<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8748359540503814505</id><updated>2011-10-17T11:28:28.013+02:00</updated><category term='Puisi'/><category term='Artikel'/><category term='All About Egypt'/><category term='Rekam'/><category term='My Slide Show Photograph'/><category term='Cerpen'/><category term='My Daily Life'/><category term='Renungan'/><category term='Jelajah'/><category term='Chicken Soup'/><title type='text'>.</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8748359540503814505/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Rina Saepulloh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01077798137474337093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/TDBAs7CkL0I/AAAAAAAAApA/CwzfYwwlYOg/S220/IMG_0193d.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>19</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8748359540503814505.post-1381718813610853639</id><published>2010-08-22T00:34:00.031+02:00</published><updated>2011-10-02T23:01:20.100+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Daily Life'/><title type='text'>Hangatnya Ramadhan Di Negeri Para Nabi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Melewati bulan ramadhan bersama keluarga tercinta di tanah air tentu satu hal yang paling diidam-idamkan oleh setiap orang, terutama bagiku yang Tahun ini kembali melewati Ramadhan ke-2 di Kairo, meski kali ini agak berbeda karena aku harus melalui bulan rahmat ini seorang diri tanpa suami apalagi keluarga, rasanya campur aduk deh, ada sedih ada haru tetapi juga ada nikmat yang luar biasa. Lho ditinggal suami kok nikmat sih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan.. pastinya bukan karena girang jauh dari orang-orang tercinta apalagi suami, tetapi ada kenikmatan tersendiri karena tahun ini aku kembali melalui Ramadhan di negeri-nya para Nabi. Rasanya ada atmosfer yang terasa amat berbeda dari ber’puasa di tanah air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ramadhan kareem..” “Ramadhan mubarak…” terdengar riuh begitu si Mesir saling berjumpa, saling menjabat erat bahkan saling memeluk dan mengecup dahi (sebuah tradisi arab bagi kaum laki-laki untuk menggambarkan rasa hormat dan kedekatan) dan mereka menjawab “Allahu akram..” dengan sepenuh suka cita.&lt;br /&gt;Ketika Ramadhan tiba, seantoero penduduk mesir seakan gempita menyambut bulan penuh kemuliaan ini. Mereka menyambut sebuah perayaan akbar yang begitu dinanti-nanti tiap tahunnya. Bulan yang berlimpah rahmat sekaligus penuh ampunan bagi umat Muslim di seluruh penjuru dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu sama lain saling menebar kehangatan, diiringi keriangan dan gelak tawa bocah Mesir sehangat gemerlap lampu-lampu fanus yang berpendar cantik di seluruh negeri Kinanah. Kota kairo yang selalu nampak indah kala malam, kian memesona tatkala Ramadhan hadir ditengah-tengah kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya tak satu pun umat muslim di bumi Mesir ini yang tak turut dalam kehangatan Ramadhan. Mengumpulkan pundi-pundi pahala dengan ibadah dan kebaikan. Lantunan Ayat-ayat qur’an kerap terdengar dimana-mana menggema dan mengisi setiap jiwa yang rindu curahan rahmatNya. Mushaf yang tak pernah lepas digenggam, dibaca dan dikaji oleh kaum muda maupun tua di waktu-waktu senggannya, mereka seolah tenggelam dalam kesyahduan Ramadhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibadah tarawih seakan menjadi pereda dari sebuah perjuangan panjang menahan penat sepanjang hari. Saat dimana syaraf-syaraf mengendur terbuai oleh kenikmatan meresapi kesyahduan 1 juz Ayat-ayat qur’an tiap malamnya yang dilantukan sang imam mesjid. Tak jarang, banyak jemaah shalat sembari membuka mushaf, mengikuti Imam menyendandungkan ayat demi ayat. Dari shalat tarawih di malam pertama hingga malam terakhir bulan ramadhan, mesjid manapun selalu dipadati oleh para jemaah. Jangan bandingkan dengan shalat tarawih di tanah air yang umumnya (ini umumnya lho, berarti tidak semua) kita mencari mesjid yang bacaannya pendek-pendek dan cepat, alasannya ya karena capek, ngantuk, atau ada keperluan yang lebih mendesak lainnya. Dan biasanya kian hari mesjid pun semakin lengang ditinggalkan jemaahnya, mereka lebih memilih bertarawih di rumah atau malah di mall dan pusat perbelanjaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya dilalui dengan mengkhususkan pada puasa, shalat tarawih dan mengkaji al Qur’an. Setiap orang berlomba-lomba menebar semangat berbagi. Berinfak sedekah mendermakan tenaga maupun hartanya untuk sesama. Percayalah berpuasa di negeri ini tak kan pernah kekurangan apapun. Tak perlu bingung mau makan apa atau direpotkan oleh acara memasak penganan buka puasa, datangi saja Maidaturrahman yang digelar di seluruh penjuru negeri, dan biasanya diselenggarakan di mesjid-mesjid, tepian jalan, bahkan rumah warga Mesir yang menyediakan hidangan berbuka sekaligus sahur. Maidaturrahman ini tak lain merupakan sumbangan dari para dermawan Mesir juga hartawan di timur tengah yang berupa hidangan berbuka/sahur sebagai bentuk kepedulian kepada sesama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan tanpa harus datang ke maidaturrahman pun seringkali penganan berbuka sudah ada ditangan. Ajaib?? Tidak, tetapi Subhanallah… kemurahan hati orang Mesir ketika Ramadhan begitu luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah satu ketika, menjelang maghrib di Ramadhan tahun lalu, saat aku dan suami tengah menunggu bis di sebuah halte dikagetkan oleh kehadiran orang Mesir dengan 2 kotak penganan berbuka berisi ayam, roti, lengkap dengan juice yang diberikannya kepada kami berdua…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau tiba-tiba taksi kami dicegat oleh seorang pemuda, sembari memberikan beberapa buah kurma atau segelas tamer untuk membuka puasa kami dalam perjalan. Awalnya sempat terbengong-bengong dengan aksi berbagi warga Mesir, terus terang hal ini tak pernah kualami di tanah air. Disini mendapati pemandangan muda-mudi yang berkeliaran di jalan menjelang berbuka sambil membagi-bagikan makanan, sembako dll sudah sangat biasa, tanpa harus diorganisir oleh event-event tertetu. Tetapi bergerak atas kesadaran pribadi, karena semangat Ramadhan adalah semangat berbagi yang sudah tertanam dalam diri mereka yang mengakar dan membudaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jangan tanya berapa banyak sembako yang kami miliki dirumah, sampai kami pun bingung sendiri mengolah sembako hasil sumbangan dari para dermawan Mesir ini. Dalam 1 minggu bisa sampai 1-2 kali, bahkan lebih kami mendapat sumbangan sembako. Ketika sumbangan-sumbangan ini mampu menjadi penyambung hidup untuk beberapa bulan kedepan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhanallah, Ramadhan memang selalu penuh berkah, tentunya yang paling merasakan berkah ini adalah kaum dhuafa dan para pencari ilmu seperti kami yang selalu menjadi prioritas bagi para dermawan dalam meneladani kedermawanan seperti yang dilakukan oleh Baginda Rasulullah saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramadhan Kareem…&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8748359540503814505-1381718813610853639?l=rinasaepulloh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/feeds/1381718813610853639/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/2010/08/hangatnya-ramadhan-di-negeri-para-nabi.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8748359540503814505/posts/default/1381718813610853639'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8748359540503814505/posts/default/1381718813610853639'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/2010/08/hangatnya-ramadhan-di-negeri-para-nabi.html' title='Hangatnya Ramadhan Di Negeri Para Nabi'/><author><name>Rina Saepulloh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01077798137474337093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/TDBAs7CkL0I/AAAAAAAAApA/CwzfYwwlYOg/S220/IMG_0193d.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8748359540503814505.post-7851001023276909988</id><published>2010-07-10T17:28:00.012+03:00</published><updated>2010-07-11T12:21:21.980+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jelajah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='All About Egypt'/><title type='text'>Menjelajahi Menara-Menara Indah Di Bumi Mesir (Bag 1)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/TDjMXWamk9I/AAAAAAAAAqg/HTq9qoL-vnM/s1600/24a.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 336px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/TDjMXWamk9I/AAAAAAAAAqg/HTq9qoL-vnM/s400/24a.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5492364447104537554" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Jika dunia menjuluki Mesir sebagai negeri seribu menara, memang tidaklah salah. Kenyataan ini dapat anda temukan ketika berada di sebuah tempat yang sangat tinggi menyaksikan sekeliling Kairo dengan mata telanjang. Hamparan mesjid yang menjulang megah nan elok berbalut pesona kota tua sanggup memanjakan setiap mata yang memandang. Kentalnya athmosfer timur tengah semakin terasa tatkala  lantunan adzan berkumandang di antara menara-menara berseni arsitektur tinggi yang saling bersahutan menyeru setiap muslimin dan muslimat untuk bergegas menunaikan kewajibannya. Mesir yang eksotis, dan penduduknya yang religius telah menjadi saksi penyimpan kekayaan sejarah peradaban islam di masa silam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;Lebih dari 50 mesjid tua di kota Kairo tercatat sebagai  warisan kejayaan Islam, belum lagi mesjid lainnya yang tersebar di luar Kairo semakin menegaskan bahwa  di bumi Mesir kejayaan Islam sempat mengalami masa keemasan dalam jangka waktu yang sangat panjang. Dari Masing-masing mesjid yang berada di Kairo tersimpan nilai sejarah dan daya tarik tersendiri untuk dikunjungi. Itulah sebabnya menjelajahi kota Kairo tak akan cukup hanya dalam satu hari, kemanapun anda melangkah bersiaplah untuk dibuatnya terpukau dengan maha karya seninman terdahulu.&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/TDiEGz9poXI/AAAAAAAAAp4/KAMauEm6VGs/s1600/04.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 115px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/TDiEGz9poXI/AAAAAAAAAp4/KAMauEm6VGs/s200/04.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5492284998141190514" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Mengawali penjelajahan kita menuju menara-menara indah di Kairo, terlebih dulu yukk jejakan langkah di Fusthath, sebuah kota yang dahulunya merupakan ibu kota Mesir pertama (Misr al-Qadima) dan kini al Fusthath lebih dikenal dengan nama Old Cairo. Disinilah berdiri Mesjid Amr Bin Ash, yaitu mesjid tertua sekaligus perguruan pertama yang aktif dalam menyampaikan dakwah Islam sampai abad ke 9 M di di negeri ini.&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;Mesjid yang namanya dinisbahkan kepada pendirinya yaitu Amru bin Ash bin Wail bin Hasyim bin Said bin Saham, seorang pimpinan Arab yang dikenal telah menaklukkan Mesir dan membangun kota Fusthat.  Ia digelari  “pembebas Mesir” karena memiliki andil cukup besar dalam pembebaskan Mesir dari cengkeraman dua imperium besar di masa itu, yaitu Persia dan Romawi. Di Mesjid ini jugalah Imam mahzab fiqih yang termahsyur, Imam Syafi’i pernah mengajarkan ilmu kepada murid-muridnya. Dan hingga kini mesjid tertua ini masih kokoh berdiri.&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/TDiEbmGSfQI/AAAAAAAAAqA/WBnwW_iEjqo/s1600/01.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 150px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/TDiEbmGSfQI/AAAAAAAAAqA/WBnwW_iEjqo/s200/01.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5492285355196579074" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Perjalanan berlanjut ke Mesjid Ibnu Thulun, Sebuah Masjid megah yang terletak di daerah Sayyidah Zainab dan merupakan masjid ketiga yang dibangun di Mesir setelah mesjid Amru Bin Ash.&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;Masjid yang dinisbahkan kepada pendirinya yang bernama Ahmad bin Thulun, pendiri Dinasti Thuluniyyah (868 – 905 M). Ia merupakan sosok raja yang sederhana dan dicintai rakyatnya&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa di antara sebab yang melatarbelakangi dibangunnya mesjid ini adalah, suatu hari Ibnu Thulun shalat Jum’at di Mesjid ‘Askar. Tiba-tiba para penduduk merasa tidak nyaman karena padatnya jamaah yang shalat disana. Banyak penduduk yang kemudian menyarankan Ibnu Thulun untuk membangun mesjid  yang baru, karena mesjid yang ada sudah tidak muat lagi untuk shalat Jum’at. Sejak itu, Ibnu Thulun lalu berazam untuk membangun mesjid dengan namanya.&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;Mesjid yang memiliki keunikan karena tangga untuk menuju ke menaranya terdapat di luar termasuk mesjid yang nilai arsitektur dan bangunannya masih terjaga keasliannya, karena belum banyak mengalami renovasi berarti meskipun usianya sudah lebih dari 1100 tahun.&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;Setelah puas mengitari kemegahan Mesjid Ibnu Thulun, Mari kita lanjutkan penjelajahan ke Menara yang lain.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/TDiFD5B6HNI/AAAAAAAAAqQ/C1gK4bnuxBE/s1600/02.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 150px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/TDiFD5B6HNI/AAAAAAAAAqQ/C1gK4bnuxBE/s200/02.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5492286047473245394" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Di antara benteng peninggalan Dinasti Fatimiyyah yang hingga saat ini masih berdiri di antara  adalah Pintu Zuwaelah (Baab Zuwaelah) yang terletak dekat Khan al-Khalili (merupakan sentra cendra mata khas mesir). Ia adalah pintu gerbang Kairo yang didirikan oleh seorang menteri pada dinasti Fatimiyyah yang bernama Badrul Jamaaly pada tahun 485 H (1092 M). Ini artinya, Pintu Zuwaelah hingga saat ini telah berusia 900 tahun lebih. Di atas pintu gerbang tersebut dibangun dua menara yang didirikan pada tahun 1441 M. Kedua menara yang menjulang berdampingan termasuk salah satu menara yang termegah di Kairo.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;Badrul Jamaaly Sang pendiri Pintu Zuwaelah ini pada awalnya adalah seorang budak keturunan Armenia, namun ia memiliki kecerdasan dan keuletan sebagai ahli strategi perang yang pemberani. Karena kepiawaiannya inilah akhirnya mengantarkan dirinya menjadi salah satu menteri pada dinasti Fatimiyyah. Pemberian nama Pintu Zuwaelah tak lain karena nama “Zuwaelah” merupakan salah satu kabilah yang berada di Armenia, yang kemudian diberikan oleh Badrul Jamaaly pada pintu ini sesuai nama leluhurnya tersebut. Untuk masuk dan naik ke atas menara ini setiap pengunjung non Mesir hanya dikenakan tiket sebesar 15 Pound  (Rp. 30.000)untuk umum dan 8 Pound (Rp.16.000) untuk pelajar atau mahasiswa&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/TDiFZIkHhfI/AAAAAAAAAqY/99uhkVoGEOI/s1600/sd.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 145px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/TDiFZIkHhfI/AAAAAAAAAqY/99uhkVoGEOI/s200/sd.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5492286412420515314" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;Tak Jauh dari Pintu Zuwaelah, berdiri sebuah mesjid yang dikenal sebagai Mesjid al Muayyad Sayikh. Bahkan kedua menara Pintu Zuwaelah berdiri tepat di atas mesjid tersebut. Mesjid yang dinisbahkan kepada pendirinya yakni al Muayyad Abu an Nasr Syaikh al Mahmuudy, yang didirikan pada tahun 1405-1410 M, merupakan seorang raja pada masa dinasti Mamalik (Mamluk) dan dikenal sebagai raja yang kenamaan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;Mesjid al Muayyad Sayikh, adalah sebuah mesjid yang bernilai seni tinggi yang dahulunya tidak hanya digunakan sebagai mesjid semata akan tetapi juga digunakan sebagai sekolah dan rumah tempat berkumpulnya para sufi, di mesjid ini pula diajarkan fiqih empat mahzhab yaitu, Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;Dan masih banyak menara-menara indah lainnya yang belum diceritakan, bersambung dulu ya…… Maklum Ibu Rumah Tangga jadi mau lanjut masak  &lt;img src="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif" alt=":D" class="wp-smiley" /&gt; . Salam&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;Oleh: Rina Saepulloh&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;Qatamea 100710&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;Ba’da Dzuhur&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8748359540503814505-7851001023276909988?l=rinasaepulloh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/feeds/7851001023276909988/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/2010/07/menjelajahi-menara-menara-indah-di-bumi.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8748359540503814505/posts/default/7851001023276909988'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8748359540503814505/posts/default/7851001023276909988'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/2010/07/menjelajahi-menara-menara-indah-di-bumi.html' title='Menjelajahi Menara-Menara Indah Di Bumi Mesir (Bag 1)'/><author><name>Rina Saepulloh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01077798137474337093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/TDBAs7CkL0I/AAAAAAAAApA/CwzfYwwlYOg/S220/IMG_0193d.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/TDjMXWamk9I/AAAAAAAAAqg/HTq9qoL-vnM/s72-c/24a.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8748359540503814505.post-3059550459203794237</id><published>2010-06-30T18:46:00.039+03:00</published><updated>2010-07-06T13:25:49.707+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Daily Life'/><title type='text'>CINTA DALAM SEPOTONG TAHU</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dua hari ini kami seperti tengah bersuka ria merayakan sebuah kemenangan, lho memangnya kenapa Rin? Apa karena tim andalan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;FIFA WC 2010 &lt;/span&gt;masuk babak 16 besar? Layaknya suka cita yang dirasakan  teman-teman lain yang begitu gegap gempita menyongsong kemenangan demi kemenangan dari tim kesayangannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Ahhh bukan itu, jujur saja kami berdua memang tidak menonton &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:trebuchet ms;" &gt;euforia'&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;nya Piala Dunia 2010. Bukan karena tidak suka atau tidak sempat. Tapi di Tv kami memang tak ada Chanel yang menayangkan perhelatan akbar yang paling dinanti-nanti oleh jutaan penonton di seluruh penjuru dunia. Jadinya kami cuma bisa gigit jari sembari menunggu &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:trebuchet ms;" &gt;update&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;'an dari hasil pertandingan. Meski baru tadi sore kami tahu kalau sebetulnya kami bisa juga nonton &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;" &gt;LIVE World Cup&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt; 2010&lt;/span&gt; di internet (telat!). Tapi yahh sudahlah, &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;better late than never&lt;/span&gt; kalau kata orang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Oke kembali lagi ke pertanyaan di atas. Apa pasalnya yang membuat aku dan suami begitu bersuka cita dua hari ini?. Baiklah, kuberitahu alasannya. Semua itu karena “TAHU”, eits bukan “tahu” yang bersinonim dengan kata “paham” ya, melainkan “tahu” sejenis penganan berprotein tinggi dan berbahan dasar kacang kedelai (soya) yang difermentasikan dan kemudian diambil sarinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Lalu apa hubungannya tahu dengan bersuka ria? Kok bisa tahu berpengaruh pada kebahagiaan seseorang? Apa tahu juga memiliki formula seperti coklat yang konon mampu merangsang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;font-family:trebuchet ms;" &gt;endorphin&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; (sejenis senyawa kimiawi yang dikeluarkan oleh “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;" &gt;Kelenjar Pituitaria”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;) dan mampu membuat efek bahagia bagi siapa saja yang menkonsumsinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dan tentu saja bukan, sejak kapan tahu memiliki efek analgesik atau penenang bagi Si pengkonsumsi?? yang pasti sih kalau memberi efek mengenyangkan dan menyehatkan, memang iya (semua orang juga tauuu Rina..)