Dua hari ini kami seperti tengah bersuka ria merayakan sebuah kemenangan, lho memangnya kenapa Rin? Apa karena tim andalan FIFA WC 2010 masuk babak 16 besar? Layaknya suka cita yang dirasakan teman-teman lain yang begitu gegap gempita menyongsong kemenangan demi kemenangan dari tim kesayangannya.
Ahhh bukan itu, jujur saja kami berdua memang tidak menonton euforia'nya Piala Dunia 2010. Bukan karena tidak suka atau tidak sempat. Tapi di Tv kami memang tak ada Chanel yang menayangkan perhelatan akbar yang paling dinanti-nanti oleh jutaan penonton di seluruh penjuru dunia. Jadinya kami cuma bisa gigit jari sembari menunggu update'an dari hasil pertandingan. Meski baru tadi sore kami tahu kalau sebetulnya kami bisa juga nonton LIVE World Cup 2010 di internet (telat!). Tapi yahh sudahlah, better late than never kalau kata orang.
Oke kembali lagi ke pertanyaan di atas. Apa pasalnya yang membuat aku dan suami begitu bersuka cita dua hari ini?. Baiklah, kuberitahu alasannya. Semua itu karena “TAHU”, eits bukan “tahu” yang bersinonim dengan kata “paham” ya, melainkan “tahu” sejenis penganan berprotein tinggi dan berbahan dasar kacang kedelai (soya) yang difermentasikan dan kemudian diambil sarinya.
Lalu apa hubungannya tahu dengan bersuka ria? Kok bisa tahu berpengaruh pada kebahagiaan seseorang? Apa tahu juga memiliki formula seperti coklat yang konon mampu merangsang endorphin (sejenis senyawa kimiawi yang dikeluarkan oleh “Kelenjar Pituitaria”) dan mampu membuat efek bahagia bagi siapa saja yang menkonsumsinya.
Dan tentu saja bukan, sejak kapan tahu memiliki efek analgesik atau penenang bagi Si pengkonsumsi?? yang pasti sih kalau memberi efek mengenyangkan dan menyehatkan, memang iya (semua orang juga tauuu Rina..)
Begini ceritanya, berawal dari kegemaran kami menyantap tahu, rasanya ingin sekali bisa mengkonsumsi makanan ini setiap hari. Sayangnya sejak hijrahnya kami ke Mesir dengan sangat berat hati kami pun harus rela mengkonsumsi tahu sedikitnya hanya 1 bulan sekali. Lho bukannya saat ini sudah banyak temen-temen mahasiswa yang memproduksi tahu? Harusnya bisa dengan mudah mendapatkan penganan yang awalnya berasal dari negeri China ini kan??
Ya, betul sekali. Mungkin bagi temen-temen yang tinggal di kawasan Nasr City akan relatif lebih mudah untuk memperoleh tahu, karena sudah banyak dijual di mat'am-mat'am (restaurant) Indonesia. Tapi, bagi kami yang tinggal di daerah agak menjauh dari Nasr City tentunya dengan terpaksa harus menahan keinginan bersantap tahu sesering mungkin. Namun setidaknya 1 bulan 1 kali kami menyempatkan diri memburunya di Hay Asyir, itu juga kalau beruntung dan tak kehabisan. Atau ketika tiba-tiba dapat kiriman tahu dari mbak Mira seorang sahabat Ma'adi kami, barulah kami dapat tersenyum dengan lebar.
Di Kairo, tahu adalah makanan yang teramat sangat istimewa. Bahkan teman-teman mahasiswa membandrol 1 keratnya dengan harga 5 s/d 6 Pound atau berkisar Rp. 10.000, yahh cukup mahal kalau dibandingkan dengan harga Indonesia, makanya tak heran kalau di negeri kita tahu dan tempe diyakini sebagai makanan paling murah meriah sekaligus menyehatkan, malah khasiatnya disebut-sebut mampu mengalahkan ekslusifitas “daging dan telur” sebagai penyuplai protein bagi tubuh manusia.
