Lebih dari 50 mesjid tua di kota Kairo tercatat sebagai warisan kejayaan Islam, belum lagi mesjid lainnya yang tersebar di luar Kairo semakin menegaskan bahwa di bumi Mesir kejayaan Islam sempat mengalami masa keemasan dalam jangka waktu yang sangat panjang. Dari Masing-masing mesjid yang berada di Kairo tersimpan nilai sejarah dan daya tarik tersendiri untuk dikunjungi. Itulah sebabnya menjelajahi kota Kairo tak akan cukup hanya dalam satu hari, kemanapun anda melangkah bersiaplah untuk dibuatnya terpukau dengan maha karya seninman terdahulu.
Mengawali penjelajahan kita menuju menara-menara indah di Kairo, terlebih dulu yukk jejakan langkah di Fusthath, sebuah kota yang dahulunya merupakan ibu kota Mesir pertama (Misr al-Qadima) dan kini al Fusthath lebih dikenal dengan nama Old Cairo. Disinilah berdiri Mesjid Amr Bin Ash, yaitu mesjid tertua sekaligus perguruan pertama yang aktif dalam menyampaikan dakwah Islam sampai abad ke 9 M di di negeri ini.
Mesjid yang namanya dinisbahkan kepada pendirinya yaitu Amru bin Ash bin Wail bin Hasyim bin Said bin Saham, seorang pimpinan Arab yang dikenal telah menaklukkan Mesir dan membangun kota Fusthat. Ia digelari “pembebas Mesir” karena memiliki andil cukup besar dalam pembebaskan Mesir dari cengkeraman dua imperium besar di masa itu, yaitu Persia dan Romawi. Di Mesjid ini jugalah Imam mahzab fiqih yang termahsyur, Imam Syafi’i pernah mengajarkan ilmu kepada murid-muridnya. Dan hingga kini mesjid tertua ini masih kokoh berdiri.
Perjalanan berlanjut ke Mesjid Ibnu Thulun, Sebuah Masjid megah yang terletak di daerah Sayyidah Zainab dan merupakan masjid ketiga yang dibangun di Mesir setelah mesjid Amru Bin Ash.
Masjid yang dinisbahkan kepada pendirinya yang bernama Ahmad bin Thulun, pendiri Dinasti Thuluniyyah (868 – 905 M). Ia merupakan sosok raja yang sederhana dan dicintai rakyatnya
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa di antara sebab yang melatarbelakangi dibangunnya mesjid ini adalah, suatu hari Ibnu Thulun shalat Jum’at di Mesjid ‘Askar. Tiba-tiba para penduduk merasa tidak nyaman karena padatnya jamaah yang shalat disana. Banyak penduduk yang kemudian menyarankan Ibnu Thulun untuk membangun mesjid yang baru, karena mesjid yang ada sudah tidak muat lagi untuk shalat Jum’at. Sejak itu, Ibnu Thulun lalu berazam untuk membangun mesjid dengan namanya.
Mesjid yang memiliki keunikan karena tangga untuk menuju ke menaranya terdapat di luar termasuk mesjid yang nilai arsitektur dan bangunannya masih terjaga keasliannya, karena belum banyak mengalami renovasi berarti meskipun usianya sudah lebih dari 1100 tahun.
Setelah puas mengitari kemegahan Mesjid Ibnu Thulun, Mari kita lanjutkan penjelajahan ke Menara yang lain.
Di antara benteng peninggalan Dinasti Fatimiyyah yang hingga saat ini masih berdiri di antara adalah Pintu Zuwaelah (Baab Zuwaelah) yang terletak dekat Khan al-Khalili (merupakan sentra cendra mata khas mesir). Ia adalah pintu gerbang Kairo yang didirikan oleh seorang menteri pada dinasti Fatimiyyah yang bernama Badrul Jamaaly pada tahun 485 H (1092 M). Ini artinya, Pintu Zuwaelah hingga saat ini telah berusia 900 tahun lebih. Di atas pintu gerbang tersebut dibangun dua menara yang didirikan pada tahun 1441 M. Kedua menara yang menjulang berdampingan termasuk salah satu menara yang termegah di Kairo.
Badrul Jamaaly Sang pendiri Pintu Zuwaelah ini pada awalnya adalah seorang budak keturunan Armenia, namun ia memiliki kecerdasan dan keuletan sebagai ahli strategi perang yang pemberani. Karena kepiawaiannya inilah akhirnya mengantarkan dirinya menjadi salah satu menteri pada dinasti Fatimiyyah. Pemberian nama Pintu Zuwaelah tak lain karena nama “Zuwaelah” merupakan salah satu kabilah yang berada di Armenia, yang kemudian diberikan oleh Badrul Jamaaly pada pintu ini sesuai nama leluhurnya tersebut. Untuk masuk dan naik ke atas menara ini setiap pengunjung non Mesir hanya dikenakan tiket sebesar 15 Pound (Rp. 30.000)untuk umum dan 8 Pound (Rp.16.000) untuk pelajar atau mahasiswa
Tak Jauh dari Pintu Zuwaelah, berdiri sebuah mesjid yang dikenal sebagai Mesjid al Muayyad Sayikh. Bahkan kedua menara Pintu Zuwaelah berdiri tepat di atas mesjid tersebut. Mesjid yang dinisbahkan kepada pendirinya yakni al Muayyad Abu an Nasr Syaikh al Mahmuudy, yang didirikan pada tahun 1405-1410 M, merupakan seorang raja pada masa dinasti Mamalik (Mamluk) dan dikenal sebagai raja yang kenamaan.
Mesjid al Muayyad Sayikh, adalah sebuah mesjid yang bernilai seni tinggi yang dahulunya tidak hanya digunakan sebagai mesjid semata akan tetapi juga digunakan sebagai sekolah dan rumah tempat berkumpulnya para sufi, di mesjid ini pula diajarkan fiqih empat mahzhab yaitu, Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali.
Dan masih banyak menara-menara indah lainnya yang belum diceritakan, bersambung dulu ya…… Maklum Ibu Rumah Tangga jadi mau lanjut masak
. Salam
Oleh: Rina Saepulloh
Qatamea 100710
Ba’da Dzuhur



2 komentar:
Ass ww Rina, apa kabar?
Wah, saat ini tinggal di Mesir ya? Saya pernah ke Kairo tahun 2004, dan terkagum-kagum melihat peninggalan sejarah yang sangat kaya di Giza, Alexandria, dan Pyramid ...
Wa'alaikum salam, kabar baik mbak alhamdulillah
semoga mbak Tuti sekeluarga jg dalam keadaan sehat.
Oh ya? mbak pernah ke Kairo? mudah2an ada kesempatan kesini lagi ya mbak...
Poskan Komentar