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Begini ceritanya, berawal dari kegemaran kami menyantap tahu, rasanya ingin sekali bisa mengkonsumsi makanan ini setiap hari. Sayangnya sejak hijrahnya kami ke Mesir dengan sangat berat hati kami pun harus rela mengkonsumsi tahu sedikitnya hanya 1 bulan sekali. Lho bukannya saat ini sudah banyak temen-temen mahasiswa yang memproduksi tahu? Harusnya bisa dengan mudah mendapatkan penganan yang awalnya berasal dari negeri China ini kan??&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Ya, betul sekali. Mungkin bagi temen-temen yang tinggal di kawasan Nasr City akan relatif lebih mudah untuk memperoleh tahu, karena sudah banyak dijual di &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;" &gt;mat'am-mat'am&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; (restaurant) Indonesia. Tapi, bagi kami yang tinggal di daerah agak menjauh dari Nasr City tentunya dengan terpaksa harus menahan keinginan bersantap tahu sesering mungkin. Namun setidaknya 1 bulan 1 kali kami menyempatkan diri memburunya di Hay Asyir, itu juga kalau beruntung dan tak kehabisan. Atau ketika tiba-tiba dapat kiriman tahu dari mbak Mira seorang sahabat Ma'adi kami, barulah kami dapat tersenyum dengan lebar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Di Kairo, tahu adalah makanan yang teramat sangat istimewa. Bahkan teman-teman mahasiswa membandrol 1 keratnya dengan harga 5 s/d 6 Pound atau berkisar Rp. 10.000, yahh cukup mahal kalau dibandingkan dengan harga Indonesia, makanya tak heran kalau di negeri kita tahu dan tempe diyakini sebagai makanan paling murah meriah sekaligus menyehatkan, malah  khasiatnya disebut-sebut mampu mengalahkan ekslusifitas &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;" &gt;“daging dan telur” &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;sebagai penyuplai protein bagi tubuh manusia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Walaupun ketika di Indonesia tahu kerapkali dianggap tak istimewa, namun akan berbeda ceritanya ketika semua serba terbatas. Alhasil yang susah-susah macam beginilah pada akhirnya menjadi prioritas pertama. Saking istimewanya, aku dan suami sampai harus mengeluarkan jurus-jurus kecepatan tangan sebagai senjata pamungkas ketika 1 potong tahu tersisa di atas piring. (ah rina mulai deh hiperbolisnya :p)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Nahh, karena alasan inilah yang ujung-ujungnya menginspirasi kami untuk membuat tahu sendiri. Jadi teringat pepatah seorang teman kuliah dulu ketika sedang mepet -mepetnya dikejar &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;font-family:trebuchet ms;" &gt;deadline,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; bahwa "kreatifitas muncul di detik-detik terakhir." Hmm, kurasa banyak betulnya juga ya. &lt;/span&gt;&lt;img src="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif" alt=":D" class="wp-smiley" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dan inilah hasilnya, dua hari kemarin akhirnya kami berhasil membuat tahu sendiri, setelah sekian lama berkutat mantengin &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;font-family:trebuchet ms;" &gt;Youtube&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; dan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;font-family:trebuchet ms;" &gt;sharing&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; sana sini seputar memproduksi tahu ala &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;font-family:trebuchet ms;" &gt;home industry&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;, termasuk bertanya resep pada sesuhu FOSQI tercinta (syukran untuk Ummu Ahmad atas sharing resepnya &lt;/span&gt;&lt;img src="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif" alt=":D" class="wp-smiley" /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Setelah dengan seksama mengikuti tahap demi tahap cara membuat tahu hanya dengan peralatan  alakadarnya, juga disertai harap-harap cemas layaknya mahasiswa/i yang tengah menunggu hasil ujian, dan.. wala.. berhasil ! Kebayang kan gimana senangnya? Jingkrak kegirangan mewarnai keberhasilan produksi tahu perdana kami. Entahlah mungkin kebetulan atau memang takarannya juga kebetulan benar &lt;/span&gt;&lt;img src="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif" alt=":D" class="wp-smiley" /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;. Tapi sudahlah tak perlu diperpanjang lagi, yang jelas dua kali memproduksi dan dua kali itu pula alhamdulillah nya LULUS.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Yang paling bersuka cita tentu saja suamiku tercinta, saking ngefansnya sama tahu beliau sampai rela meninggalkan buku-bukunya demi beralih profesi menjadi Sang &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Eksekutor&lt;/span&gt; alias sebagai staff ahli potong-memotong tahu. Dan bisa ketebak donk, dua hari berturut-turut menu makan pagi sampai malam semuanya bernuansa tahu tanpa ada aksi saling lirik penuh kelicikan untuk memperebutkan satu potong tahu disuapan terakhir kami. Tetapi selalu ada cinta dalam sepotong tahu &lt;/span&gt;&lt;img src="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif" alt=":D" class="wp-smiley" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Ternyata membuat tahu sendiri mudah juga (eitss gaya atau mau sombong nih rin?) Hihi bukan gitu, tapi betul ko. Yahh prosesnya memang agak panjang tapi berbekal semangat dan keyakinan penuh insyaAllah siapa saja BISA! membuat tahu. (beneran deh, serius pasti BISA!)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dan yang paling utama, makanan yang kita masak sendiri bisa lebih segar, lebih sehat, dan lebih murah.. Menarik kan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Qatamea, 300610&lt;br /&gt;Menjelang Maghrib&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/TCuRg7u2qjI/AAAAAAAAAoA/jhaeYNgk2U4/s1600/IMG_1324.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 200px; height: 170px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/TCuRg7u2qjI/AAAAAAAAAoA/jhaeYNgk2U4/s200/IMG_1324.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5488640565857135154" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/TCt2cgwN1sI/AAAAAAAAAn4/TB1gxFA3cHQ/s1600/IMG_1319.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 200px; height: 171px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/TCt2cgwN1sI/AAAAAAAAAn4/TB1gxFA3cHQ/s200/IMG_1319.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5488610803081664194" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8748359540503814505-3059550459203794237?l=rinasaepulloh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/feeds/3059550459203794237/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/2010/06/cinta-dalam-sepotong-tahu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8748359540503814505/posts/default/3059550459203794237'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8748359540503814505/posts/default/3059550459203794237'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/2010/06/cinta-dalam-sepotong-tahu.html' title='CINTA DALAM SEPOTONG TAHU'/><author><name>Rina Saepulloh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01077798137474337093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/TDBAs7CkL0I/AAAAAAAAApA/CwzfYwwlYOg/S220/IMG_0193d.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/TCuRg7u2qjI/AAAAAAAAAoA/jhaeYNgk2U4/s72-c/IMG_1324.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8748359540503814505.post-6158425533953574043</id><published>2010-06-30T02:47:00.043+03:00</published><updated>2010-07-02T13:58:37.353+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Daily Life'/><title type='text'>KOK NGGAK PERNAH NULIS LAGI??</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/TCqG3cXw0fI/AAAAAAAAAno/YNgLboEvLdM/s1600/reena.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/TCqG3cXw0fI/AAAAAAAAAno/YNgLboEvLdM/s200/reena.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5488347382971159026" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“Kok nggak pernah nulis lagi??”&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;seringkali pertanyaan ini terlontar dari mulut suamiku dengan tatapan mata menyelidik, tatkala mendapati sang istri tengah asik ber-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;FB&lt;/span&gt; ria dan sibuk berselancar dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;update&lt;/span&gt;'an status orang lain (nampak diriku ini kurang kerjaan sekali). Pertanyaan-pertanyaan serupa juga kerap kudengar dari beberapa teman yang lain, sampai tadi sore pertanyaan itu pun kembali menggugah &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;"hasrat menulis" &lt;/span&gt;yang sudah saaangat lama mengendap dan mungkin hampir terkubur terlupakan (ohh tidaaak, jangan sampai deh rin).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Tentunya masih jauh lebih baik mereka yang setiap detik meng'&lt;span style="font-style: italic;"&gt;update &lt;/span&gt;statusnya dengan macam-macam cerita. Karena disadari atau tidak, dengan otomatis mereka melatih kreatifitas berpikir juga koordinasi antara isi kepala dan tangan. Lha aku? Jangankan merangkai kata minimal hanya dalam beberapa paragraf, menulis status pun hampir tak berselera.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Jujur, 2 tahun lebih kedua tangan ini seperti enggan bermain-main  dengan pena (halah rin, hari  gini masih juga pakai pena). Aah Rina, ini kan cuma perumpamaan maksudnya kutak-ketik di atas keyboard alias tulis menulis. Isi kepala  rasanya mandek tak ber'ide, kok kayaknya tak ada lagi cerita yang bisa kukembangkan. Hmm.. alesan :p&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Yahh, akhir-akhir ini aktifitas menulis memang tak lagi menjadi rutinitas seperti dulu untuk meluapkan segala isi hati dan kepala, paling sesekali kalau kepepet harus menulis materi untuk kajian (itu pun baru sekarang-sekarang). Sebelumnya? Wahh jangan tanya deh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Sebetulnya keinginan menulis itu seringkali mencuat tiba-tiba, dan dengan kekuatan penuh aku pun mulai mematut-matut diri di depan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;screen laptop&lt;/span&gt;, dengan jemari siap sedia menerjemahkan sebuah gagasan dan merangkainya dalam 1 layer kosong &lt;span&gt;di&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Microsoft Words&lt;/span&gt;. Tapi tak lebih dari itu, selebihnya hanya terdiam, termenung dan melongo tak menghasilkan apa-apa. Ujung-ujungnya ya lari ke &lt;span style="font-style: italic;"&gt;FB&lt;/span&gt; hingga berrjam-jam (kebiasaan yang buruk).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Suamiku yang tak pernah bosannya memotivasi sepertinya cuma bisa ngelus dada kalau sudah begini, sembari sesekali &lt;span style="font-style: italic;"&gt;menyentil&lt;/span&gt; kebiasaan burukku melongo nggak jelas di depan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;FB&lt;/span&gt; :D&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; yahh yahh yahhh...&lt;span style="font-style: italic;"&gt;FB&lt;/span&gt; memang luarrr biasa (lha rina, kok ya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;FB&lt;/span&gt; yang dijadikan Si tertuduh)&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dan memang betul ketika ada ide dan cerita, seketika itu pula harus langsung dituangkan. Karena kalau dinanti-nanti maka “BLASS” lupa deh semuanya, alhasil 1 cerita pun gak pernah berhasil digarap. Nahh kasus ini lah yang paling sering terjadi, makanya blog'ku yang malang ini kerapkali sepi cerita, sebab musabanya tak lain ya karena ulah si &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;"M" &lt;/span&gt;ini, alias faktor &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;"males" &lt;/span&gt;yang terlalu mendominasi (alasannya cukup masuk akal bukan? :P)&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Ayolah Rina.. Ini Mesir, negeri yang maha kaya warisan peradaban dan budaya. Sebuah dunia yang  selalu menawarkan  beragam keunikan, kehidupannya, juga kesehariannya. Sudah tentu di sinilah surga bagi para perangkai kata. Banyak penulis besar terlahir di sini, jangan selalu jadikan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“nggak ada ide”&lt;/span&gt; sebagai alasan yang memasung kamu untuk bercerita, dan tulis apa saja yang ada dikepalamu saat ini. Bukannya tadi  sore habis bikin tahu? Kenapa nggak dijadikan ide untuk sebuah cerita? Apa karena terlalu sederhana?.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Ahh Rina.. Mulailah dari sesuatu yang sederhana, tak perlu dulu berangan-angan terlalu jauh, berharap menjadi kang Abik dengan karya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;masterpiece&lt;/span&gt;' sekelas novel Ayat-ayat Cinta. Yang jelas kamu tak akan pernah menjadi seperti beliau hanya dengan menunggu wangsit. Paling tidak awali dengan menuangkan apa yang terjadi hari ini, buka khayalanmu untuk menjelajahi seantero negeri fir'aun ini dan biasakan jemarimu untuk bermain-main dengan untaian kata. Gimana rin..????&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dan jawabannya adalah.. &lt;span style="font-size:130%;"&gt;Semangaaat!!!!!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Qatamea, 300610&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;-menjelang shubuh-&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;(Terimakasih untuk mbak Ventin, yang hari ini kembali mengingatkan untuk rajin2 menulis...matur nuwun sanget mbak... ^^&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8748359540503814505-6158425533953574043?l=rinasaepulloh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/feeds/6158425533953574043/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/2010/06/kok-ngga-pernah-nulis-lagi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8748359540503814505/posts/default/6158425533953574043'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8748359540503814505/posts/default/6158425533953574043'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/2010/06/kok-ngga-pernah-nulis-lagi.html' title='KOK NGGAK PERNAH NULIS LAGI??'/><author><name>Rina Saepulloh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01077798137474337093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/TDBAs7CkL0I/AAAAAAAAApA/CwzfYwwlYOg/S220/IMG_0193d.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/TCqG3cXw0fI/AAAAAAAAAno/YNgLboEvLdM/s72-c/reena.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8748359540503814505.post-8518821557929030937</id><published>2010-06-25T12:39:00.008+03:00</published><updated>2010-06-29T11:51:24.393+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='All About Egypt'/><title type='text'>SAYYIDAH NAFISAH</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/TCSRBE9A2pI/AAAAAAAAAng/-kesFCrr1sg/s1600/IMG_0193s.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 178px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/TCSRBE9A2pI/AAAAAAAAAng/-kesFCrr1sg/s200/IMG_0193s.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5486669693739653778" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Berkunjung ke Mesir tentu belum lah lengkap apabila belum menziarahi maqam para ahlul bait. Bumi Mesir diberi kelebihan oleh Allah swt, yang diantaranya kita kenal sebagai negerinya para anbiya, negerinya orang-orang shaleh dan juga bumi para ahlul bait daripada Baginda nabi kita, Rasulullah saw. Salah satu di antara keistimewaan yang dimiliki oleh bumi kinanah ini adalah dengan disemayamkannya jasad Sayyidah Nafisah r.anha seorang Ahlul Bait yang dikenal kezuhudannya dan ketaatannya kepada Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Sayyidah Nafisah tentu sudah tidak asing lagi bagi umat Islam di Mesir ini. Mesjid beliau yang terletak berdekatan dengan benteng Salahudin Al-Ayyubi, di Kairo. Ini menjadi saksi betapa cintanya umat Islam kepada beliau yang setiap tanggal 9 Jamadilakhir umat Islam akan berkumpul di perkarangan mesjidnya untuk merayakan maulid beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak jauh dari mesjid Sayyidah Nafisah, terdapat juga beberapa maqam Ahlul Bait Nabi dan ulama yang lain antaranya Sayyidah Sukainah binti Saidina Husein, Sayyidah Ruqayah binti Saidina Ali, bapak dari saudaranya Sayyid Muhammad Al-Anwar dan pengarang kitab "Tafsir Mimpi" Imam Ibnu Sirin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyidah Nafisah dikenal sebagai seorang serikandi yang berani dan terkenal karena kehebatan ilmunya yang tinggi hingga Ia diberi gelar sebagai “Ummul ‘Ulum” (ibu sekalian ilmu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyidah Nafisah adalah seorang yang sangat kuat beribadah kepada Allah. Siang hari dia berpuasa&lt;br /&gt;sunat sedangkan pada malamnya Ia bertahajjud dan senantiasa menghidupkan malam dengan berzikir dan membaca Al Quran. Sayyidah Nafisah merupakan sosok yang zuhud dengan kehidupannya. Disamping itu Sayyidah Nafisah sangat taatkan suaminya. Beliau sangat mematuhi perintah suami dan melayani suaminya dengan sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sayyidah Nafisah Berasal Dari Keturunan Mulia&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nafisah binti Sayyid Hasan al-Anwar bin Saidina Zaid al Abaj bin Saidina Hasan bin Saidina Ali bin Abi Talib, menantu dari Rasulullah saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nafisah” diambil dari kalimah "an-nafasah" yang diartikan kemuliaan atau ketinggian sesuatu. Beliau sangat mirip dengan Ibu dari saudara sebelah ayahnya yang bernama Sayyidah Sukainah al-Kubra binti Zaid r.anhum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau adalah putri dari Sayyid Hasan al-Anwar yang diberi gelar “al-Anwar” yaitu yang bercahaya, karena wajahnya yang selalu memancarkan cahaya, ini menandakan ibadahnya yang kuat dan ikhlas kepada Allah. Beliau dilantik oleh Khalifah Jaafar al-Mansur sebagai gabernur Madinah al-Munawarah pada tahun 150 hijriyyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyidah Nafisah dilahirkan di Mekah tanggal 11 Rabiul Awal tahun 145 hijriyyah. Beliau dibesarkan di Madinah karena ayahanya yang seorang gubernur. Sejak kecil disamping gemar menziarahi makam Nabi saw, beliau juga suka membaca al-Quran dan bershalawat kepada Nabi Muhammad saw. Hingga pada suatu masa, ketika usia Sayyidah Nafisah menginjak beberapa tahun, ayahnya membawa beliau menuju ke ruang disemayamkannya jasad Rasulullah s.a.w di Raudah, Madinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ayahannya berkata, "Ya Rasulullah! Ridhailah anak perempuanku yang aku namakan Nafisah ini." Lalu pada satu malam ayahanya bermimpi bertemu Rasulullah saw lalu Baginda bersabda, "Wahai Hasan! Sesungguhnya aku telah meridhai anakmu yang juga zuriatku, Nafisah dan Allah swt juga meridhainya dengan sebab ridha aku kepadanya".