Walaupun ketika di Indonesia tahu kerapkali dianggap tak istimewa, namun akan berbeda ceritanya ketika semua serba terbatas. Alhasil yang susah-susah macam beginilah pada akhirnya menjadi prioritas pertama. Saking istimewanya, aku dan suami sampai harus mengeluarkan jurus-jurus kecepatan tangan sebagai senjata pamungkas ketika 1 potong tahu tersisa di atas piring. (ah rina mulai deh hiperbolisnya :p)
Nahh, karena alasan inilah yang ujung-ujungnya menginspirasi kami untuk membuat tahu sendiri. Jadi teringat pepatah seorang teman kuliah dulu ketika sedang mepet -mepetnya dikejar deadline, bahwa "kreatifitas muncul di detik-detik terakhir." Hmm, kurasa banyak betulnya juga ya.
Dan inilah hasilnya, dua hari kemarin akhirnya kami berhasil membuat tahu sendiri, setelah sekian lama berkutat mantengin Youtube dan sharing sana sini seputar memproduksi tahu ala home industry, termasuk bertanya resep pada sesuhu FOSQI tercinta (syukran untuk Ummu Ahmad atas sharing resepnya
).
Setelah dengan seksama mengikuti tahap demi tahap cara membuat tahu hanya dengan peralatan alakadarnya, juga disertai harap-harap cemas layaknya mahasiswa/i yang tengah menunggu hasil ujian, dan.. wala.. berhasil ! Kebayang kan gimana senangnya? Jingkrak kegirangan mewarnai keberhasilan produksi tahu perdana kami. Entahlah mungkin kebetulan atau memang takarannya juga kebetulan benar
. Tapi sudahlah tak perlu diperpanjang lagi, yang jelas dua kali memproduksi dan dua kali itu pula alhamdulillah nya LULUS.
Yang paling bersuka cita tentu saja suamiku tercinta, saking ngefansnya sama tahu beliau sampai rela meninggalkan buku-bukunya demi beralih profesi menjadi Sang Eksekutor alias sebagai staff ahli potong-memotong tahu. Dan bisa ketebak donk, dua hari berturut-turut menu makan pagi sampai malam semuanya bernuansa tahu tanpa ada aksi saling lirik penuh kelicikan untuk memperebutkan satu potong tahu disuapan terakhir kami. Tetapi selalu ada cinta dalam sepotong tahu
Ternyata membuat tahu sendiri mudah juga (eitss gaya atau mau sombong nih rin?) Hihi bukan gitu, tapi betul ko. Yahh prosesnya memang agak panjang tapi berbekal semangat dan keyakinan penuh insyaAllah siapa saja BISA! membuat tahu. (beneran deh, serius pasti BISA!)
Dan yang paling utama, makanan yang kita masak sendiri bisa lebih segar, lebih sehat, dan lebih murah.. Menarik kan?
Qatamea, 300610
Menjelang Maghrib


Oke kembali lagi ke pertanyaan di atas. Apa pasalnya yang membuat aku dan suami begitu bersuka cita dua hari ini?. Baiklah, kuberitahu alasannya. Semua itu karena “TAHU”, eits bukan “tahu” yang bersinonim dengan kata “paham” ya, melainkan “tahu” sejenis penganan berprotein tinggi dan berbahan dasar kacang kedelai (soya) yang difermentasikan dan kemudian diambil sarinya.
Lalu apa hubungannya tahu dengan bersuka ria? Kok bisa tahu berpengaruh pada kebahagiaan seseorang? Apa tahu juga memiliki formula seperti coklat yang konon mampu merangsang endorphin (sejenis senyawa kimiawi yang dikeluarkan oleh “Kelenjar Pituitaria”) dan mampu membuat efek bahagia bagi siapa saja yang menkonsumsinya.
Dan tentu saja bukan, sejak kapan tahu memiliki efek analgesik atau penenang bagi Si pengkonsumsi?? yang pasti sih kalau memberi efek mengenyangkan dan menyehatkan, memang iya (semua orang juga tauuu Rina..)
Begini ceritanya, berawal dari kegemaran kami menyantap tahu, rasanya ingin sekali bisa mengkonsumsi makanan ini setiap hari. Sayangnya sejak hijrahnya kami ke Mesir dengan sangat berat hati kami pun harus rela mengkonsumsi tahu sedikitnya hanya 1 bulan sekali. Lho bukannya saat ini sudah banyak temen-temen mahasiswa yang memproduksi tahu? Harusnya bisa dengan mudah mendapatkan penganan yang awalnya berasal dari negeri China ini kan??
