakin cepat membuat rambut ikalnya yang selalu dikuncir ke belakang tampak berayun. Rautnya terlihat kurang bersahabat, dan sesekali ekspresi arogan tersirat di balik kaca matanya yang berbingkai tebal..Hff.. nyebelin kan..?
Ketika tanpa sengaja aku berdiri sejajar dengannya, ternyata dia tak lebih kecil dariku. Padahal tubuhku juga tak tinggi. Aku meliriknya diam-diam dengan sudut mataku yang agak memicing, sembari mengamati postur tubuhnya yang lebih berisi dibandingkan badanku yang Cuma sehelai, alias kerempeng dan rata.
Terkadang aku melihatnya agak sesak, karena kaus oranye yang melekat ketat di badannya. Celana jins nya pun tak kalah mencolok dan terang, berwarna senada dengan kausnya. Seketika aku bergumam dalam hati “woho..serab euy !”
Ia seringkali terlihat bersama sekumpulan mahasiswa serius dan agak dekil (Oops..waktu itu lho, sekarang sih udah keren-keren semua). Padahal aku juga tak kalah teramat biasa dibandingkan mereka, seorang anak daerah yang baru menginjakan kaki di Bandung, yang takjub dengan keberagaman manusianya. Melihat sosok Erik yang tampak seperti ekspatriat muda, dengan rambutnya yang pirang, matanya yang biru dan bibirnya yang memerah. Posturnya yang cenderung gemuk membuatnya terlihat mencolok diantara kelompoknya. Setiap kekocakan dan candaan yang mereka lontarkan seringkali sarat konsep yang menjual isi kepalanya yang memang encer. Dan pada akhirnya sekumpulan mahasiswa ini dikenal dengan sebutan “kelompok belajar”. Bersama merekalah gadis berkacamata ini tampak mengembangkan tawanya, bertingkah konyol dan ajaib.
Oh iya, dikelasku mahasiswa terkelompok menjadi 3 kubu. Kelompok pertama dikenal dengan nama “kelompok belajar” isinya sekumpulan mahasiswa paling rajin, disiplin waktu dan paling hobby camping di kampus untuk mengerjakan tugas bersama. Alur hidup mereka terlihat jelas, rapih, terarah dan terencana. Nilai-nilainya pun tergolong paling menonjol diantara yang lainnya. Umumnya kelompok ini dikenal oleh para pengajar karena eksistensi mereka yang cendrung positif.
Yang kedua dikenal dengan nama “kelompok bermain” isinya sekumpulan mahasiswa yang tak kenal deadline.. UTS maupun UAS… semua serba dadakan dan serba spontan bahkan cendrung apa adanya menjurus seadanya. Seringkali nilai tugas-tugas mereka terhias angka-angka keramat semacam -5 (minus 5), -10 (minus sepuluh) serta potongan-potongan nilai lainnya yg lebih menghawatirkan, alasannya Cuma satu.. "terlalu senang bermain".
Tapi tidak semua mahasiswa di kelompok ini memiliki trade record minim kok. Beberapa terlihat menonjol dan memiliki bakat cemerlang. Hanya sayang karena kurang disiplin waktu, nilai-nilai excellent mereka harus rontok karena discount besar-besaran dari para pengajar. Dan biasanya mereka adalah sekumpulan mahasiswa yang paling populer di fakultas, dikenal para pengajar karena terlalu seringnya mereka “molor tugas” mereka juga dikenal hampir oleh seluruh angkatan karena jaringan pertemanan mereka tergolong luas dan solid.
Nahh.. Yang ketiga dikenal sebagai “kelompok abu-abu”, di kubu inilah aku berada.. Tidak terlalu suka main, dengan prestasi cenderung biasa-biasa saja. Tepatnya sekumpulan orang-orang yang stagnan dan kurang termotivasi. Sekumpulan orang-orang yang cepat puas dan enggan mengembangkan diri. Tidak putih dan juga tidak hitam, Itulah abu-abu. Dan biasanya kelompok ini kurang dikenal, karena dalam kehidupan nyatanya kelompok ini kurang terekspos kepermukaan karena terlalu "biasa-biasa".
Oke, kembali ke kiki. Mungkin karena alasan inilah Ia tak pernah menatap peduli pada kedua kelompok yang kurang menjanjikan. Begitupun aku yang tak pernah peduli dengan sekumpulan mahasiswa paling rajin dikelas, atau mungkin sekedar menutup mata karena cukup puas dengan stempel “biasa-biasa”. (hmm kebiasaan yang buruk)
Tapi, nilaiku juga tidak terlalu buruk, cukup baik untuk mahasiswa yang berada dikelompok abu-abu.. Pada awalnya.. (hanya pada awalnya lho, selanjutnya? yahhh begitulah :P) nilai-nilaiku sebanding dengan kiki satu-satunya perempuan di kelompok belajar. Hm.. inilah karakter kelompok abu-abu, tidak termotivasi untuk menjadi yang “luar-biasa”
Itulah kuliah tingkat pertamaku, awal aku bertemu sahabat tercintaku.. terbaiku.. bernama Sari Ritzkya Devyani (spelling nya bener gak ya ki??) bersama ketiga sahabat lainnya yang belum ku ceritakan.
Kami yang tak saling peduli dan tak pernah saling menatap bersahabat, tanpa menyadari seutas benang merah mulai tampak mengikat sebuah persahabatan, tetapi masih samar..
(Tak kenal maka tak sayang, di kuliah tingkat kedua.. Kisah persahabatanpun dimulai, terlalu banyak cerita menarik untuk dikisahkan. Kelak ia menjadi sahabat yang selalu dikagumi sekaligus dicintai dengan segala keajaiban, kehebatan dan keunikan yang ia miliki. One in a million...)
P.s: baru ketemu ada tulisan tentang kiki yg ini, aku share buat kiki.. miz u


0 komentar:
Poskan Komentar