&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Sayyidah Nafisah Dengan Sayyidi Ishaq al-Mu'taman&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyidah Nafisah menikah dengan sepupu beliau yang merupakan keturunan dari Sayyidina Husein, yaitu Sayyidi Ishaq al-Mu'taman bin Saidina Jaafar As-Sodiq bin Saidina Muhammad al-Baqir bin Saidina Ali Zainal Abidin bin Saidina Husain bin Saidina Ali, menantu dari Rasulullah saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ishak al-Mu'taman diberi gelar sebagai "al-Mu'taman" karena beliau adalah seorang yang sangat amanah dan kuat imannya. Beliau merupakan kakak kandung Sayyidah Aisyah (merupakan ahlul bait yang juga dikebumikan di bumi Mesir). Awalnya Sayyidi Ishaq al-Mu'taman datang melamar kepada ayah sayyidah Nafisah yaitu Sayyidi Hasan al-Anwar. Setelah ayahnya menyampaikan kepada Sayyidah Nafisah, Sayyidah Nafisah menolak. Ia tidak bermaksud untuk menikah dengan siapapun, karena khawatir dengan menikah 'hubungan mesra' nya dengan Allah menjadi terganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Ishak al-Mu'taman segera berangkat ke Madinah. Ia lalu berziarah ke makam Rasulullah saw, dan menyampaikan kepada Rasulullah saw bahwasannya ia bermaksud menikahi Sayyidah Nafisah. Akhirnya Hasan al-Anwar, ayah dari Sayyidah Nafisah, bermimpi bertemu Rasulullah saw. Dalam mimpinya itu, Rasulullah saw meminta agar Hasan al Anwar menikahkan putrinya Sayyidah Nafisah dengan Ishak al-Mu'taman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya mimpinya itu disampaikan kepada Sayyidah Nafisah. Begitu mendengar bahwa Rasulullah saw yang memintanya, akhirnya Sayyidah Nafisah pun mau untuk dinikahkan dengan Ishak al-Mu'tamin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala Sayyid Hasan Al-Anwar meninggalkan jabatannya sebagai gubernur Madinah, ia pun diganti oleh menantunya Sayyid Ishaq Al-Mu'taman sebagai gubernur khilafah Abbasiyah. Beliau menikah pada hari Jumaat 5 Rajab tahun 161 hijriyyah dan dikaruniai putra putri bernama Qasim dan Ummu Kulthum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ketaatan Sayyidah Nafisah Dalam Beribadah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyidah Nafisah dikenal sebagai sosok yang gemar sekali membaca al-Quran, Ia juga kuat berpuasa sunat di siang hari, tidak pernah lepas dari shalat tahajud pada malamnya. Diriwayatkan oleh Sayyidah Zainab binti Sayyid Yahya yang juga puteri dari saudaranya, beliau berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku telah berkhidmat kepada Ibu saudaraku (Saudara sebelah ayah), Sayyidah Nafisah selama 40 tahun. Aku tidak pernah lagi melihat Sayyidah Nafisah tidur pada siang dan malam kecuali karena darurat (terpaksa), kerana sibuk dengan ibadah. Beliau juga sentiasa berpuasa kecuali dua hari raya dan hari tasyriq. Lalu aku bertanya kepadanya, “Wahai Ibu saudaraku! Tidakkah kau berasa lelah dan mengaasihani tubuhmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas beliau berkata, “Bagaimana aku mampu mengasihani diriku sedangkan dihadapanku azab Allah sedang menanti. Tiada siapapun yang dapat mengelak daripadanya kecuali orang-orang yang beruntung.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan Sayyidah Nafisah telah melaksanakan haji sebanyak 30 kali dan beliau pergi dengan berjalan kaki. Beliau selalu berdoa sambil menangis di sisi Kabah “Tuhan ku! Penciptaku! Penolongku! Berikanlah kegembiraan kepadaku dengan ridha-Mu kepadaku. Janganlah diriku ini menjadi sebab penghalang (hijab) antara Kau dan aku. Tuhanku! Permudahkanlah aku menziarahi kubur kekasih-Mu, Ibrahim (yaitu Mekah)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun dikenal dengan kedermawanannya, kasih sayangnya pada kaum miskin dan anak-anak yatim. Dalam sebuah kisah pernah diceritakan, satu ketika beliau menerima uang sebanyak 1000 dirham dari raja untuk keperluan dirinya, sebagai tanda syukur dan pertaubatan Sang raja kepada Allah. Uang hadiah dari raja itu sedikit pun tidak diambil oleh Sayyidah Nafisah untuk kepentingan dirinya. Semuanya Ia sedekahkan untuk orang-orang miskin, anak yatim, dan orang tua yang jompo. Demikianlah betapa dermawannya sayyidah Nafisah terhadap fakir miskin.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Hijrahnya Sayyidah Nafisah Dari Madinah ke Mesir&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari yang kesepuluh di akhir bulan Ramadhan tahun 193 hijriyyah Sayyidah Nafisah yang ketika itu berusia 48 tahun pindah ke Mesir bersama suami, ayah dan kedua anaknya. Dengan maksud menziarahi ahli keluarga Rasulullah saw yang lain di Mesir. Setelah menziarahi Mekah dan Baitulmaqdis, mereka tiba di Mesir dengan disambut meriah oleh penduduk Mesir termasuk para pembesar negara ketika itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penduduk Mesir dari berbagai pelosok negeri berdatangan ke tempatnya untuk mengunjungi dan mengambil berkah darinya. Tetapi semakin lama Sayyidah Nafisah merasa khawatir, hal itu akan menyulitkan pemilik rumah juga akan mengganggu kegiatan ibadahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As-Sirri bin al-Hakam kemudian mendatangi Sayyidah Nafisah. Kepada as-Sirri, Sayyidah Nafisah berkata, Dulu, saya memang ingin tinggal di tempat kalian, tetapi aku ini seorang wanita yang lemah. Orang-orang yang mengunjungiku sangat banyak, sehingga menyulitkanku untuk melaksanakan wirid dan mengumpulkan bekal untuk akhiratku. Lagi pula, rumah ini sempit untuk orang sebanyak itu. Selain itu, aku sangat rindu untuk pergi ke raudhah datukku, Rasulullah Saw."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka as-Sirri menanggapinya, "Wahai putri Rasulullah, aku jamin bahwa apa yang engkau keluhkan ini akan dihilangkan. Sedangkan mengenai masalah sempitnya rumah ini, maka aku memiliki sebuah rumah yang luas di Darb as-Siba' Aku bersaksi kepada Allah bahwa aku memberikan itu kepadamu. Aku harap engkau mau menerimanya dan tidak membuatku malu dengan menolaknya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah lama terdiam, Sayyidah Nafisah berkata, 'Ya, saya menerimanya." Kemudian ia Mengatakan, Wahai Sirri, apa yang dapat aku perbuat terhadap jumlah orang yang banyak dan rombongan yang terus berdatangan? “Engkau dapat membuat kesepakatan dengan mereka bahwa waktu untuk pengunjung adalah dua hari dalam seminggu. Sedangkan hari-hari lain dapat engkau pergunakan untuk ibadahmu, jadikanlah hari Rabu dan Sabtu untuk mereka," kata as-Sirri lagi. Sayyidah Nafisah menerima tawaran itu. Ia pun pindah ke rumah yang telah diberikan untuknya dan mengkhususkan waktu untuk kunjungan pada hari Rabu dan Sabtu setiap minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecintaannya beliau kepada Mesir dan penduduknya amatlah tinggi. Beliau pernah berkata, “Sesungguhnya aku amat menyayangi penduduk Mesir. Aku bercita-cita untuk dikuburkan di sini. Allah memuliakan Mesir dengan menyebutnya dalam al-Quran sebagaimana disebutnya Mekah.” (dirujuk dari kitab Ad-Durr An-Nafisah oleh Syeikh Ramadhan Abdu Rabbuhu Asfur r.anhu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Beberapa Karamah Sayyidah Nafisah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semasa di Mesir beberapa karamah pernah terjadi dengan izin Allah swt, karena telah memuliakan hamba-Nya. Dikisahkan Sayyidah Nafisah tinggal bertetangga dengan satu keluarga yahudi dan memiliki anak perempuan yang lumpuh. Pada suatu hari, ibu si gadis ingin pergi untuk suatu keperluan. Maka ia tinggalkan anaknya di tempat Sayyidah Nafisah. Ia meletakkan anaknya pada salah satu tiang dari rumah Sayyidah Nafisah. Ketika Sayyidah Nafisah berwudlu, air wudlunya jatuh ke tempat gadis Yahudi yang lumpuh itu. Tiba-tiba Allah memberikan ilham kepada gadis Yahudi itu agar mengambil air wudlu tersebut sedikit dengan tangannya dan membasuh kedua kakinya dengan air itu. Maka dengan izin Allah, anak itu dapat berdiri dan lumpuhnya hilang. Saat itu terjadi, Sayyidah Nafisah sudah sibuk dengan salatnya. Ketika anak itu tahu ibunya telah kembali dari pasar, ia pun mendatanginya dengan berlari dan mengisahkan apa yang telah terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka menangislah si ibu karena sangat gembiranya, lalu berkata, "Tidak ragu lagi, agama Sayyidah Nafisah yang mulia itu sungguh-sungguh agama yang benar!" Kemudian ia masuk ke tempat Sayyidah Nafisah untuk menciumnya. Lalu ia mengucapkan kalimat syahadat dengan ikhlas karena Allah. Kemudian datang ayah si gadis yang bernama Ayub Abu as-Saraya, yang merupakan seorang tokoh Yahudi. Ketika ia melihat anak gadisnya telah sembuh, dan mengetahui sebab sembuhnya maka ia mengangkat tangannya ke langit dan berkata, "Maha Suci Engkau yang memberikan petunjuk kepada orang yang Engkau kehendaki dan menyesatkan orang yang Engkau kehendaki. Demi Allah, inilah agama yang benar".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ia menuju rumah Sayyidah Nafisah dan meminta izin untuk masuk. Sayyidah Nafisah mengizinkanya. Ayah si gadis itu berbicara, kepadanya dari balik tirai. Ia berterima kasih kepada Sayyidah Nafisah dan menyatakan masuk Islam dengan mengucapkan kalimat syahadat. Kisah itu kemudian menjadi sebab masuk Islamnya sekelompok Yahudi yang lain yang tinggal bertetangga dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu, semakin berduyun-duyun pengunjung menziarahi Sayyidah Nafisah untuk meminta doa dan berkah kepada beliau. Hingga karena hal itu lah suaminya bermaksud untuk kembali ke Madinah. Lalu Sayyidah Nafisah berkata, “Aku tidak boleh berbuat demikian kerana aku melihat Rasululah saw dalam mimpi bersabda,“Jangan tinggalkan Mesir kerana Allah akan mematikan kamu di sana”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh al-Azhari dalam kitab al-Kawakib as-Sayyarah: Ada seorang wanita tua yang memiliki empat anak gadis. Mereka dari minggu ke minggu makan dari hasil tenunan wanita itu. Sepanjang waktu ia membawa tenunan yang dihasilkannya ke pasar untuk dijualnya; setengah hasilnya digunakannya membeli bahan untuk ditenun sedangkan setengah sisanya digunakan untuk biaya makan minum mereka. Suatu ketika, wanita itu membawa tenunannya yang ditutupi kain yang sudah lusuh berwarna merah ke pasar sebagaimana biasanya. Tiba-tiba seekor burung merusaknya dan menyambar kain itu beserta isinya yang merupakan hasil usahanya selama seminggu. Menyadari musibah yang menimpanya, wanita itu pun jatuh pingsan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sadar, ia duduk sambil menangis. Ia berpikir bagaimana akan memberi makan anak-anak yatimnya. Orang-orang kemudian memberikan petunjuk kepadanya agar menemui Sayyidah Nafisah. Ia pun pergi ke tempat Sayyidah Nafisah dan menceritakan kejadian yang menimpa dirinya seraya meminta doa kepadanya. Sayyidah Nafisah lalu berdoa, "Wahai Allah, wahai Yang Maha Tinggi dan Maha Memiliki, gantikanlah untuk hamba-Mu ini apa yang telah rusak. Karena, mereka adalah makhluk-Mu dan tanggungan-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Berkuasa atas segala sesuatu." Kemudian ia berkata kepada wanita tua itu, "Duduklah, sesungguhnva Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu." Maka duduklah wanita itu menantikan kelapangan atas musibahnya, sementara hatinya terus menangisi anak-anaknya yang masih kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berapa lama kemudian, datanglah sekelompok orang menemui Sayyidah Nafisah. Kemudian mereka berkata kepadanya, "Kami mengalami kejadian yang aneh." Berceritalah mereka kepadanya tentang apa yang mereka alami. Mereka sedang mengadakan perjalanan di laut ketika tiba-tiba terjadi kebocoran dan perahu itu nyaris tenggelam. Tiba-tiba datang seekor burung yang menempelkan kain merah berisi tenunan di lobang itu sehingga lobang tersebut tersumbat dengan izin Allah. Sebagai tanda syukur kepada Allah, mereka memberikan lima ratus dinar kepada Sayyidah Nafisah. Maka menangislah Sayyidah Nafisah, seraya mengatakan, Tuhanku, Penolongku, alangkah kasih dan sayangnya Engkau kepada hamba-hamba-Mu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyidah Nafisah segera mendatangi wanita tua tadi dan bertanya kepadanya berapa ia menjual tenunannya. "Dua puluh dirham," jawabnya. Sayyidah Nafisah memberinya lima ratus dinar. Wanita itu mengambil uang tersebut, lalu pulang ke rumahnya. Kepada putri-putrinya, ia menceritakan kejadian yang ia alami. Mereka semua datang menemui Sayyidah Nafisah serta mengambil berkah darinya seraya menawarkan diri untuk menjadi pelayannya.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Sayyidah Nafisah Adalah Guru Imam Syafi'i&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Syafi'i r.anhu, Imam mazhab Fiqh yang masyhur sempat hidup sezaman dengan Sayyidah Nafisah. Sayyidah Nafisah menjalani kehidupan di Mesir selama 15 tahun yaitu dari 26 Ramadhan tahun 193 hijrah hingga 15 Ramadhan tahun 208 hijrah. Imam Syafi’i kerap menziarahi beliau. Ini sebagai tanda mulia dan kasihnya Imam Syafi’i kepada ahli keluarga Nabi. Selain ziarah, Imam Syafi’i juga turut mendengar bacaan hadits daripada Sayyidah Nafisah dan beliau juga membaca hadits kepada Sayyidah Nafisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Imam Syafi’i datang ke Mesir, ia telah menjalin hubungan dengan Sayyidah Nafisah. Hubungan keduanya diikat oleh keinginan untuk berkhidmat kepada akidah Islam. Imam Syafi’i biasa mengunjungi Sayyidah Nafisah bersama beberapa orang muridnya ketika berangkat menuju halaqah-halaqah pelajarannya di sebuah masjid di Fusthath, yaitu Mesjid 'Amr bin al-'Ash.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Syafi’i biasa melakukan salat Tarawih dengan Sayyidah Nafisah di mesjid Sayyidah Nafisah. Walaupun Imam Syafi'i memiliki kedudukan yang agung, tetapi jika ia pergi ke tempat Sayyidah Nafisah, ia meminta do’a kepada Nafisah dan mengharap berkahnya. Imam Syafi'i juga mendengarkan hadist darinya. Apabila sakit, Imam Syafi’i mengutus muridnya sebagai penggantinya. Utusan itu menyampaikan salam Imam Syafi'i dan berkata kepada Sayyidah Nafisah, "Sesungguhnya putra pamanmu, Syafi'i, sedang sakit dan meminta doa kepadamu." Sayyidah Nafisah lalu mengangkat tangannya ke langit dan mendoakan kesembuhan untuknya. Maka ketika utusan itu kembali, Imam Syafi’i telah sembuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, Imam Syafi’i menderita sakit. Seperti biasanya, ia mengirim utusan untuk memintakan doa dari Sayyidah Nafisah baginya. Tetapi kali ini Sayidah Nafisah berkata kepada utusan itu, "Allah membaguskan perjumpaan-Nya dengannya dan memberinya nikmat dapat memandang wajah-Nya yang mulia." Ketika utusan itu kembali dan mengabarkan apa yang dikatakan Sayyidah Nafisah, Imam Syafi’i tahu bahwa saat perjumpaan dengan Tuhannya telah dekat. Imam Syafi’i berwasiat agar Sayyidah Nafisah mau menyalatkan jenazahnya bila ia wafat. Ketika Imam Syafi’i wafat pada akhir Rajab tahun 204 H, Sayyidah Nafisah melaksanakan wasiatnya. Jenazah Imam Syafi’i dibawa dari rumahnya di kota Fusthath ke rumah Sayyidah Nafisah, dan di situ ia menyalatkannya. Yang menjadi Imam adalah Abu Ya'qub al Buwaithi, salah seorang sahabat Imam Syafi’i.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wafatnya Imam Syafi’i, membawa kesedihan bagi Sayyidah Nafisah. Ia senantiasa berdoa untuk Imam Syafi'i,” Semoga Allah merahmatinya, dan dia (imam Syafi'i) adalah seorang yang mempercantik wudlu”. Ini adalah sebagai kesaksian dari Sayyidah Nafisah kerena wudu adalah pondasi melakukan ibadah. Apabila baik dasarnya maka baik pula ibadah yang dibina padanya seolah-olah beliau berkata, “Imam Syafi’i itu elok pada ijtihadnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sayyidah Nafisah Menghembuskan Nafas Terakhir&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Sayyidah Nafisah mulai merasakan sakit, Beliau pun mulai menggali kubur dalam kamarnya. Di saat-saat terakhir usianya, beliau sering turun dan beribadah dalam liang lahat yang ia gali sendiri dengan memperbanyak shalat sunat dan membaca al-Quran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Allamah Al-Ajhauri berkata, “Adalah Sayyidah Nafisah membaca al-Quran dan mengkhatamnya dalam kuburnya sebanyak 6,000 kali dan beliau menghadiahkan pahalanya kepada seluruh umat Islam yang telah meninggal dunia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sakit yang menimpanya semakin parah pada pertengahan bulan Ramadhan di tahun 208 H dan ketika itu ia tengah berpuasa, maka orang-orang yang datang menjenguk menyarankan agar beliau berbuka puasa untuk meringankan sakit yang Ia dihadapi. Mendengar hal tersebut beliau pun berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sungguh aneh. Aku berpuasa 30 tahun dan aku berdoa kepada Allah agar mewafatkan aku dalam keadaan berpuasa tiba-tiba aku diminta berbuka?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sakit yang ia derita berlarut hingga hari Jumat hari ke-15 Ramadhan ditahum 208 H. Dalam sakitnya saat itu, mulut beliau masih mampu membaca al-Quran sampai pada ayat ke-127 dari Surat al-An’am&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagi mereka (disediakan) tempat yang damai dan aman yaitu syurga di sisi Tuhannya. Dan Dialah pelindung mereka karena amal kebajikan yang mereka kerjakan di dunia dahulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika selesai membaca ayat ini, sunyi seketika rumah beliau diikuti tangisan dan doa sekalian manusia yang hadir mengiringi roh beliau yang baru dijemput mengadap Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sayyidah Nafisah Di Semayamkan Di Mesir&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah wafatnya Sayyidah Nafisah, suaminya Ishaq al-Mu’taman berencana untuk membawa kembali jasad Sayyidah Nafisah ke Madinah untuk dikebumikan bersama-sama ahli keluarganya yang lain. Tetapi, penduduk Mesir tidak menyetujui rencana Ishaq al-Mu'taman dan meminta agar Sayyidah Nafisah disemayamkan di Mesir di dalam kubur yang telah digali dengan tangan beliau sendiri. Sempat terjadi perbedaan pendapat antara pihak keluarga Sayyidah Nafisah dengan penduduk Mesir. Pada akhirnya penduduk Mesir memutuskan untuk mengadukan permasalahan ini kepada Ubaidillah bin as-Sura, gubernur Mesir ketika itu agar dapat menangani masalah ini dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dikumpulkanlah harta-harta dari penduduk Mesir untuk diberikan kepada keluarga Sayyidah Nafisah agar hasrat untuk mengembalikan Sayyidah Nafisah ke Madinah dibatalkan. Pada malamnya,suaminya telah bermimpi bertemu Rasulullah saw dan Baginda bersabda kepada Ishaq,” Wahai Ishaq! Kembalikan harta manusia (penduduk Mesir) kepada mereka dan semadikan Nafisah di sisi mereka kerana rahmat diturunkan kepada mereka dengan berkat Nafisah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokannya, Sayyid Ishaq pun menyampaikan mimpinya kepada penduduk Mesir. Dengan penuh gembira dan syukur kepada Allah, jasad Sayyidah Nafisah pada akhirnya dikebumikan di Mesir di dalam kubur yang telah ia gali sendiri menjelang wafatnya. Kini kuburan berada didalam mesjid yang namanya dinisbahkan atas nama beliau yaitu “Mesjid Sayyidah Nafisah”.&lt;br /&gt;Setelah itu, suaminya bersama dua lagi anaknya kembali ke Madinah dan meninggal dunia di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Wallahu 'alam bis shawab.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;(Petikan sirah ini diambil dari kitab Hadhratus Sayyidah Nafisah r.anha karya Syeikh Muhammad Muntasar Ahmad Hamid Al-Helwani, dan beberapa sumber lainnya)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Materi dipresentasikan dalam kajian dwimingguan FOSQI oleh Rina Saepulloh,&lt;br /&gt;Qattamea-Kairo, 25 Juni 2010&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8748359540503814505-8518821557929030937?l=rinasaepulloh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/feeds/8518821557929030937/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/2010/06/sayyidah-nafisah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8748359540503814505/posts/default/8518821557929030937'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8748359540503814505/posts/default/8518821557929030937'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/2010/06/sayyidah-nafisah.html' title='SAYYIDAH NAFISAH'/><author><name>Rina Saepulloh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01077798137474337093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/TDBAs7CkL0I/AAAAAAAAApA/CwzfYwwlYOg/S220/IMG_0193d.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/TCSRBE9A2pI/AAAAAAAAAng/-kesFCrr1sg/s72-c/IMG_0193s.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8748359540503814505.post-8635701700318694095</id><published>2010-05-20T23:19:00.006+03:00</published><updated>2010-05-21T21:44:10.166+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Menyoal Batas Aurat Wanita Muslimah</title><content type='html'>&lt;h3&gt; &lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Oleh: Aep Saepulloh Darusmanwiati **)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Banyak kejanggalan dalam buku “jilbab” Dr. Qusaish Shihab. Catatan kecil untuk guru saya DR. Quraish Shihab atas kekeliruannya. Tulisan akan diturunkan beberapa seri. [bag. Pertama]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Kamis, (21/9/2006), lalu, buku Prof. Dr. Quraish Shihab yang berjudul “Jilbab, Pakaian Wanita Muslimah: Pandangan Ulama Masa Lalu dan Cendekiawan Kontemporer” dibedah di Pusat Studi Al-Quran, Ciputat. Hadir sebagai pembicara adalah Dr. Quraish Shihab, Dr. Eli Maliki, Dr. Jalaluddin Rakhmat, Adian Husaini dengan dimoderatori Dr. Mukhlis Hanafi, doktor tafsir lulusan Universitas al-Azhar Kairo, yang baru beberapa bulan kembali ke Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur saja, saya termasuk penggemar berat Pak Quraish, karena sosok Pak Quraish bagi saya adalah seorang prototype cendekiawan muslim yang sangat luar biasa, di samping ilmunya yang dalam juga produktif dalam berkarya. Tidak heran apabila hampir semua karya Pak Quraish, saya mempunyai koleksinya, tentunya sebelum saya ke Mesir.