Ya, betul sekali. Mungkin bagi temen-temen yang tinggal di kawasan Nasr City akan relatif lebih mudah untuk memperoleh tahu, karena sudah banyak dijual di mat'am-mat'am (restaurant) Indonesia. Tapi, bagi kami yang tinggal di daerah agak menjauh dari Nasr City tentunya dengan terpaksa harus menahan keinginan bersantap tahu sesering mungkin. Namun setidaknya 1 bulan 1 kali kami menyempatkan diri memburunya di Hay Asyir, itu juga kalau beruntung dan tak kehabisan. Atau ketika tiba-tiba dapat kiriman tahu dari mbak Mira seorang sahabat Ma'adi kami, barulah kami dapat tersenyum dengan lebar.
Di Kairo, tahu adalah makanan yang teramat sangat istimewa. Bahkan teman-teman mahasiswa membandrol 1 keratnya dengan harga 5 s/d 6 Pound atau berkisar Rp. 10.000, yahh cukup mahal kalau dibandingkan dengan harga Indonesia, makanya tak heran kalau di negeri kita tahu dan tempe diyakini sebagai makanan paling murah meriah sekaligus menyehatkan, malah khasiatnya disebut-sebut mampu mengalahkan ekslusifitas “daging dan telur” sebagai penyuplai protein bagi tubuh manusia.
Walaupun ketika di Indonesia tahu kerapkali dianggap tak istimewa, namun akan berbeda ceritanya ketika semua serba terbatas. Alhasil yang susah-susah macam beginilah pada akhirnya menjadi prioritas pertama. Saking istimewanya, aku dan suami sampai harus mengeluarkan jurus-jurus kecepatan tangan sebagai senjata pamungkas ketika 1 potong tahu tersisa di atas piring. (ah rina mulai deh hiperbolisnya :p)
Nahh, karena alasan inilah yang ujung-ujungnya menginspirasi kami untuk membuat tahu sendiri. Jadi teringat pepatah seorang teman kuliah dulu ketika sedang mepet -mepetnya dikejar deadline, bahwa "kreatifitas muncul di detik-detik terakhir." Hmm, kurasa banyak betulnya juga ya.
Dan inilah hasilnya, dua hari kemarin akhirnya kami berhasil membuat tahu sendiri, setelah sekian lama berkutat mantengin Youtube dan sharing sana sini seputar memproduksi tahu ala home industry, termasuk bertanya resep pada sesuhu FOSQI tercinta (syukran untuk Ummu Ahmad atas sharing resepnya
Setelah dengan seksama mengikuti tahap demi tahap cara membuat tahu hanya dengan peralatan alakadarnya, juga disertai harap-harap cemas layaknya mahasiswa/i yang tengah menunggu hasil ujian, dan.. wala.. berhasil ! Kebayang kan gimana senangnya? Jingkrak kegirangan mewarnai keberhasilan produksi tahu perdana kami. Entahlah mungkin kebetulan atau memang takarannya juga kebetulan benar
Yang paling bersuka cita tentu saja suamiku tercinta, saking ngefansnya sama tahu beliau sampai rela meninggalkan buku-bukunya demi beralih profesi menjadi Sang Eksekutor alias sebagai staff ahli potong-memotong tahu. Dan bisa ketebak donk, dua hari berturut-turut menu makan pagi sampai malam semuanya bernuansa tahu tanpa ada aksi saling lirik penuh kelicikan untuk memperebutkan satu potong tahu disuapan terakhir kami. Tetapi selalu ada cinta dalam sepotong tahu
Ternyata membuat tahu sendiri mudah juga (eitss gaya atau mau sombong nih rin?) Hihi bukan gitu, tapi betul ko. Yahh prosesnya memang agak panjang tapi berbekal semangat dan keyakinan penuh insyaAllah siapa saja BISA! membuat tahu. (beneran deh, serius pasti BISA!)
Dan yang paling utama, makanan yang kita masak sendiri bisa lebih segar, lebih sehat, dan lebih murah.. Menarik kan?
Qatamea, 300610
Menjelang Maghrib


0 komentar:
Poskan Komentar