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Maka, ketika Fordian --salah satu kajian Tafsir Hadits di Mesir-- meminta saya menjadi salah satu pembedah buku Jilbab —bersama dua pembedah lainnya adalah DR. Mukhlis Hanafi, MA dan DR. Ahmad Zainun Najah, MA-- saya langsung menyetujuinya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Namun ketika saya membaca buku tersebut, saya merasakan ada hal yang berbeda. Disbanding buku-buku Pak Quraish Shihab yang sempat saya baca. Buku beliau lainnya saya merasakan kesejukan, tenang, bahasanya mengalir —tentu masalah isinya sudah tidak diragukan lagi kedalamannya--, maka buku ini, terasa agak 'gersang'. Saya merasakan seolah ketika menulis buku ini Pak Quraish sedang dalam keadaan 'gelisah', sedikit 'emosi', atau sedang kesal kepada sementara orang. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Tulisan ini, selain mencoba membedah, juga akan menyuguhkan secara singkat beberapa mulahadhat dari isi buku Jilbab ini. Mulahadhat ini lebih ditujukan kepada catatan-catatan kecil dari buku dimaksud yang menurut saya kurang tepat dalam mengutip atau menyandarkan pendapat. Beberapa mulahadhat ini tentunya yang saya rasakan agak 'janggal' dan agak bertentangan dengan sumber aslinya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" id="fullpost"&gt;Beberapa Kejanggalan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Buku ini setebal 176 halaman ini menurut Herat saya ada banyak kejanggalan. Misalnya dalam tulisan Sekapur Sirih yang berisi pengantar Pak Quraish mengemukakan yang mendasarinya menulis buku ini:…Desakan itu lahir bukan saja dari banyaknya pertanyaan yang diajukan kepada penulis menyangkut jilbab yang merupakan busana muslimah ini—baik melalui media massa….tetapi juga karena ada yang menyalahpahami pandangan penulis menyangkut persoalan ini…(hal.4). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Ada banyak kejanggalan dari setiap bab bukunya. Misalnya bab Sekapur Sirih. Di bab ini, kita akan mendapati bahwa dengan bukunya ini, sebenarnya Pak Quraish tidak berpendapat bahwa jilbab (kerudung) tidak wajib. Pak Quraish hanya mencoba mengetengahkan beragam pendapat mulai dari ulama dahulu sampai kontemporer tentang pro kontra masalah ini. "Dalam Ensiklopedia Tematis Dunia Islam yang membahas tentang Pemikiran dan Peradaban, dikemukakan bahwa menyangkut jilbab, penulis menyatakan ketidakharusannya padahal yang selama ini penulis kemukakan hanyalah aneka pendapat pakar tentang persoalan jilbab tanpa menetapkan satu pilihan. Ini karena hingga saat itu penulis belum lagi dapat mentarjih kan salah satu dari sekian pendapat yang beragam itu" (hal. 4). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Namun, meskipun disebutkan seperti itu, apabila kita membaca buku ini secara tuntas, maka para pembaca paling tidak akan menangkap kesan bahwa memang penulis buku Jilbab ini cenderung untuk sependapat dengan ulama kontemporer--dalam batasan tertentu-- khususnya bolehnya menampakkan rambut atau lengan. Terlebih dalam Sekapur Sirih disebutkan bahwa "…Ini karena hingga saat itu penulis belum lagi dapat mentarjih kan salah satu dari sekian pendapat yang beragam itu" (hal. 4). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Kata 'itu' yang saya garis tebal, menimbulkan multi tafsir. Paling tidak mengisyaratkan bahwa Pak Quraish belum mentarjih tersebut dahulu (saat itu), sementara dengan buku ini beliau telah mentarjih salah satunya. Terlebih harus diakui, dalam radd kepada para ulama dahulu, atau ketika mengungkapkan tafsiran baru, Pak Quraish tidak menyebutkan siapa cendekiawan yang berpendapat seperti itu, sehingga hal ini menimbulkan praduga bahwa sesungguhnya pendapat tersebut adalah pendapat Pak Quraish sendiri, hanya mencoba dibungkus dengan perkataan 'sementara ulama' atau 'sementara cendekiawan' atau 'sementara orang' dengan maksud untuk tidak terjebak dalam perdebatan di atas. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Selain itu, di bahasan Pengantar, penulis mengawali bahasan jilbab dengan terlebih dahulu mengetengahkan beberapa hal penting yang akan berkaitan erat dengan bahasan selanjutnya yakni bahwa agama ini mudah. Rasulullah saw, kata Pak Quraish selalu memilih yang termudah selama tidak berdosa. Di samping itu dalam pengantar ini juga diketengahkan bahwa perbedaan pendapat adalah sesuatu yang wajar dan lumrah. Juga diungkapkan perlunya sikap kritis kepada pendapat para ulama salaf menyangkut banyak hal. Terutama sekali menyangkut pernyataan para ulama dahulu tentang sudah adanya Ijma. Dengan mengutip Ibrahim bin Umar al-Biqai (1406-1480), pakar tafsir asal Libanon, penulis buku juga mengajak para pembaca untuk mengkaji ulang pernyataan 'sudah ijma para ulama' tentang satu persoalan tertentu. Di akhir bahasan Pengantar ini, penulis buku juga mengetengahkan beberapa sebab timbulnya perbedaan pendapat para ulama berikut contoh-contohnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Pada bagian Pengantar, si menulis mengatakan bahwa Imam Syathibi dalam bukunya al-Muwafaqat mengatakan bahwa Syari'ah itu Ummiyyah. Dengan mengutip dari Imam Syathibi juga (?), bahwa yang dimaksud dengan as-Syari'ah Ummiyyah itu adalah bahwa Syari'ah harus dipahami sebagaimana pemahaman para sahabat Nabi Saw. "Dari satu sisi ada ulama yang menegaskan bahwa syariat adalah ummiyah, yakni kita tidak boleh memahami al-Qur'an dan Sunnah, kecuali sebagaimana pemahaman para sahabat Nabi Saw" (hal. 16). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Pengertian Syariat Ummiyah menurut Imam Syathibi sebagaimana yang dikutip oleh penulis buku di atas, hemat saya tidak tepat. Yang dimaksud dengan as-Syariah Ummiyah menurut Imam Syathibi adalah bahwa syariah agama Islam ini dapat dipahami oleh siapa saja, tidak memerlukan perangkat ilmu seperti matematika, kimia dan yang lainnya. Pengertian Imam Syathibi dengan as-Syariah Ummiyah di atas dapat diambil dari penjelasannya tentang masalah ini terutama dapat dibaca pada masalah ketiga dari macam kedua (qashdus Syari' fi wadhis syari'ah lil ifham), pembagian pertama (qashdus syari') dari Maqashid Syari'ah. Di antara perkataannya misalnya ketika mengatakan (lihat dalam al-Muwafaqat:, Darul Kutub Ilmiyyah, Beirut, II/53): &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Sementara itu, Pak Quraish mengatakan: "Kalaulah pendapat yang menyatakan bahwa asy-Syari'ah Ummiyyah harus juga diterima, maka…(hal.17). Dengan pernyataan ini Pak Quraish nampak tidak menerima dengan gagasan Syathibi. Hal ini, sekali lagi, karena Pak Quraish memahami as-Syari'ah Ummiyah tadi sudah tidak tepat. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Pak Quraish mengatakan: "Memikirkan bukan menganjurkan untuk menerapkannya—karena betapapun--seperti tulis Imam al-Qurthubi sebagaimana akan penulis kutip selengkapnya nanti—memakai jilbab dengan hanya membuka wajah dan tangan, adalah pandangan yang lebih baik dalam rangka kehati-hatian" (Hal. 50). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Dari pernyataan ini terkesan bahwa Imam al-Qurthubi membolehkan seorang wanita untuk tidak menutup wajah dan tangannya (bukan telapak tangan) karena bukan aurat. Saya tidak tahu apakah ini kekeliruan biasa dalam artian tidak sengaja dari penulis buku Jilbab, ataukah memang sengaja demikian. Karena dalam lembar lain penulis buku menulis: "..sehingga mufassir dan pakar hukum Islam al-Qurthubi menyatakan bahwa pendapat yang mengecualikan wajah dan telapak tangan dari tubuh perempuan yang harus ditutup, merupakan "pendapat yang lebih kuat atas dasar kehati-hatian…"(hal.173). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Dari kedua tempat ini, penulis buku nampak kurang hati-hati dalam mengutip. Di halaman 50 disebutkan tangan, di halaman 173 ditulis telapak tangan. Tentu hal ini sangat besar akibat hukumnya. Apabila yang pertama diambil, itu artinya Imam sekaliber al-Qurthubi membolehkan wanita untuk membuka tangannya dari ujung jari sampai sebelum bahunya karena bukan aurat. Untuk itu saya akan mencoba merujuk ke buku asli dari Imam al-Qurthubi yakni al-Jami' li Ahkam al-Qur'an. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Dalam Tafsirnya, Imam al-Qurthubi tidak mengatakan bahwa yang boleh terbuka adalah muka dan tangan, tapi beliau mengatakan sebagaimana disebutkan penulis buku pada halaman 173, bahwa Imam al-Qurthubi membolehkan yang terbuka wajah dan telapak tangan, bukan wajah dan tangan. Berikut ini ucapan Imam al-Qurthubi di maksud (lihat dalam Tafsir al-Qurthubi, Maktabah Taufiqiyyah, Kairo, XII/192,193):&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Pada halaman 56, penulis buku Jilbab juga menulis: "Pakar tafsir al-Jashshash misalnya menulis bahwa, "Ayat ini menunjukkan bahwa Allah telah mengizinkan untk meminta kepada mereka (isteri-isteri Nabi) dari belakang tabir menyangkut suatu hajat yang dibutuhkan atau untuk mengajukan satu pertanyaan yang memerlukan jawaba. Perempuan semuanya aurat—badannya dan bentuknya—maka tidak boleh membukanya kecuali bila ada darurat atau kebutuhan seperti untuk menyampaikan persaksian atau karena adanya penyakit di badannya (dalam rangka pengobatan)". Kemudian di catatan kaki di tulis 'Abubakar Muhammad bin Abdillah, Ibn al-Araby, Ahkam al-Qur'an…":. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Pada halaman 70, penulis buku Jilbab menulis: "Pakar hukum dan tafsir Ibn al-Arabi sebagaimana dikutip oleh Muhammad ath-Thahir bin Asyur, berpendapat bahwa hiasan yang bersifat khilqiyah/melekat adalah sebagian besar jasad perempuan, khususnya wajah, kedua pergelangan tangannya (yakni sebatas tempat penempatan gelang tangan) kedua siku sampai dengan bahu, payudara…Sedangkan hiasan yang diupayakan adalah hiasan yang merupakan hal-hal yang lumrah dipakai perempuan seperti perhiasan….Hiasan khilqiyah yang dapat ditoleransi adalah hiasan yang bila ditutup mengakibatkan kesulitan bagi wanita seperti wajah, kedua tangan dan kedua kaki, lawannya adalah hiasan yang disembunyikan/harus ditutup seperti bagian atas kedua betis, kedua pergelangan, kedua bahu, leher dan bagian atas dada dan kedua telinga. "(hal. 70).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Dari pemaparan ini nampak bahwa Ibnul Araby membolehkan kedua tangan tidak ditutup karena apabila tertutup akan mengakibatkan kesulitan bagi wanita. Hanya saja, sayang, Pak Quraish lagi-lagi kurang hati-hati dalam mengutip. Pak Quraish dalam hal ini menukil pendapat Ibnul Araby melalui Tafsir Ibnu Asyur (Tafsir at-Tahrir wat Tanwir), bukan langsung ke Tafsir Ibnul Araby-nya, Ahkamul Qur'an. Saya memang tidak sempat membuka Tafsir Ibnu Asyur—karena saya belum mempunyai buku dimaksud--akan tetapi saya coba langsung mengecek ke buku asli Ahkamul Qur'an karya Ibnul Araby, dan ternyata kutipan Pak Quraish tidak tepat. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Saya tidak tahu, apa yang tidak tepat menukil tersebut adalah Pak Quraish atau Imam Thahir bin Asyur. Atau boleh jadi Pak Quraish salah mengartikan kata 'kaffan' yang seharusnya diterjemahkan 'kedua telapak tangan' malah diterjemahkan 'kedua tangan', yang tentunya akan berakibat hukum sangat jauh dan besar. Atau kalupun memang Thahir bin Asyur menulis seperti itu, kemungkinan Pak Quraish terburu-buru memahaminya sehingga seolah ucapan di atas adalah perkataan Ibnul Araby. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Bagaimanapun, dalam tulisan Ilmiyah, sedapat mungkin bahits harus merujuk kepada buku primernya yang dalam hal ini adalah Ahkamul Qur'an sehingga tidak terjadi kekeliruan. Saya katakan keliru, karena ternyata dalam Ahkamul Qur'an, Ibnul Araby tidak mengatakan bahwa wanita boleh menampakkan wajah dan kedua tangan. Yang ada adalah wajah dan kedua telapak tangan (kaffaan). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Bagaimana mungkin Ibnul Araby mengatakan bahwa tangan boleh terbuka (bukan aurat) sementara dalam kesempatan yang lain, ia malah mengatakan bahwa seluruh tubuh wanita adalah aurat yang harus ditutup termasuk kedua telapak tangan dan wajahnya? Berikut ini kutipan teks Ibnul Araby dalam Ahkamul Qur'an (Kairo: Darul Fikr al-Araby, t.th, 3/1579)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Di halaman 97, penulis buku Jilbab menulis dalam catatan kaki nomor 60: "Mayoritas ulama berpendapat bahwa dalam keadaan berihram perempuan harus membuka wajah dan tangannya". Ada dua catatan yang perlu saya sampaikan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Pertama, tidak tepat kalau disebutkan, bahwa jumhur ulama mengharuskan wanita dalam keadaan ihram untuk membuka wajah dan tangannya. Yang tepat adalah wajah dan kedua telapak tangannya. Karena, sebagaimana akan penulis utarakan di bawah nanti, semua para ulama baik Imam madzhab maupun yang lainnya, semua berpendapat bahwa selain muka dan kedua telapak tangan tidak boleh terbuka karena termasuk aurat. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Kedua, kata 'harus' dalam pernyataan penulis buku Jilbab juga kurang tepat. Mayoritas ulama memang mentidakbolehkan wanita yang sedang ihram untuk menutup kedua telapak tangannya, dan memakai cadar, niqab, namun tidak melarang untuk menutup wajah dengan jalan isdal. Ada perbedaan sangat mendasar antara memakai niqab dengan menutup wajah. Niqab adalah kain khusus yang dibuat untuk menutup wajah. Dalam hal ini para ulama sepakat mentidakbolehkannya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Namun, apabila penutup wajah tersebut bukan dengan niqab tapi misalnya dengan jalan memanjangkan kain dari kerudung atau dari kain penutup kepala (al-isdal), maka hal tersebut dibolehkan (lihat dalam Majmu'atul Fatawa: 26/112, al-Muhalla: 7/91 dan al-Mughni: 3/325). Hal ini berdasarkan hadits di bawah ini:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Saya sepakat dengan penulis buku Jilbab bahwa jiwa kritis dan skeptis kita sangat dibutuhkan terhadap apa yang diungkapkan oleh para ulama yang salah satunya adalah ketika para ulama mengatakan bahwa satu masalah sudah Ijma. Namun, sepengetahuan saya, hal ini tidak berarti tidak dapat diatasi, karena para ulama Ushul sendiri sudah menetapkan beberapa buku untuk mengecek apakah betul hal tersebut sudah terdapat Ijma' di antara para ulama atau tidak—untuk lebih jelas masalah ini dapat dilihat dalam buku-buku Ushul seperti al-Ihkam karya Ibnu Hazm, al-Ihkam karya al-Amidy, al-Mustashfa karya Imam al-Ghazali dan lainnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Memang harus diakui pula bahwa ada beberapa persoalan—yang jumlahnya tidak banyak—yang menurut ulama fulan dikatakan telah terjadi Ijma', namun buktinya tidak terdapat Ijma'. Namun sekali lagi hal ini dapat diatasi dengan merujuk kepada kompilasi masalah-masalah yang sudah mujma' 'alaih di kalangan para ulama yang disusun oleh ulama-ulama kenamaan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Di antara buku yang dapat dijadikan rujukan untuk mengecek apakah dalam masalah tersebut sudah terjadi Ijma' atau belum di antaranya adalah buku Maratibul Ijma’ karya Ibnu Hazm, al-Ifshah karya Ibnu Hubairah, al-Ijma' karya Ibnul Mundzir, Mausu'ah al-Ijma karya Said Abu Jaib dan Imam Ibnu Mundzir an-Naisabury dalam karyanya berjudul al-Ijma: Ma Ajma'a 'Alaihil Fuqaha Minal Ahkam al-Fiqhiyyah. Buku-buku ini merupakan rujukan yang harus dijadikan pegangan oleh mereka para pengkaji hukum ketika hendak membuktikan apakah betul sudah terjadi Ijma' dalam hal tersebut ataupun tidak. Termasuk dalam masalah batas aurat ini, juga sudah terdapat Ijma’ di dalamnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Dalam sebuah fatwa yang dikeluarkan oleh Lajnah Fatwa al-Azhar yang diterbitkan melalui majalah al-Azhar, Juz III, edisi ke 67, bulan Rabiul Awal tahun 1415H, Agustus / September 1994 halaman 275-279 disebutkan bahwa aurat wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali muka dan kedua telapak tangan. Hal ini didasarkan kepada dalil al-Qur'an, Sunnah dan Ijma'. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Demikian isi dari fatwa Lajnah Fatwa al-Azhar dimaksud, bahwa menutup seluruh tubuh kecuali muka dan kedua telapak tangan adalah sudah merupakan Ijma' para ulama. Untuk lebih membuktikan Ijma dimaksud, berikut ini penulis mencoba mengetengahkan sekilas pendapat lima madzhab ulama kenamaan, yang semuanya sepakat bahwa seluruh tubuh wanita aurat kecuali muka dan kedua telapak tangan saja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal jilbab banyak ulama, termasuk imam mazhab. Umumnya tak ada perbedaan. Tulisan ini adalah Catatan kecil untuk guru saya DR. Quraish Shihab atas kekeliruannya. [bag. Kedua]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan penutup aurat atau jilbab sudah banyak dibahas oleh empat imam mazhab. Diantaranya; Madzhab Hanafi, Mazhab Maliki, Mazhab Syafi'I dan Hambali. Ini bisa dilihat dalam buku Bada'iu ash-Shana'i (V/123), juga sebagaimana dikutip Syaikh al-Alamah Shalih Abdus Sami' al-Aabi al-Azhary al-Maliky dalam bukunya Jawahirul Iklil fi Syarh Mukhtashar al-Alamah asy-Syaikh Khalil fi Madzhab al-Imam Malik Imam Darit Tanzil (1/41), juga kitab at-Tamhid (6/365), asy-Syarh ash-Shagir (1/400, 401). Imam Nawawi dalam al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab (1/159), dalam Hasyiyah al-Bujairamy 'Alal Khatib (1/298,299).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, sangat disayangkan sekali dalam bukuProf. Dr. Quraish Shihab yang berjudul “Jilbab, Pakaian Wanita Muslimah: Pandangan Ulama Masa Lalu dan Cendekiawan Kontemporer” banyak tidak mengacu kepada buku primer. Bahkan, ketika berbicara masalah hukum (fiqh) sekalipun, penulis buku Jilbab tidak pernah mengutip buku primer dari fiqh yang bersangkutan. Termasuk ketika mengatakan bahwa ini adalah pendapat Imam anu, penulis buku Jilbab, hanya mengambil dari buku skunder semisal buku Wahbah Zuhaili, al-Fiqh al-Islamy, atau bahkan buku yang bersifat tersier (tahsinat), seperti Tafsir Ayat Ahkam, tidak langsung ke buku aslinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Sepengetahuan penulis, buku-buku fiqh yang sempat dikutip oleh penulis buku Jilbab ini tidak lebih dari tiga buah buku saja; Nailul Authar (hal.88), Bidayatul Mujtahid (hal.105) dan al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu, itupun dikutip masing-masing hanya satu kali saja. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Ketika mengemukakan pendapat para Imam Madzhab, penulis buku Jilbab misalnya, cukup dengan mengutip buku-buku Tafsir semisal Ibnul Araby, Imam al-Qurthubi atau buku Ustadz Muhammad Ali as-Sais dalam karyanya Tafsir Ayat Ahkam. Padahal, ini sangat penting, mengingat bahasan yang dikemukakan erat kaitannya dengan masalah hukum yang tentunya bertumpu kepada buku-buku Fiqh. Apalagi misalnya kalau dielaborasi dari sisi dalil dan hujjah masing-masing madzhab. Namun demikian, tentu hal ini dikarenakan Pak Quraish sangat sibuk dan banyak hal lain yang jauh lebih penting yang harus dikerjakan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Tidak merujuknya ke sumber primer ini, mengakibatkan, misalnya, kurang tepat dalam menisbahkan pendapat. Satu hal yang dapat saya jadikan contoh adalah ketika Pak Quraish mengutip pendapat Ustadz Muhammad Ali as-Sais tentang pendapat Imam Abu Hanifah yang mengatakan bahwa kaki wanita bukan aurat: "Dalam satu riwayat yang dinisbahkan kepada Abu Hanifah dinyatakan bahwa menurutnya kaki wanita bukanlah aurat dengan alasan bahwa ini lebih menyulitkan dibandingkan dengan tangan, khususnya wanita-wanita miskin di pedesaan yang (ketika itu)…."(hal. 48). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Apabila kita merujuk kepada buku-buku bermadzhab Hanafi, maka akan didapatkan ada dua riwayat yang mengatakan pendapat Abu Hanifah ini. Satu riwayat disebutkan bahwa memang Abu Hanifah pernah mengatakan bahwa kaki wanita bukanlah aurat, namun riwayat lain mengatakan bahwa Abu Hanifah pun berpendapat bahwa kaki wanita tetap aurat. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Dalam al-Fatawa al-Hindiyyah saja nampak bahwa dalam madzhab Hanafi ada dua pendapat mengenai penisbahan kepada Abu Hanifah tentang kedua kaki apakah aurat atau bukan. Namun demikian, dalam buku Dhahirur Riwayah disebutkan bahwa Abu Hanifah sesungguhnya berpendapat bahwa kaki wanita pun adalah aurat yang harus ditutup.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Dalam buku Dhahirur Riwayah disebutkan bahwa Imam Abu Hanifah justru berpendapat bahwa kaki wanita juga adalah aurat, maka pendapat ini yang harus diambil. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Sebagaimana diketahui, bahwa dalam studi literature Madzhab Hanafi, dikenal ada tiga tingkatan buku-buku fiqh Hanafi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Tingkatan paling pertama dan utama adalah apa yang disebut dengan Masailul Ushul atau Masail Dhahir ar-Riwayah yaitu masalah-masalah yang secara tekstual dicantumkan dan terdapat dalam enam buku induk madzhab Hanafi karya Muhammad bin Hasan asy-Syaibani yang di dalamnya memuat pendapat-pendapat Abu Hanifah, Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan asy-Syaibani sendiri. Keenam buku dimaksud adalah al-Mabsuth, az-Ziyadaat, al-Jami' ash-Shagir, al-Jami al-Kabir, as-Siyar as-Saghir dan as-Siyar al-Kabir. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Tingkatan kedua adalah Masail an-Nawadir atau Masail Ghair Dhahir ar-Riwayah yakni masalah-masalah yang diriwayatkan dari para 'sesepuh' madzhab Hanafi, hanya tidak tercantum dalam buku-buku Dhahir ar-Riwayah yang enam di atas, akan tetapi tercantum dalam buku-bukunya yang lain semisal al-Kaisaniyyat, al-Jurjaniyyat, al-Haruniyyat dan ar-Ruqiyyat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Tingkatan terakhir adalah tingkatan paling rendah yakni Masail al-Fatawa atau an-Nawazil atau sering juga disebut al-Waqi'at yaitu pendapat-pendapat para imam madzhab belakangan dan bukan merupakan pendapatnya Abu Hanifah, Abu Yusuf atau Muhammad. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Apabila terjadi pertentangan antara tingkat satu dan dua, tentu tingkat satu yang harus diambil. Untuk itu, sekali lagi saya sampaikan bahwa Abu Hanifah sesungguhnya tidak berpendapat bahwa kaki wanita itu bukan aurat, tapi sebaliknya, ia tetap aurat dan karenanya wajib ditutup. Oleh karena itu, Imam az-Zaila'i pengarang buku Tabyin al-Haqaiq Syarh Kanzud Daqaiq (1/96), mengatakan, pendapat Abu Hanifah tentang kaki wanita bukan aurat itu—kalaupun pendapat itu betul pendapat Abu Hanifah--boleh jadi untuk wanita yang sudah tua. Dan untuk yang disebut terakhir ini, para ulama memang membolehkannya untuk tidak ditutup.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama sudah gamblang menjelaskan batas-batas aurat. Tulisan ini adalah Catatan kecil untuk guru saya DR. Quraish Shihab atas kekeliruannya. [bag. Ketiga-habis]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batas aurat sebenarnya bisa dibaca langsung dari buku-buku fiqh atau buku-buku lain yang membahas persoalan ini. Namun demikian, saya mencoba meringkas batasan aurat ini sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama telah sepakat bahwa seorang wanita wajib menutup seluruh auratnya. Hanya saja, seberapa jauh batasan aurat wanita itu? Para ulama dalam hal ini berbeda pendapat. Sebagian ulama berpendapat bahwa seluruh tubuh wanita adalah aurat. Oleh karena itu, wanita wajib menutup seluruh tubuhnya termasuk wajib menutup muka dan kedua telapak tangannya. Bagi yang berpendapat seluruh tubuh wanita adalah aurat, mereka kemudian mewajibkan wanita untuk bercadar dan memakai sarung tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan menurut pendapat lainnya, bahwa seluruh tubuh wanita aurat kecuali muka dan telapak tangan. Oleh karenanya, kelompok ini berpendapat, bahwa wanita harus menutup seluruh tubuhnya, kecuali menutup muka dan telapak tangan. Artinya, untuk muka dan telapak tangan boleh tidak ditutup karena kaduanya, menurut kelompok ini, tidak termasuk aurat. Hanya saja, kalaupun wanita tersebut hendak menutup muka dan kedua telapak tangannya, maka hukumnya hanyalah sunnah saja, bukan wajib. Untuk lebih memperjelas masalah ini, berikut penulis ketengahkan alasan-alasan masing-masing pendapat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama yang mengatakan bahwa seluruh tubuh wanita adalah aurat dan karenanya muka serta kedua telapak tangan juga wajib ditutup, di antaranya beralasan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah dalam surat al-Ahzab ayat 53 yang artinya, "Dan apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri- istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka" (QS. Al-Ahzab: 53).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini turun ketika Rasulullah saw menikahi Zainab bint Jahsy. Rasulullah saw lalu mengadakan walimah dan mengundang para sahabat untuk menghadirinya. Setelah hamper seluruh sahabat pulang, ada beberapa orang yang tetap saja diam tidak segera pulang. Padahal Rasulullah saw saat itu, sudah lelah dan sudah berharap agar para sahabat segera meninggalkannya. Rasulullah saw saat itu ditemani oleh Zainab terus keluar masuk dengan maksud agar para sahabat memahami dan segera pulang. Tidak lama kemudian, turunlah ayat ini yang memerintahkan agar Rasulullah saw memberikan tabir (hijab, penghalang) antara para sahabat dengan isterinya itu dengan maksud agar para sahabat tidak dapat melihat isterinya, Zainab bint Jahsy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh mereka yang berpendapat bahwa aurat wanita adalah seluruh tubuhnya berpendapat bahwa ayat ini merupakan dalil bahwa wanita harus menutup seluruh tubuhnya termasuk muka dan kedua telapak tangannya. Buktinya, dalam ayat di atas, Zainab binti Jahsy pun disuruh untuk melakukan hal itu; membatasinya dengan memakai hijab, penghalang. Kalau seandainya muka dan kedua telapak tangan boleh dibuka dan tidak ditutup, tentu Allah tidak akan memerintahkan Rasulullah saw untuk memasang hijab..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun ayat ini turun untuk konteks isteri Rasulullah saw, lanjut kelompok ini, namun hukumnya berlaku juga untuk seluruh wanita, termasuk wanita-wanita saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat lainnya yang dijadikan dalil oleh kelompok pertama ini adalah; QS. Al-Ahzab: 59. “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya (jilbab adalah sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, muka dan dada).ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut kelompok pertama, ayat ini juga menjadi dalil wajibnya menutup seluruh tubuh wanita termasuk muka dan kedua telapak tangan. Karena kata yudniina (mengulurkan) ditafsirkan oleh kelompok ini dengan menutup seluruh muka juga, sehingga yang nampak hanyalah kedua mata saja untuk melihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil lainnya adalah hadits Rasulullah saw berikut ini: Rasulullah saw bersabda: "Wanita itu adalah aurat. Apabila ia keluar rumah, maka ia akan dihias oleh syaithan (sehingga laki-laki akan senang melihatnya)" (HR. Turmudzi dan Thabari dan haditsnya Shahih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asma binti Abu Bakar berkata: "Kami biasa menutup muka kami dari tatapan kaum laki-laki. Padahal sebelumnya, ketika kami sedang Ihram, kami bias bersisir (merapihkan rambut)" (HR. Hakim dan sanad hadits tersebut Shahih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan alasan kelompok kedua yang mengatakan bahwa aurat wanita seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan, oleh karenanya, menutup muka dan telapak tangan bukanlah sebuah kewajiban akan tetapi sunnah saja, sebagaimana Firman Allah : QS. An-Nur: 31.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: "Kecuali yang (biasa) nampak dari padanya." (QS. An-Nur: 31). Menurut kelompok ini, bahwa dalam ayat di atas Allah mewajibkan wanita untuk menutup seluruh tubuhnya karena aurat, hanya saja, Allah mengecualikan dua hal yang biasa nampak. Dan dua hal yang biasa nampak yang dikecualikan dalam ayat di atas, menurut kelompok ini, adalah muka dan telapak tangan. Hal ini didasarkan kepada hadits-hadits berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari Aisyah, bahwasannya adik perempuannya, Asma binti Abi Bakar masuk menemui Rasulullah saw sambil memakai pakaian tipis transparan. Rasulullah saw lalu berpaling dan bersabda: "Wahai Asma, sesungguhnya wanita itu, apabila ia telah haid, maka tidak boleh menampakkan tubuhnya kecuali ini dan ini", Rasulullah saw sambil berisyarat kepada muka dan kedua telapak tangannya" (HR. Abu Dawud, dan haditsnya Dhaif).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, hadits ini dhaif. Namun demikian, masih banyak hadits lainnya yang menguatkan bahwa muka dan kedua telapak tangan itu bukanlah aurat, sehingga hadits-hadits tersebut menguatkan satu sama lain. Hadits-hadits dimaksud adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari Jabir bin Abdillah bahwa Rasulullah saw pernah memberikan ceramah khusus untuk para wanita pada waktu hari raya. Lalu, berdirilah seorang wanita dari tengah-tangah yang kedua pipinya nampak seraya berkata: 'Mengapa ya Rasulullah?" (HR. Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hadits ini makin nampak bahwa muka boleh nampak dan tidak ditutup, karena dalam hadits di atas, lanjut kelompok ini, bahwa wanita yang bertanya tidak menutup mukanya. Kalau seandainya muka wajib ditutup, tentu wanita tersebut akan menutupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: "Dari Ibnu Abbas, menceritakan kisah ceramah Rasulullah saw untuk para wanita pada hari raya, kemudian beliau menyuruh mereka para wanita untuk sedekah. Ibnu Abbas berkata: "Rasulullah saw lalu memerintahkan mereka kaum wanita untuk bersedekah, dan saya melihat tangan-tangan mereka melemparkan cincin gelang pada baju Bilal yang dihamparkan." (HR. Bukhari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut kelompok ini, dalam hadits di atas juga dikatakan bahwa Ibnu Abbas melihat tangan-tangan para wanita yang melemparkan perhiasan-perhiasannya. Ini juga membuktikan bahwa telapak tangan bukanlah aurat dan karenanya tidak wajib ditutup. Karena, apabila telapak tangan juga aurat, tentu para wanita itu akan menutupnya dan tidak akan menampakkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil lainnya adalah hadits berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abbas berkata: "Suatu hari Fadhl bin Abbas membonceng Rasulullah saw. Tiba-tiba datang seorang wanita dari bani Khats'am, meminta fatwa kepada Rasulullah saw. Fadhl lalu melihat wanita tersebut dan wanita itupun menatapnya (terjadi adu pandang). Rasulullah saw lalu memalingkan muka Fadhl ke arah yang lain." (HR. Bukhari Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut kelompok ini, hadits ini juga menjadi dalil bahwa muka bukanlah aurat dan karenanya tidak wajib ditutup. Buktinya, dalam hadits di atas, si wanita dari Bani Khats'am tidak menutup mukanya sehingga dapat dilihat oleh Fadhl bin Abbas. Kalau seandainya muka itu adalah aurat, tentu wanita itu akan menutupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber rujukan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perdebatannya mengenai masalah memakai niqab ini sangat panjang, dan tidak mungkin saya tuturkan secara menyeluruh dalam makalah ini. Namun demikian untuk lebih memperluas dan memperdalam alasan-alasan dari masing-masing kelompok ulama di atas, saya cantumkan di bagian Penutup nanti, beberapa buku yang perlu dibaca berkaitan tulisan saya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku-buku yang saya cantumkan nanti, umumnya buku-buku kontemporer dengan harapan menjadi penghubung untuk lebih mendalami persoalan dimaksud langsung ke sumber aslinya, yakni turats. Para ulama telah sepakat bahwa wanita wajib menutup seluruh tubuhnya selain muka dan kedua telapak tangan. Ini artinya, bahwa aurat wanita juga pakaian wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian penutup ini, ijinkan saya untuk kembali memberikan catatan-catatan akhir berkaitan dengan buku yang sedang dibedah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku-buku ini, adalah beberapa buku kontemporer yang dapat saya kemukakan agar para pembaca buku Jilbab karya Dr. Quraish Shihab ada bandingan dan bisa sebagai bahan tambahan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku-buku yang layak dibaca itu adalah; Muhammad Nashiruddin al- Albany, Hijabul Mar'ah al-Muslimah fil Kitab was Sunnah, al-Maktab al-Islamy, Beirut, Cet. Kedelapan, 1987, Muhammad Nashiruddin al-Albany, Jilbabul Mar'ah al-Muslimah fil Kitab was Sunnah, Maktabah al-Ma'arif, Riyad, 2002 (isi buku ini sama dengan buku Hijabul Mar'ah al-Muslimah di atas), Mushtafa as-Siba'i, al-Mar'ah Bainal Fiqh wal Qanun, Darus Salam, Kairo, Cet. Kedua, 2003, Muhammad Baltagi, Makanatul Mar'ah fil Qur'an al-Karim was Sunnah ash-Shahihah, Darus Salam, Kairo, Cet. Ketiga, 2005, Abdul Wahab Abdus Salam Thawilah, al-Albisah waz-Zinah, Darus Salam, Kairo, 2006, Abdul Halim Muhammad Abu Syuqah, Tahrirul Mar'ah fi Ashrir Risalah, Darul Qalam, Kuwait, Cet. Keenam, 2002, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Hijabul Mar'ah wa Libasuha fis Shalah, al-Maktab al-Islamy, Beirut, Cet. Keenam, 1985, Abu Abdullah Musthafa bin al-Adwy, al-Hijab: Ahkamun Nisa fi Sual wa Jawab, Dar Ibn Affan, Kairo, 2002, Muhammad Ahmad Ismail al-Muqaddam, Adullatul Hijab: Bahtsun Jami'un li Fadhailil Hijab wa Adillah Wujubihi war Radd 'Ala Man Abahas Sufur, Darul Iman, Iskandariah, 2002, Muhammad al-Ghazali, Qadhayal Mar'ah Bainat Taqalid ar-Rakidah wal Wafidah, Darus Syuruq, Kairo, Cet. Kedelapan, 2005, Su'ad Ibrahim Shalih, Qadayal Mar'ah al-Mu'ashirah: Ru'yah Syar'iyyah wa Nadhrah Waqi'ah, Maktabah at-Turats al-Islamy, Kairo, 2003,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain buku-buku kontemporer di atas, para pembaca juga diharapkan membaca buku-buku turats fiqh lainnya. Bahkan, ketika mengungkapkan menurut Madzhab Hanafi demikian mengenai batasan aurat ini, misalnya, tentu anda para pembaca dan kita semua diusahakan sedapat mungkin untuk melihat langsung kepada kutubul umm, buku primernya langsung, tidak melalui perantara buku lain yang sekunder atau tersier.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penutup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun, dari perdebatan dan perbedaan para ulama di atas dapat ditarik beberapa hal penting bahwa:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, Para ulama telah sepakat bahwa wanita wajib menutup seluruh tubuhnya selain muka dan kedua telapak tangannya, tentu termasuk di dalamnya rambut dan yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Mengenai apakah muka dan talapak tangan adalah aurat atau tidak sehingga apakah wajib untuk di tutup atau tidak, terjadi perbedaan pendapat. Meski demikian, mereka yang beranggapan bahwa muka dan kedua telapak tangan bukanlah aurat, menganjurkan (sunnah saja), atau membolehkan wanita untuk menutup juga muka dan kedua telapak tangannya terlebih apabila dikhawatirkan akan menimbulkan banyak fitnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, tidak ada satupun, sepengetahuan saya, dari para ulama yang menyerahkan batasan aurat ini kepada keadaan atau kondisi masing-masing, sebagaimana tidak ada yang berpendapat selain dari kedua telapak tangan dan wajah, misalnya rambut, betis, leher, bukan aurat. Semua sepakat semua itu aurat yang wajib ditutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, dalam keadaan darurat, sekali lagi darurat bukan kebutuhan sebagaimana sering disebut oleh Pak Quraish dalam buku Jibabnya, seseorang diperbolehkan melihat aurat lainnya dengan tentu menurut batasan-batasan tertentu plus setelah memenuhi beberapa persyaratan yang telah dibahas oleh para ulama dalam buku-buku fiqh. Kondisi darurat dimaksud misalnya untuk pengobatan yang sangat kronis, proses belajar mengajar atau ketika meminang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penutup, untuk guru saya, Prof. DR. Quraish Shihab—apabila beliau sempat membaca tulisan saya ini—saya memohon, untuk ke depan, hemat saya, Bapak sebaiknya tidak menerbitkan buku yang hanya mendeskripsikan pendapat sementara 'ulama' yang notabenenya bukan bidang yang digelutinya, basicnya bukan masalah yang dibahas.. Misalnya dalam buku Jilbab ini, Bapak mengungkapkan pendapat Syahrur, Asymawi, Nawal Sa'dawi atau yang lainnya, padahal Bapak dan kita semua tahu bahwa mereka semua tidak memiliki background fiqh, hukum Islam. Syahrur adalah seorang muhandis (insinyur), Asymawi seorang mustasyar (konsultan) bidang hukum positif dan Nawal Sa'dawi seorang penulis novel saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab yang menjadi masalah, jikalau buku itu dibaca para masisir, mungkin tidak begitu menjadi persoalan. Setidaknya, sama-sama sudah memiliki basic yang kuat di samping mengetahui siapa Syahrur, Asymawi dan lainnya, tentu ini tak ada hubungan sentimen kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, apabila yang membacanya orang umum biasa, masyarakat Indonesia yang awam, tentu akibatnya akan lain. Dia tidak memiliki basic hukum Islam, agama, juga tidak mengetahui siapa cendekiawan kontemporer yang dikutip itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlebih buku ini ditulis oleh Dr. Quraish –yang bagi kalangan masyarakat Indonesia-- dikenal sebagai seorang cendekiawan dan ulama. Orang awam tentu akan dengan mudah mengatakan bahwa apa yang ditulis dalam buku Jilbab itu adalah pendapat Dr. Quraish.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih-lebih kalau ada masyarakat awam yang mengamalkan isi buku jilbab dengan mengambil pendapatnya Asymawi bahwa rambut pun boleh tidak ditutup, dengan dalih bahwa Dr. Quraish dalam bukunya Jilbab juga membolehkan hal itu. Tentu ini sangat fatal akibatnya. Bukan saja, orang tersebut sudah salah menafsirkan dan menisbahkan pendapat. Bahkan, saya menduga kalangan aktivis di Jaringan Islam Liberal (JIL) yang menerjemahkan buku Haqiqatul Hijab karya Muhammad Said al-Asymawi ini, besar kemungkinan karena terilhami dengan buku Jilbab Dr. Qurash Shihab ini, yang banyak mengutip pendapatnya. Sebagai akhir kata, perkenankanlah saya memohon maaf atas tulisan saya sudah diturunkan beberapa edisi ini. Mudah-mudahan ada bermanfaatnya bersama. Wallahu 'alam bis shawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;*). Hidayatullah, Oktober 2006 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;**).Penulis adalah mahasiswa program doktoral Universitas al-Azhar Kairo Jurusan Ushul Fiqh.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8748359540503814505-8635701700318694095?l=rinasaepulloh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/feeds/8635701700318694095/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/2010/05/menyoal-batas-aurat-wanita-muslimah_8697.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8748359540503814505/posts/default/8635701700318694095'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8748359540503814505/posts/default/8635701700318694095'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/2010/05/menyoal-batas-aurat-wanita-muslimah_8697.html' title='Menyoal Batas Aurat Wanita Muslimah'/><author><name>Rina Saepulloh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01077798137474337093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/TDBAs7CkL0I/AAAAAAAAApA/CwzfYwwlYOg/S220/IMG_0193d.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8748359540503814505.post-1367688404693481483</id><published>2010-03-01T19:10:00.025+02:00</published><updated>2010-07-02T20:01:38.859+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Daily Life'/><title type='text'>Rumahku Surgaku</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/TC4bMnosTiI/AAAAAAAAAoI/bArldjVgMYM/s1600/99047250.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 194px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/TC4bMnosTiI/AAAAAAAAAoI/bArldjVgMYM/s200/99047250.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5489354899423252002" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;R&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;umahku surgaku, mungkin perumpamaan ini cukup tepat untuk menggambarkan Rumah kami yang kecil dan sederhana (aaah ngaku-ngaku, rumah kontrakan kali rin..)  yahh begitulah, mohon dimaklumi keberadaan kami di Kairo memang bukan untuk mencari sekarung emas atau sesendok semen berlian. Melainkan tengah mencari ilmu dan &lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;"mesantren"&lt;/span&gt; kehidupan di tanahnya para Nabi ini. Jadi ngontrak rumah pun baru mampu yang mungil-mungil, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;apalagi untuk ukuran mahasiswa seperti kami, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;shaqah-shaqah&lt;/span&gt; (flat) bertarif &lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;miring&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; sudah tentu menjadi pilihan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Alhasil dengan alasan "berhemat" di negeri orang kami lebih memilih tinggal sedikit ke pinggir dari kota Kairo tepat &lt;em&gt;di kawasan Qatamea&lt;/em&gt;. Kalau menurut Istilah temen-temen mahasiswa yang tinggal di &lt;em&gt;Nasr City&lt;/em&gt;, daerah kami termasuk Kairo &lt;span style="font-style: italic;"&gt;coret&lt;/span&gt; atau Kairo &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nyingcet&lt;/span&gt; alias nggak ada di peta. :D&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Tapi biarpun ngontrak dan agak terpencil keberadaanya, kami sudah sangat bersyukur tinggal di rumah yang sederhana nan indah ini. Di rumah inilah kami memulai langkah berumah tangga dengan segala pahit manisnya. Dimana kami terpisah jauh dari orang tua dan keluarga yang otomatis segala sesuatunya pun harus serba dihadapi berdua. Ketika ada suka, kami kembangkan senyum kebahagiaan itu berdua. Dan ketika ada duka, kami pun melapangkan dada sembari saling berpegang erat menghadapi segala dukanya berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Ahh.. betapa cintanya kami pada rumah ini, rumah yang dihadiahkan oleh sahabat sekaligus  keluarga tercinta kami di sini &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(terima kasih untuk Ibu-Ibu al Humairaa, yang telah mempercantik tampilan rumah ini sebelum kami tiba di kairo)&lt;/span&gt;. Konon, dahulu rumah ini tak  ubahnya seperti sarang penyamun, eh sarang bujangan maksudnya. Maklumlah sebelum suami menikah rumah ini selain ditinggali oleh suami, juga sempat ditinggali oleh 2 orang teman beliau yang semuanya masih bujang, jadi kebayang donk gimana tipikal hunian para bujangan? Dan menjelang kedatangan perdana kami di Tanah Mesir disulaplah rumah sederhana nan mungil ini dengan sentuhan ibu-ibu al Humairaa menjadi lebih&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;"wanita"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Ya, rumah ini ibaratnya surga dan hati kami. Dibalik kesederhanaan selalu ada kebahagiaan, ada kehangatan, dan juga keceriaan. Di setiap harinya tak pernah lepas dari canda dan cerita yang selalu menghangatkan hati dan suasana rumah kami. Walau memang bukan milik sendiri, tetapi disinilah kami mengembangkan hati dan cinta, merekatkan kebersamaan di antara dua kepala yang berbeda dan berkolaborasi menghadapi suka dan dukanya kehidupan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dan suatu saat nanti, ketika kami telah kembali ke tanah air, kami akan membawa serta jutaan kenangan indah di rumah ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Rumah dimana kami membuka pintu lebar-lebar kepada tamu-tamu teristimewa dengan penuh kehangatan dan penerimaan. Rumah tempat aku dan suami tercinta menata kisah sederhana, dan ketika kami menghabiskan waktu sembari makan berdua,  ngobrol &lt;em&gt;ngalor ngidul&lt;/em&gt; ,berbagi cerita dan merancang hari esok berdua atau ketika menemani suami tercinta membaca dan belajar. Kami habiskan dengan berlama-lama manikmati detik demi detik dan merangkai kisah indah dikemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat kami meluapkan segala keluh dan kesah, tempat kami belajar saling memahami.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Ada kisah dan juga selalu ada kemesraan diantara kami.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Di rumah sederhana ini, kami dua orang "anak rumahan" yang  lebih nyaman berada dirumah, ketimbang menghabiskan waktu diluar. Yang begitu menikmati saat-saat ketika makan berdua, dengan canda dan tawa renyah. Seringkali berandai-andai &lt;em&gt; tengah makan malam &lt;/em&gt; di sebuah restoran romantis sembari ngobrol berjam-jam lamanya. Kalau betulan di restaurant bisa-bisa kena usir tuh, makan-minumnya cuma 2 porsi tapi numpang ngerumpinya sampe 5 jam, waduhh. Apalagi kalau nongkrongnya di restaurant Mesir, sebelum suapan terakhir masuk ke mulut dijamin sang pemilik langsung bersiap membenahi meja kita (maksudnya biar kita cepetan angkat kaki dari restoran gitu lho).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Atau menikmati aksi masak-memasak berdua, sekedar memperhatikan suami unjuk kebolehan meracik resep ala &lt;em&gt;chef&lt;/em&gt; dadakan. Dibumbui cekikikan kecil melihat aksi beliau yang selalu ajaib dan meriah. ujung-ujungnya seisi dapur bisa disulapnya jadi tak berbentuk alias hancur berantakan. Aah tapi kami sungguh menikmati kehangatan kami disini. &lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;em&gt;kitchen sweet kitchen&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; dan tentunya masih banyak kisah bahagia dirumah ini, rumah kami yang kecil nan sederhana.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dimanapun  rumah kami berada kelak, semoga selalu berlimpah kehangatan dan kebahagiaan didalamnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Rumah kami.... adalah surga kami.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8748359540503814505-1367688404693481483?l=rinasaepulloh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/feeds/1367688404693481483/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/2010/03/rumahku-surgaku_3655.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8748359540503814505/posts/default/1367688404693481483'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8748359540503814505/posts/default/1367688404693481483'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/2010/03/rumahku-surgaku_3655.html' title='Rumahku Surgaku'/><author><name>Rina Saepulloh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01077798137474337093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/TDBAs7CkL0I/AAAAAAAAApA/CwzfYwwlYOg/S220/IMG_0193d.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/TC4bMnosTiI/AAAAAAAAAoI/bArldjVgMYM/s72-c/99047250.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8748359540503814505.post-5406206563838498600</id><published>2010-02-27T14:17:00.007+02:00</published><updated>2010-02-27T14:26:45.998+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>DUA HATI YANG MENCARI</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/S4kOkyZcKjI/AAAAAAAAAkc/JEcPxwgbaes/s1600-h/wedding.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 139px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/S4kOkyZcKjI/AAAAAAAAAkc/JEcPxwgbaes/s200/wedding.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5442897649820510770" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#cc6600;"&gt;DUA HATI YANG MENCARI&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Bersama shubuh yang menanti petang &lt;br /&gt;Selarik mimpi menjemput esok yang tengah menunggu &lt;br /&gt;Ketika sunyi dalam hati terus meminta &lt;br /&gt;Dan haturkan sujud berpasrahdiri luruskan kehendak &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring untaian harap di kala pagi &lt;br /&gt;Senada hangat mentari-Mu menjelang &lt;br /&gt;Memeluk setiap doa yang terdesah dari dua hati yang saling mencari &lt;br /&gt;Beriak sendu bersama hati yang berdesir &lt;br /&gt;Dan Kau singkap helai demi helai rahasia teragung-Mu &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Rabb ku yang terkasih &lt;br /&gt;Sesungguhnya Engkaulah yang menggerakan dua hati ini &lt;br /&gt;Mentautkan rindu di dalam genggaman-Mu &lt;br /&gt;Bersama doa yang terenda dalam tulus &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meluruskan niat terbaik atas ridha yang terpinta kepada-Mu &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;Teringat doa minta jodoh di depan ka'bah =D, dikabulkan 4 hari kemudian.. Subhanallah, Allah Maha Mendengar ya... &lt;br /&gt;ternyata masih nyelip puisi sewaktu ketemu mantan pacar (suami,red) =D&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8748359540503814505-5406206563838498600?l=rinasaepulloh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/feeds/5406206563838498600/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/2010/02/dua-hati-yang-mencari.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8748359540503814505/posts/default/5406206563838498600'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8748359540503814505/posts/default/5406206563838498600'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/2010/02/dua-hati-yang-mencari.html' title='DUA HATI YANG MENCARI'/><author><name>Rina Saepulloh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01077798137474337093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/TDBAs7CkL0I/AAAAAAAAApA/CwzfYwwlYOg/S220/IMG_0193d.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/S4kOkyZcKjI/AAAAAAAAAkc/JEcPxwgbaes/s72-c/wedding.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8748359540503814505.post-143682295810489868</id><published>2010-02-24T13:53:00.017+02:00</published><updated>2010-03-12T14:47:19.772+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rekam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jelajah'/><title type='text'>SEKEDAR PENGOBAT RINDU</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;T&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;anpa terasa satu tahun sudah aku dan suami meninggalkan tanah air tercinta, meninggalkan sekelumit kenangan indah bersama keluarga, teman dan sahabat. Berpisah dengan keseharian juga kebiasaan unik di negeri sendiri. Yang jelas menjauh dari penganan dan jajanan kesukaan hiks.. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Rasanya tak akan mampu menggambarkan bagaimana rindunya. Membayangkan kami tengah berada diantara keluarga dan sahabat tercinta, berkumpul disertai gelak dan tawa tak ada beban, sembari menikmati santap siang di pinggir kolam dan menghirup lekat-lekat aroma ikan bakar yang menggoda....... kriyuuk, jadi ngiler deh.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Berada di kampung halaman yang luar biasa indah dengan keelokan alamnya, hijaunya pegunungan, gemercik air, aroma tanah basah yang tersiram hujan. Juga &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;rindu akan keramahan masyarakat yang sehangat mentari pagi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;, terekam jelas dalam ingatan dan seringkali mencuatkan kerinduan yang begitu rupa.  Semua itu tak akan pernah didapat dimanapun juga. Sungguh rindunya aku pada negeri, kampung sekaligus rumahku tercinta. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Andai saja jarak Kairo-Jakarta sedekat pulau Jawa dan Sumatra, bisa jadi pulang kampung tiap bulan demi mengobati rasa rindu. (tapi masih kemungkinan lhoo, pastinya liat-liat dulu kondisi dompet :D)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Tentunya segala hal akan terasa lebih berharga ketika jauh dan ketika tiada. Bagaimanapun juga, kapanpun dan dimanapun, nikmatilah setiap detailnya, pahit manisnya dan suka dukanya hari demi hari yang kita jalani. Karena kelak apa yang pernah kita lalui akan menjadi kenangan yang tak pernah berulang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Video ini hanyalah sepenggal keindahan dimana keluarga kami tercinta berada nun jauh di tanah air. Sekedar pengobat rindu untuk kami yang sudah kepingin pulaaaang. (waduhh baru juga setahun kok udah ngebet pengen pulang sih bu?)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Selamat Menikmati...... !&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;object height="315" width="500"&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/rv9Vms2jW80&amp;amp;hl=en_US&amp;amp;fs=1&amp;amp;rel=0&amp;amp;color1=0x3a3a3a&amp;amp;color2=0x999999&amp;amp;border=1" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" height="315" width="500"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;img style="visibility: hidden; width: 0px; height: 0px;" src="http://counters.gigya.com/wildfire/IMP/CXNID=2000002.11NXC/bT*xJmx*PTEyNjcwMTI1MTg5MzkmcHQ9MTI2NzAxMjUyMjkwMyZwPTE4MDMxJmQ9Jmc9MQ==.gif" border="0" height="0" width="0" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8748359540503814505-143682295810489868?l=rinasaepulloh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/feeds/143682295810489868/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/2010/02/sekedar-pengobat-rindu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8748359540503814505/posts/default/143682295810489868'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8748359540503814505/posts/default/143682295810489868'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/2010/02/sekedar-pengobat-rindu.html' title='SEKEDAR PENGOBAT RINDU'/><author><name>Rina Saepulloh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01077798137474337093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/TDBAs7CkL0I/AAAAAAAAApA/CwzfYwwlYOg/S220/IMG_0193d.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8748359540503814505.post-5054820627909353323</id><published>2010-02-19T21:33:00.013+02:00</published><updated>2010-05-29T12:54:37.721+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Slide Show Photograph'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Daily Life'/><title type='text'>MUNAQASYAH MAGISTER SUAMI TERCINTA</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/S4ObRkH8j-I/AAAAAAAAAio/UlKCvmb63Yc/s1600-h/story2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 222px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/S4ObRkH8j-I/AAAAAAAAAio/UlKCvmb63Yc/s320/story2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441363500850778082" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;A&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;lhamdulillah, berkat doa serta dukungan yang luar biasa, pada tanggal 05 Januari 2010/ 19 Muharam 1431 H, suami tercinta telah melewati 1 tahap perjuangan panjang pencarian ilmu, menyelesaikan jenjang Magister di Fakultas Syari'ah, Jurusan Ushul fiqh Universitas Al-Azhar Cairo.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Terimakasih tiada terhingga kepada orang tua kami yang senantiasa mengiringi langkah demi langkah dengan doa dan pengorbanan dalam setiap alunan nafas yang terhembus.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Kakak, adik-adik, serta keluarga besar kami atas doa dan dukungan yang terus dan tiada henti&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Kepada Yth. Bpk &amp;amp; Ibu Abdurahman Fachir (Dubes RI di Cairo), Yth. Ibu Hertiningrum Yudo (DCM RI di Cairo), Yth. Bpk &amp;amp; Ibu Sangidu Asofa  (Atase Pendidikan dan Kebudayaan), Yth. Ibu Mira Wicher, Yth. Ibu Azza, Yth. Ibu-ibu Majlis Taklim Al Humairaa, Yth. Ibu-ibu DWP KBRI Cairo, Yth. Ibu-ibu Majlis Taklim Al Muttaqien &amp;amp; Ibu-ibu Majlis Taklim An-Nisa. Terimakasih kami yang sebesar-besarnya atas dukungan, doa, serta kehadirannya. Sungguh kami belum mampu membalas segala kebaikan yang telah bapak/ibu berikan kepada kami   berdua.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Rekan-rekan mahasiswa, PWK, KPMJB, Qatamea, hatur nuhun bantosan sinareng pangrojong do'ana.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Juga teman serta sahabat yang selalu menghantar kami dengan doa-doa terbaik.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Semoga segala amal baik yang telah diberikan kepada kami berdua khususnya kepada suami tercinta, dibalas dengan kebaikan yang lebih berlipat serta balasan surga di dunia &amp;amp; di akhirat kelak.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Tiada kebahagiaan bagi kami selain limpahan doa, cinta serta kebaikan dari Orang tua, keluarga, kerabat, rekan serta sahabat kami semua.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Sejatinya ilmu hanyalah milikNya, dan karena Dia lah kami menggali ilmu. Semoga Ilmu yang diamanahkan kepada suami tercinta bermanfaat bagi keluarga dan umat, serta dapat membawa kemaslahatan di dunia dan di akhirat. Amin Yaa Rabb&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Oleh: Rina Saepulloh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;embed width="600" height="361" type="application/x-shockwave-flash" allowfullscreen="true" allownetworking="all" wmode="transparent" src="http://static.photobucket.com/player.swf?file=http://vid763.photobucket.com/albums/xx275/rkscairo/munaqasah.flv"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;embed type="application/x-shockwave-flash" src="http://picasaweb.google.com/s/c/bin/slideshow.swf" flashvars="host=picasaweb.google.com&amp;amp;hl=en_US&amp;amp;feat=flashalbum&amp;amp;RGB=0x000000&amp;amp;feed=http%3A%2F%2Fpicasaweb.google.com%2Fdata%2Ffeed%2Fapi%2Fuser%2Frinasaepulloh%2Falbumid%2F5440035700256547745%3Falt%3Drss%26kind%3Dphoto%26hl%3Den_US" pluginspage="http://www.macromedia.com/go/getflashplayer" height="267" width="400"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8748359540503814505-5054820627909353323?l=rinasaepulloh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/feeds/5054820627909353323/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/2010/02/munaqasyah-magister-suami-tercinta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8748359540503814505/posts/default/5054820627909353323'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8748359540503814505/posts/default/5054820627909353323'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/2010/02/munaqasyah-magister-suami-tercinta.html' title='MUNAQASYAH MAGISTER SUAMI TERCINTA'/><author><name>Rina Saepulloh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01077798137474337093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/TDBAs7CkL0I/AAAAAAAAApA/CwzfYwwlYOg/S220/IMG_0193d.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/S4ObRkH8j-I/AAAAAAAAAio/UlKCvmb63Yc/s72-c/story2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8748359540503814505.post-4239724685782387127</id><published>2010-02-05T19:47:00.070+02:00</published><updated>2010-07-02T21:13:08.281+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Slide Show Photograph'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Daily Life'/><title type='text'>GOES TO MA'RADH AL QAHIRAH (CAIRO INTERNATIONAL BOOK FAIR)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/S4ONLbf-opI/AAAAAAAAAh4/qRFrl6CU6ok/s1600-h/IMG_0726+Maradh.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 228px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/S4ONLbf-opI/AAAAAAAAAh4/qRFrl6CU6ok/s320/IMG_0726+Maradh.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441348002293654162" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;A&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;khir-akhir ini dinginnya Cairo lebih menggigit dari biasanya, Matahari pun kian malu-malu menampakan diri seolah ia enggan memancarkan teriknya karena angin yang berhembus begitu dingin dan kencang. Sesekali diselingi hujan rintik-rintik disertai angin debu. Brrrr dingin. Tapii tentu ini bukan alasan bagiku dan suami tercinta untuk memulai perburuan buku di &lt;i&gt;Ma'radh&lt;/i&gt; (lebih tepatnya menemani beliau berburu buku). Rasa penasaran dengan yang namanya &lt;i&gt;“Ma'radh”&lt;/i&gt; akhirnya terbayar sudah. Syukur alhamdulillah pada akhirnya kami berdua dapat kesempatan juga untuk mengunjungi ajang tahunan yang paling ditunggu-tunggu. &lt;i&gt;&lt;b&gt;"Ma'radh kitab ad-duwaly"&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;&lt;b&gt;"Cairo International Book Fair"&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; yang ke-42 tahun. Disinilah surganya para pecinta ilmu dan buku. Dimana ribuan bahkan jutaan manusia tumpah ruah di ajang ini , tua muda tenggelam dalam lautan buku karya para penulis juga penerbit dari seluruh antero negeri, khususnya penerbit dari negara-negara Timur Tengah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Luar biasa, dua kata yang paling tepat untuk menggambarkan semaraknya ajang tahunan yang paling dinanti-nanti. Lautan buku begitu rupa memanjakan setiap pengunjungnya, baik yang tengah berburu kitab-kitab klasik hingga kitab-kitab kontemporer karya ulama-ulama terkemuka diseluruh negeri, disinilah gudangnya. Dari buku-buku islami hingga buku-buku umum dan populer karangan para penulis terkenal disini jugalah tempatnya. Siapa saja boleh masuk kok dengan tiket hanya 1 Le saja atau kalau dirupiahkan sekitar Rp.1850,- Asyik kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Areal yang luasnya lebih dari 1 Hektar ini (mungkin, ini nebak aja habisnya luaaaaas banget), dari ujung ke ujung dipenuhi oleh stand-stand penerbit buku dari berbagai negara. Di dalam satu areal kurang lebih terdapat 7 hall/ gedung. (ralat, setelah hari ke-3 mengitari areal &lt;i&gt;ma'radh&lt;/i&gt; ternyata bukan 7 hall, tetapi ada 15 hall yang dipenuhi stand penerbit buku) Satu gedung biasanya diisi oleh puluhan stand penerbit yang berasal dari kawasan mesir dan juga dari luar mesir. Belum lagi stand-stand buku yang berada di luar gedung, terlihat berderet rapih sejak dari pintu masuk. Kebayang donk, kalau ingin puas "ngubek" setiap stand sembari berburu aneka buku, kitab, atau buku-buku populer lainya perlu waktu berhari-hari untuk bisa menjelajah dari gedung ke gedung dan dari stand yang satu ke stand berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ajang ini ada yang sedikit berbeda dari gedung yang ditempati oleh negara Saudi Arabia, negara ini memiliki 1 gedung tersendiri yang seluruhnya diisi oleh penerbit-penerbit yang berasal dari negaranya. Tampilan gedungnya pun terlihat jauh lebih ekslusif jika dibandingkan dengan gedung yang digunakan oleh negara lain. Menampilkan keunikan corak dan ornamen khas negara teluk yang begitu kental, serta pakaian khas yang dikenakan oleh para penjaga stand yang semuanya laki-laki lengkap dengan g&lt;i&gt;alabiah&lt;/i&gt; serta &lt;i&gt;kafiyeh&lt;/i&gt;nya membuat kami serasa tengah berada di negeri minyak nan makmur ini. Berbagai macam penerbit besar semisal &lt;i&gt;Jami'ah Ummul Qura&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Jami'ah Islamiyyah&lt;/i&gt; (Keduanya merupakan Universitas besar di Saudi) menawarkan kitab-kitab klasik dan kontemporer yang banyak dicari oleh pengunjung. Umumnya buku-buku terbitan Saudi cendrung lebih mahal daripada buku-buku terbitan negara-negara arab lain. Tapi bagi mereka yang betul-betul mencari sumber rujukan mengenai keislaman alasan “lebih mahal sedikit" tentu tidak menjaadi soal.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p   style="margin: 0px; text-align: center; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal; min-height: 15px;font-family:'Times New Roman';font-size:12px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p face="'Times New Roman'" size="12px" style="margin: 0px; text-align: center; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal; min-height: 15px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 238);"&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/S4OQhdxlkQI/AAAAAAAAAiA/MNs-9O6PVKM/s320/saudi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441351679396385026" style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 234px;" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p face="'Times New Roman'" size="12px" style="margin: 0px; text-align: center; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal; min-height: 15px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p   style="margin: 0px; text-align: justify; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; min-height: 15px;font-family:'Times New Roman';font-size:12px;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di samping dikunjungi oleh sebagian besar masyarakat mesir, agenda tahunan ini juga banyak diburu oleh pengunjung non-Mesir, baik pengarang dan penerbit dari banyak negara, juga salah satunya adalah serbuan mahasiswa/i Indonesia yang tengah mencari illmu di beberapa Universitas Mesir. &lt;i&gt;Ma'radh&lt;/i&gt; ini betul-betul dijadikan kesempatan emas bagi mereka untuk melengkapi koleksi buku-buku serta sumber rujukan, atau hanya sekedar cuci mata sambil jalan-jalan bersama teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling menarik dari ajang ini adalah antusiasme masyarakat mesir pada budaya baca dan literasi. Terlihat dari gaya berbelanja buku mereka yang bisa dibilang royal. Hampir setiap pengunjung yang keluar dari ma'radh dapat dipastikan menenteng buku lebih dari satu. Tak tanggung-tanggung mereka berbelanja sambil membawa troli bahkan koper (troli sama koper lebih gede mana ya?). Padahal ada anggapan bahwa kebanyakan masyarakat mesir cenderung hemat dan sederhana untuk urusan gaya hidup. Tapi sepertinya tidak untuk berbelanja buku. Mungkin karena alasan inilah masyarakat mesir dikenal dengan budaya bacanya yang tinggi. Setiap hari, selalu ada buku-buku baru yang terbit, meskipun tingkat buta huruf di Mesir juga konon masih cukup tinggi. Masyarakat Mesir juga banyak yang miskin dan kekurangan, namun karena minat baca dan rasa ingin tahu mereka yang besar, maka kesulitan ekonomi atau mahalnya buku tidak menjadi alasan untuk tidak membaca buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada rasa iri hati jika melihat kenyataan ini, membayangkan bagaimana melorotnya budaya membaca di tanah air. Jadi teringat dahulu ketika getol-getolnya menghadiri &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bookfair&lt;/span&gt;. Paling standard hanya membeli 1 sampai 2 buah buku, selebihnya sekedar keliling sembari baca ditempat (begini nih tipikal orang yang gak mau rugi :P). Entah kenapa, rasanya kok beraat ketika harus merogoh kocek untuk satu buku saja, seolah-olah banyak sekali alasan yang selalu dijadikan pembenaran untuk memelihara rasa “enggan” membeli buku. Terutama mahalnya harga buku, pada akhirnya selalu dijadikan alasan paling klasik yang menyurutkan niat membaca. Alhasil memiliki perpustakaan pribadi dirumah hanya menjadi angan-angan dan mimpi semata, (gaya banget ya angan-angannya :-P)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah kembali lagi ke &lt;i&gt;Ma'radh&lt;/i&gt;. Di ajang tahunan ini pengunjung tak hanya dimanjakan oleh penjelajahan di lautan buku, tetapi masyarakat mesir banyak yang memanfaatkan ajang ini untuk acara kumpul-kumpul bersama teman dan keluarga. Tersedia taman-taman luas nan nyaman untuk melepas lelah sepulang perburuan. Sambil menyantap &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kabab, firakh, sawarmah,&lt;/span&gt; dan banyak lagi jajanan lainnya yang khas Timur tengah bisa menjadi pilihan, tentunya tak lengkap tanpa secangkir kopi Turki panas untuk menambah asyiknya acara perburuan. Namun bagi yang lidahnya masih asing dengan penganan khas arab disediakan juga jajanan sejuta umat, alias jajanan yang bisa ditemukan dengan rasa yang familiar di negara manapun semacam &lt;i&gt;KFC&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;McD&lt;/i&gt;. Gimana? tertarik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah hari-hari yang kami lalui dengan berpetualang di kemeriahan &lt;i&gt;Ma'radh al Qahirah&lt;/i&gt;. Terasa begitu melelahkan dan dengan sukses telah berhasil membuat kedua kaki ini biru-biru karena kebanyakan jalan, ditambah pundak dan kedua tangan serasa kaku akibat tas ransel berisi belanjaan buku milik suami yang super berat. Tetapi pernah berada diantara jutaan manusia yang mencintai ilmu dan buku merupakan harga yang tak akan pernah terganti sampai kapanpun. Thanks to akang yang sudah membuka satu lagi jendela dunia dengan memperkenalkan &lt;i&gt;ma'radh&lt;/i&gt; ini. Bagi yang belum sempat ke &lt;i&gt;Ma'radh&lt;/i&gt;, masih ada kesempatan sampai tanggal 13 Pebruari 10. Jangan lewatkan ya, dan selamat berburu !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katamea, 05 Pebruari 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Rina Saepulloh&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p   style="margin: 0px; text-align: justify; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;font-family:'Times New Roman';font-size:12px;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;embed type="application/x-shockwave-flash" src="http://picasaweb.google.com/s/c/bin/slideshow.swf" flashvars="host=picasaweb.google.com&amp;amp;hl=en_US&amp;amp;feat=flashalbum&amp;amp;RGB=0x000000&amp;amp;feed=http%3A%2F%2Fpicasaweb.google.com%2Fdata%2Ffeed%2Fapi%2Fuser%2Frinasaepulloh%2Falbumid%2F5434882623775783057%3Falt%3Drss%26kind%3Dphoto%26hl%3Den_US" pluginspage="http://www.macromedia.com/go/getflashplayer" height="267" width="400"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8748359540503814505-4239724685782387127?l=rinasaepulloh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/feeds/4239724685782387127/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/2010/02/goes-to-maradh-42th-cairo-international.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8748359540503814505/posts/default/4239724685782387127'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8748359540503814505/posts/default/4239724685782387127'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/2010/02/goes-to-maradh-42th-cairo-international.html' title='GOES TO MA&apos;RADH AL QAHIRAH (CAIRO INTERNATIONAL BOOK FAIR)'/><author><name>Rina Saepulloh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01077798137474337093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/TDBAs7CkL0I/AAAAAAAAApA/CwzfYwwlYOg/S220/IMG_0193d.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/S4ONLbf-opI/AAAAAAAAAh4/qRFrl6CU6ok/s72-c/IMG_0726+Maradh.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8748359540503814505.post-5247178447891207057</id><published>2010-02-02T00:13:00.005+02:00</published><updated>2010-03-01T12:56:44.582+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>KISAH LELAKI TUA</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Aku adalah lelaki tua yang diciptakan tidak sesempurna kalian. Rupaku sedikit aneh, aku memiliki dua mata yang Tuhan ciptakan tidak simetris, mataku yang sebelah kanan lebih besar dan sedikit menonjol seperti hendak melompat dari kelopaknya. Kedua kakiku tak sama panjangnya, yang kiri sedikit lebih pendek dari kakiku yang sebelah kanan. Jemariku juga tak selengkap jemari yang engkau miliki. Aku hanya memiliki 7 jari, kau percaya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipunggungku muncul tonjolan seperti burung punuk, jika aku bertelanjang dada kau akan lihat aku sungguh mengerikan. Ketika berjalan seluruh tubuhku turut bergetar naik turun. Orang-orang akan memandangiku dengan tatapan aneh seakan-akan aku ini mahluk jadi-jadian dari dunia antahberantah. Anak-anak kecil berlarian berlindung dibalik tubuh bapak ibunya, mungkin mereka pikir dibalik mulutku yang agak miring tumbuh taring-taring yang siap menghisap darah segar mereka. Ah anak-anak itu sungguh senang mengkhayal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin rasanya aku melemparkan senyum terhangatku pada mereka yang memandangiku dengan penuh kengerian. Tapi sudahlah, sebaiknya tak perlu kulakukan, tentu mereka akan bergegas menjauh dariku sembari sesekali menoleh cemas kearahku seperti yang sudah-sudah. Tampaknya mereka khawatir aku akan mengejar dan menerkam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Apa aku sakit hati kawan? Kurasa  tak perlu engkau tanya. Seumur hidup aku terbiasa begini. Tak pernah aku pakai hati ini untuk menyimpan rasa sakit. Hatiku hanya untuk berserah diri kepada Tuhan yang menciptakan aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Haruskah aku mempertanyakan ini padaNya? Tak perlu juga kupertanyakan, ini adalah takdirku? Tentu sejatinya Ia adalah Sang pemilik rahasia terbesar atas semua mahlukNYa. Dan biarpun aku akan berjalan terseok-seok, terantuk dan terjerembab karena kakiku yang pendek sebelah,  aku tak pernah menganggap ini berbeda. Karena dihadapanNya Akupun sama denganmu, Mahluk Tuhan yang tak punya daya dan kekuatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau lihat, apa yang aku kerjakan? Mengais dan Mengorek apapun yang dapat kujadikan pengganjal perut ditengah lautan sampah yang bau dan kotor. Bagimu aku tampak menjijikan bukan? Aromaku sama tak sedapnya layaknya bangkai tikus yang membaur bersama gundukan sampah itu, serta merta kau pasti akan menutup hidungmu rapat-rapat menghindari bauku yang sungguh busuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Pakaiannku lusuh dan compang-camping, tak seperti apa-apa yang kau kenakan ketika tengah bekerja. Kedua tanganmu juga begitu halus dan terurus, tak sepertiku yang korengan juga penuh parut. Tangan tak sempurna inilah yang kupakai untuk menyelami sampah hingga kedasar yang paling bau. Sementara kau, hanya duduk mematut-matut sebuah benda begambar seperti layar televisi. Sambil sesekali memainkan jemarimu di atas  tombol-tombol kecil yang menyerupai mesik ketik si Jalal Juru tulis yang mati tak wajar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerapkali aku bergidik membayangkan bagaimana si Jalal melepaskan ruh dari raganya dengan paksa, ketika disambutnya laju kereta yang menghatam  tubuh tegapnya hingga  bercerai berai dimalam pekat  itu.  Sungguh pendek akalnya, lilitan utang mengantarnya pada penghujung ajal yang sia-sia. Padahal anak muda itu sempat sekolah hingga tamat SMU. Seharusnya ilmu dapat membuat ia lebih bersyukur. Ah aku semakin bingung dengan orang-orang di zaman sekarang. Semakin tinggi mereka sekolah, semakin mereka ingin cepat-cepat mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Hey, apa kau pikir aku juga akan menghabisi nyawaku sendiri karena hidupku jauh lebih sengsara daripada dia? Engkau pikir aku akan lilitkan tali rami di atas batang pohon dan kemudian dijeratkan dileherku hingga aku mengejan dan mukaku membiru kehabisan nafas? Terlalu, walau aku miskin dan hina aku tak segila si Jalal itu kawan. Memangnya siapa aku berani-beraninya menentang ketetapan atas ajalku yang belum tiba. Biarlah Dia Sang Maha Pencipta Langit dan bumi yang menghabisi aku dan menentukan bagaimana caranya aku mati kelak. Sungguh ketika hari besar itu tiba, aku tak ingin Tuhan Yang Mahaperkasa melemparku pada jahanam seperti sampah karena menghinakanNya.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Benar adanya Aku sama kotornya seperti lautan sampah yang jadi penyambung nyawaku ini. Tetapi ketika aku tengah beruntung, disanalah kutemukan harta karun yang tak ternilai harganya, akan kusimpan harta-hartaku ini didalam karung butut yang kerap memancing binar ingin tahu anak-anak pondok kardus tepat di selatan gunungan sampah itu. Kau tahu? Inilah rezeki terbesar yang Tuhan beri untuk si miskin yang hina ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Aku memang bodoh, tapi setidaknya aku tahu ini berharga. Ah, aku yakin  kau hanya akan menertawai aku bukan. Aku memang tak sepertimu, kaum berpendidikan yang mampu melahap buku-buku tebal dan seharusnya engkau bagi kepada kami si kaum bodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Tetapi apa yang engkau lakukan disana? Membentangkan spanduk-spanduk protes kalian kepada para pembesar  demi menuntut hak-hak kami si orang miskin. Sungguh aku terenyuh telah engkau perhatikan sebegiturupa. Tetapi tahukah enkau? jauh di dalam hatiku, sungguhlah aku malu menjadi tameng tuntutan kalian dengan kemarahan dan caci maki, teramat perih melihat kalian mengotori pendidikan mulia dengan darah dan amarah. Mengancam dan menghujamkan sumpah serapah yang sungguh membuatku membara mendengarnya. Kemanakan ilmu yang kau punya kawan?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Biarkan aku bertanya satu hal, benar engkau peduli pada kami seperti yang kau luapkan di hadapan para pembesar itu? Jika benar, turutlah serta denganku, kan kutunjukan dimana engkau dapat berjuang membela kami Si kaum miskin nan bodoh ini. Lihatlah kesana wahai kawan, di balik lautan sampah penghidupanku, anak-anak legam  begitu naif terjebak diantara takdir-takdir kemiskinannya. Merekalah mahluk-mahluk kecil yang tulus  menantiku Si tua yang buruk rupa. Mengharap buah tangan dari karung bututku ini. Kau tahu apa yang mereka cari ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia. Ya, ada secercah mimpi di dalam karung butut ini. Dibalik buku-buku usang yang kutemukan dilautan sampah yang bau dan busuk. Sungguh anak-anak itu adalah amanah Tuhan Sang Maha Pencipta semesta alam, mereka adalah generasi setelahmu. Sampai hati kah engkau biarkan mereka mati tenggelam tanpa ilmu?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ah, anak-anak muda yang berpendidikan. Bukan makian yang ingin kudengar dari mulut-mulut kalian yang terpelajar, bukan pula kepalan tinju yang kuharap agar engkau merubah dunia. Beritahulah anak-anak itu bentangan cakrawala yang yang maha luas. Sungguh tanganmulah yang mampu membuka mimpi-mimpi mereka.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8748359540503814505-5247178447891207057?l=rinasaepulloh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/feeds/5247178447891207057/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/2010/02/kisah-lelaki-tua.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8748359540503814505/posts/default/5247178447891207057'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8748359540503814505/posts/default/5247178447891207057'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/2010/02/kisah-lelaki-tua.html' title='KISAH LELAKI TUA'/><author><name>Rina Saepulloh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01077798137474337093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/TDBAs7CkL0I/AAAAAAAAApA/CwzfYwwlYOg/S220/IMG_0193d.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8748359540503814505.post-3808063877307440800</id><published>2010-02-01T19:05:00.003+02:00</published><updated>2010-02-23T12:10:09.325+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Renungan 1 Tahun Pernikahan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/S4OUr4OafFI/AAAAAAAAAig/s22FgmuMhKw/s1600-h/wedding.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 222px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/S4OUr4OafFI/AAAAAAAAAig/s22FgmuMhKw/s320/wedding.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441356256341818450" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Bismillahirrahmanirrahiim&lt;br /&gt;Segala puji hanya bagi Allah, Rabb Semesta Alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh hanya syukur kepadaMu yang senantiasa terucap dalam ingat dan lupanya kami, dalam ruh dan raga yang memuja hanya kepadaMu. Engkaulah telah menautkan dua hati yang saling mencari dan mengikatnya dalam kesucian pernikahan. Melimpahkan cinta dan kehangantan pada dua hati yang dipertemukan olehMu dan saling mencinta hanya karenaMu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaa Allah Maha Karim, satu tahun ini belumlah sebanding dengan kebersamaan orang tua kami yang telah menjelajahi aneka warna dan rasa berumah tangga. Belumlah sekokoh bahtera mereka dalam mengarungi lautan kehidupan, menikmati tenang dan birunya laut atau bersatu padunya mereka menerjang gelora ombak dan bertahan tatkala badai menerjang. Kami hanyalan dua insan yang baru memulai langkah, yang tengah belajar mengapungkan bahtera kami sendiri. Belajar bersentuhan dengan riak-riak kecil dan mempersiapkan diri melawan ombak yang lebih besar. kemudian mendayungnya menuju laut lepas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaa Rahman yaa Rahim, kami lemah tanpa bimbinganMu, dalam tengadah doa yang terus memohon curahan rahmat serta perlindunganMu atas bahtera kami, dan menuntun kami menjadi pelayar-pelayar tangguh menghadapi setiap ujian hidup yang Engkau beri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu tahun ini Engkau tuntun langkah kami untuk belajar, belajar melunakan kekerasan hati dan saling mengerti, belajar merendahkan suara dan saling mendengar. Satu tahun ini, Engkau menguji kami dengan kemudahan, menempa kami dengan keterbatasan dan mencurahi kami dengan kekuatan. Engkau senantiasa memberi kami waktu untuk menyadari dan mensyukuri setiap rencanaMu. Sungguh Engkau Maha Baik Yaa Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejalan langkah ini Engkau telah menjadikan kami layaknya dua orang sahabat yang saling berbagi cerita dan canda. Menjadikannya seperti seorang ayah yang memberi ketenangan dengan peluk penuh cinta kepada putrinya. Dan aku, Engkau jadikan tak ubahnya seorang Ibu yang senantiasa membelai dengan kelembutan kasih pada putra kesayangan. Engkau rekatkan hati kami laksana kekasih yang saling mencinta dan berbagi jutaan rasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada perayaan di usia ini, hanyalah luapan syukur yang kami haturkan kepadaMu. Engkau Yang Maha Kasih yang telah melimpahkan nikmat melebihi apapun yang kami pinta. Syukur kepadaMu atas segala karunia yang tercurah, Engkau yang telah menganugrahkan seorang imam, suami sekaligus sahabat terbaik bagiku. Yang senantiasa menuntun setiap langkah menujuMu, menmperkenalkan aroma surga yang hakiki dengan sepenuh cinta, kebaikan, kesabaran, dan keikhlasan. Dan kelak Ia yang akan selalu setia menantiku untuk memasuki keindahan surgaMu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam setiap sujud, rasa syukur ini tak pernah khilaf kami haturkan kepadaMu ya Rabbi. Hanya syukur... dan syukur kepadaMu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Kang, suami dan sahabat yang tercinta, terimakasih untuk kebersamaan, limpahan cinta kasih, kesabaran dalam membimbing, juga seluruh perhatian dan pengertiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah senantiasa mencurahkan rahmat dan menjadikan kita keluarga yang sakinah mawaddah warahmah dan barakah di dunia dan akhirat kelak. Amin.. amiin yaa Rabbal 'alamiin&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8748359540503814505-3808063877307440800?l=rinasaepulloh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/feeds/3808063877307440800/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/2010/02/renungan-1-tahun-pernikahan_01.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8748359540503814505/posts/default/3808063877307440800'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8748359540503814505/posts/default/3808063877307440800'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/2010/02/renungan-1-tahun-pernikahan_01.html' title='Renungan 1 Tahun Pernikahan'/><author><name>Rina Saepulloh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01077798137474337093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/TDBAs7CkL0I/AAAAAAAAApA/CwzfYwwlYOg/S220/IMG_0193d.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/S4OUr4OafFI/AAAAAAAAAig/s22FgmuMhKw/s72-c/wedding.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8748359540503814505.post-4978364936314915879</id><published>2010-02-01T18:40:00.010+02:00</published><updated>2010-02-24T14:15:54.397+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rekam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jelajah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='All About Egypt'/><title type='text'>Sunset At al Azhar Park</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Al Azhar Park merupakan salah satu taman wisata terbesar yang berada tepat di jantung kota Cairo. Arelanya yang sejuk, hijau dan berbukit-bukit, membuat siapa saja betah berlama-lama disana. Tiket masuknya hanya 5 Le saja, atau kalau dirupiahkan hanya  sekitar Rp. 10.000.. Cukup murah bukan???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling menakjubkan adalah mendapati taman luaas nan hijau berada di negeri padang pasir yang gersang dan panas. Kecantikan panorama kota Cairo seperti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;City of the death&lt;/span&gt; dan kemegahan mesjid-mesjid tua peninggalan masa kejayaan Islam tergambar begitu jelas dari sana. Luar biasa indah, apalagi ketika hari menjelang sore saat matahari mulai turun dan beranjak malam. Lampu-lampu kota mulai berpendaran layaknya kerilp gemintang di langit luas. Subhanallah Indaaah...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" align="center"&gt;&lt;object width="500" height="315"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/a240BsIstho&amp;amp;hl=en_US&amp;amp;fs=1&amp;amp;rel=0&amp;amp;color1=0x3a3a3a&amp;amp;color2=0x999999&amp;amp;border=1"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="allowscriptaccess" value="always"&gt;&lt;/param&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/a240BsIstho&amp;amp;hl=en_US&amp;amp;fs=1&amp;amp;rel=0&amp;amp;color1=0x3a3a3a&amp;amp;color2=0x999999&amp;amp;border=1" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="500" height="315"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;object width="500" height="315"&gt;&lt;/object&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8748359540503814505-4978364936314915879?l=rinasaepulloh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/feeds/4978364936314915879/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/2010/02/sunset-at-al-azhar-park.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8748359540503814505/posts/default/4978364936314915879'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8748359540503814505/posts/default/4978364936314915879'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/2010/02/sunset-at-al-azhar-park.html' title='Sunset At al Azhar Park'/><author><name>Rina Saepulloh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01077798137474337093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/TDBAs7CkL0I/AAAAAAAAApA/CwzfYwwlYOg/S220/IMG_0193d.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8748359540503814505.post-4872577913057182376</id><published>2010-02-01T16:35:00.002+02:00</published><updated>2010-02-24T00:11:48.912+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Bencana Itu Datang (Cerpen)</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Kamar sempit ini terasa semakin menghimpit dadaku yang sesak. Temaram lampu menambah kemuraman di dalam hati yang tengah gundah menanti aroma bencana yang terasa semakin mendekat, menyeruak menampar-nampar pipiku yang dingin dan memucat. Aku kian merundukan pandangan menekuri lantai semen yang mengelupas karena rapuh. Jengah rasanya ditatapi perabotan butut dikamar pengap ini, seolah-olah mereka tengah asyik mengintai setiap gerak-geriku yang menggigil ketakutan, bercampur dengan rasa ngeri  bergantian menggedor batinku yang merintih. Ah Tuhan apa yang akan terjadi padaku hari ini? sekarangkah saatnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“BRAK !!” jantungku seakan melompat, terdengar bedebam pintu dibuka dengan paksa, mungkin ia menendang atau mendobraknya sekuat tenaga. Aku memeluk kedua lututku yang gemetaran dan merapatkan tubuhku mencari perlindungan diantara dinding-dinding kamar yang dingin dan lembab. Kengerian ini semakin menjalari seluruh persendianku, kakiku kian melemas tak kuasa menanti bencana yang akan menyambutku. Kupejamkan kedua mata ini rapat-rapat, aku tak ingin melihat gelegak kemarahannya memburu tubuhku. Sungguh aku ingin menghilang dari bumi ini secepatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“DASAR ANAK SIAL !!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“KAU PIKIR KAU INI SIAPA, HAH ?! JAGOAN?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, bencana itu kini ada dihadapanku. Berdiri menjulang dengan geletar kemurkaan. Aku mulai merasakan cengkraman kasar menggoncang bahuku, menarik tubuhku kuat-kuat tepat kehadapannya dengan kedua tangannya yang kokoh. Kukunya yang hitam seolah-olah menancap di dalam daging mudaku hingga membuatku meringis kesakitan. Aku hanya mampu memalingkan muka menghindari busuk nafasnya karena alkohol murahan yang ia tenggak di warung remang-remang kampung sebelah. Sekuat tenaga aku katupkan gigiku yang gemeletuk karena ngeri. Aroma kemurkaan begitu lekat kurasakan dalam setiap dengusan nafasnya. Aku tak tahan, ingin rasanya bersembunyi dari tatapan matanya yang mencela penuh kebencian. Tapi kemana aku harus sembunyi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, ibu.. aku menginginkan ibu disini, menyelamatkan aku dari bencana yang selalu memburuku dan menerjangku setiap saat. Tetapi, dimanakah engkau ibu? Mengapa kau tak pernah ada bersamaku setiap kali aku begini. Kau hanya membisu tanpa melihat ke arahku. Seringkali ku lihat kau tundukan wajahmu dan kemudian menutup kedua telingamu dengan rapat seolah kau tak pernah mendengar rintihanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu, lihatlah aku anakmu yang malang. Kumohon tataplah mataku yang mengharapmu dalam pedih. Ingin rasanya kau memeluk tubuhku yang luka, menyeka hatiku yang perih dengan tetes air mata Ibu yang menyejukan. Tapi kenapa wajahmu selalu engkau palingkan dariku. Kau hanya menangisiku diam-diam kala sepi. Aku tahu kau menyayangi aku lebih dari apapun. Aku tahu itu ibu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin rekat kupejamkan kedua mata ini, mengusir harapanku akan ibu dari kepalaku yang  terasa pening. Mencoba membendung air mata yang mulai keluar menjajal pertahananku. Tuhan, aku tak ingin menangis, tak ingin kuperlihatkan muka cengengku di depan lelaki ini. Mungkin ia semakin girang melihat ketidakberdayaanku, atau mungkin ia jijik melihat wujudku. Dan benar, direnggutnya rambutku tanpa iba sedikitpun, dihadapkannya mukaku persis di wajahnya yang bengis penuh kebencian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki berperawakan kasar dihadapanku ini tak lain adalah ayahku. Kulitnya legam terbakar matahari dengan kilatan keringat yang berleleran di sekujur tubuhnya. Kebengisan hatinya tertoreh pada garis-garis wajahnya yang tegas dan kasar. Kedua tangan yang keras dihiasi alur-alur urat yang menonjol layaknya batang kayu yang siap menghantamku kapan saja. Aku tak pernah sanggup menatap kedua matanya yang berkilatan seperti mata panah yang sedia menghujam kemudian merobek-robek hatiku dengan tatapannya yang senantiasa mengejek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah ayahku, suami dari ibuku yang malang. Seorang kuli serabutan yang tak jelas apa pekerjaannya. Bisanya hanya menggantungkan nafkah pada ibu. Menurutku ia tak lebih dari seorang pengangguran malas, tukang judi kelas teri yang tak pernah ditakdirkan beruntung seumur hidupnya. Tuhan memang Maha Adil, lelaki seberengsek dirinya tak pernah dibiarkan mengecap kemenangan sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh aku tak rela melihat ibu di injak ayah, hanya untuk mencukupi hasrat judi ayah yang menggila diperasnya keringat ibu yang telah lelah. Malang nian engkau ibu. Sedari pagi hingga petang kau banting tulang menjadi buruh cuci, untuk mengantungi sepeser uang yang tak seberapa, tapi tak sedikitpun kau nikmati hasil jerih payahmu. Ia memang memuakan dan sungguh kasar. Kekasarannya seringkali ia luapkan pada siapa saja yang ia kehendaki. Tapi entahlah, walau demikian aku tak pernah melihat dirinya memiliki kebencian yang sebegitu rupa seperti rasa benci yang ia miliki terhadapku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak tahu kenapa ia begitu membenciku, begitu muak melihat rupaku. padahal aku adalah puteranya. Sedikitpun aku tak ingin membuatnya kecewa, tetapi seringkali ia memuntahkan kekesalannya padaku dengan perangainya yang tak berbelaskasih. Mencaci dengan bicaranya yang kotor dan tak berpendidikan. Ia selalu berhasil membuatku merasa menjadi anak yang paling hina. 14 tahun bersamanya, tak pernah kurasakan ia memperlakukan aku seperti apa yang ia lakukan pada kedua adikku. Walau ayah memperlakukan mereka dengan perangai yang sama buruknya, menghardik dengan amarah atau menyumpahi mereka dengan kata-katanya yang kotor, tapi tak pernah sekalipun ia menyiksa adik-adiku sebagaimana ia menyiksaku dengan sungguh biadab. Engkau memang tak adil ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahulu, ketika adik-adikku mendorongku hingga terjatuh, menghempaskanku hingga aku terluka. Aku mengapai-gapai tangan ayah berharap ia akan meredam tangisanku dengan sentuhan hangat yang menenangkan. Tetapi aku memang terlalu senang berandai-andai, mana sudi ia membagi kasihnya padaku. Sekalipun ia tak pernah menatapku dengan lembut. Sorot matanya yang mengejek seolah-olah aku ini mahluk menjijikan. Ah, ayah.. tak adakah tersisa sedikit cinta untukku? Kau begitu senang menyakitiku dengan lisanmu dan menyiksaku dengan kedua tanganmu. Apa aku telah membuatmu hina?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah karena aku anak haram ibuku seperti yang orang-orang katakan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku semakin lelah berada dalam kekuasaan amarahnya yang meledak-ledak, ia terus menghantam muka dan tubuhku tanpa ampun. Tinjunya seperti godam yang merajang tubuhku hingga tulang belulang. Kurasakan lumuran darah segar membanjiri sekujur tubuhku yang semakin lemah. Aku tak tahu lagi seperti apa rupaku saat ini mungkin sudah sehancur hatiku yang luluh lantak tak berbentuk. Ia kian kesetanan layaknya seekor serigala buas yang memperoleh kesenangannya dengan mengoyak-ngoyak tubuhku hingga bercerai berai, menjejakan kakinya sekuat teriakannya diatas kepalaku yang semakin berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“TENGIK !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“KAU APAKAN ANAK SI SURYO !?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“DIAJARI SIAPA KAU MENGHAJAR ORANG, HAH?!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lamat-lamat ku dengar gelegar suaranya yang melemah dalam pendengaranku. Dunia semakin gelap, kini tak lagi kurasakan nyeri di sekujur tubuhku. Aku seakan melayang entah kemana, terbang bersama berkas cahaya yang membawaku terbang tinggi. Ah, inikah waktuku ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah…Sekejam apapun engkau, kau tetaplah ayahku yang tercinta sekaligus yang teramat ku benci. Tak peduli aku baik atau bertingkah nakal, sungguh tak ada bedanya bagimu. Selama ini kau lebih senang menghajarku, memakiku dengan sumpah serapah yang amat menyakitkan hatiku. Tahukan ayah, engkaulah yang mengajari aku menjadi sepertimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Cerpen ini ditulis 12 Juni 2008, terinspirasi setelah nonton BUSER tentang gejala sosial "Orang tua yang tega membunuh anaknya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8748359540503814505-4872577913057182376?l=rinasaepulloh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/feeds/4872577913057182376/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/2010/02/bencana-itu-datang-cerpen.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8748359540503814505/posts/default/4872577913057182376'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8748359540503814505/posts/default/4872577913057182376'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/2010/02/bencana-itu-datang-cerpen.html' title='Bencana Itu Datang (Cerpen)'/><author><name>Rina Saepulloh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01077798137474337093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/TDBAs7CkL0I/AAAAAAAAApA/CwzfYwwlYOg/S220/IMG_0193d.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8748359540503814505.post-2461739662857685731</id><published>2010-02-01T15:56:00.002+02:00</published><updated>2010-02-23T11:22:44.536+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Chicken Soup'/><title type='text'>Bebek Dan Kucing (Sebuah Kisah Tentang Sahabat)</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/S4Ob_LCnpnI/AAAAAAAAAiw/I0b7TFOmJSU/s1600-h/story.psd.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 139px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/S4Ob_LCnpnI/AAAAAAAAAiw/I0b7TFOmJSU/s200/story.psd.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441364284391532146" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;S&lt;/span&gt;eorang laki-laki yang pada awalnya kukenal begitu naïf dan tampak kekanak-kanakan dengan posturnya yang tinggi sedang berkisar 170Cm – 175Cm. Badannya agak gemuk kedua pipi tembamnya sesekali memerah ketika terik matahari menerpa kulitnya yang putih bersih. Tangan-tangannya halus otot-otot nya juga tidak kencang, jelas ia bukan tipikal orang yang sering melakukan kegiatan berat. Pakaian yang ia kenakan bersih dan beraroma segar pelembut pakaian. Kentara sekali laki-laki berpembawaan kalem ini anak rumahan.. dan khas anak mama. Oops..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Handphonenya kerap berdering memanggil-manggil Sang pemilik tatkala bunda tercinta khawatir jika belum mendapati anak lelakinya tiba dirumah. Ketika itu kami yang besar kepala dengan stempel “mahasiswa”nya, yang merasa telah berhasil terbebas dari segalarupa bentuk pengekangan dan kekhawatiran orang tua. Sontak saling sikut dan berbisik sembari tertawa cekikikan “hihi..dicariin mamahnya.” Ia yang sedikit malu-malu dan terlihat jengah dengan kelakuan kami yang jumawa karena perasaan “boleh pulang larut" akhirnya menjawab panggilan Sang bunda, dan kamipun kembali cekikikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau terlihat kekanak-kanakan, sosoknya lembut dan santun, tak pernah sekalipun kudengar ia berbicara kasar, terlebih pada perempuan. Bicaranya memang tidak terlalu banyak, ia lebih senang menyimak dan memperhatikan lawan bicaranya. Wajah bulatnya akan berubah berseri dan cerewet setiap kali ia bercerita tentang kegemarannya. Adri yang seorang penyuka mobil mainan replika die cast sejenis Hot Wheels, Matchbox dan Tomica ini selalu terlihat bersemangat. Bola matanya bergerak-gerak lincah, pupilnya membesar dan tampak berbinar cerah, secerah hatinya ketika bercerita tentang nina Si gadis pujaan. Senyumnya seketika mengembang diwajahnya yang kanak-kanak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nina adalah kisah sejatinya, cinta terdalamnya, wujud perjuangan dan pengorbanan terbesarnya. Single battle terberatnya demi sebuah permata indah yang teramat ingin ia miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gigih dan pantang menyerah, begitulah akhirnya kumengenal sejatinya sosok seorang Adri. Seakan tak percaya di dalam pribadi yang lembut dan melankolis ia memiliki kekuatan yang maha dahsyat. Di balik wajah kanak-kanaknya tersimpan tekad sekeras baja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tak mengenal sakit dan lelah untuk terus mencoba, perjuangan panjang telah menyita seluruh jiwa dan raganya untuk meruntuhkan benteng-benteng pertahanan sang pujaan hati. Tak hirau wajah tembamnya kian tirus dan berat badannya semakin menyusut drastis. Jiwa-jiwa yang rapuh selalu bangkit dan kembali tegar. Kenaifan membawanya pada kekuatan, dirinya menjelma menjadi sesosok laki-laki tangguh dan berjiwa besar. Ia melangkah dan terus melangkah.. Tak pernah menyerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun keadaan seringkali berkata lain, cinta lelaki ini kerap tak bersambut. Jatuh bangun perjuangannya tak sedikitpun membuahkan hasil yang manis, Berkali-kali hatinya yang lembut merintih kala cinta tak berbalas, dan lagi-lagi ia pun terluka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nina terlalu berat untuk ditaklukan oleh seorang sahabat yang begitu memujanya. Sang cinta sejati terlalu jauh tuk digapai tangan-tangannya yang penuh harap. Dan Ia harus rela ketika cinta Nina tak berpihak kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roman cinta Adri dan Nina menghiasi perjalanan kami 5 orang bersahabat kala itu. Aku, Winda, Kiki, Nina dan Adri.. Kisah cinta diantara mereka tak sedikitpun menggoyahkan arti persahabatan kami. Kami yang bersama-sama melangkah saling merekatkan benang-benang merah persahabatan yang tulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------- Adrianto Wibowo Tjokrowerdojo, begitulah namanya terukir gagah nan anggun dalam sebuah undangan pernikahan, bersanding mesra dengan nama seorang gadis yang begitu kukenal, Anindita Ratna Palupi. Tersirat kemenangan indah dalam lekuk-lekuk goresan foil berwarna perak, sederhana namun begitu kaya akan makna. Sekelumit perjuangan dan pengorbanan tanpa syarat selama 6 tahun untuk menggapai cinta sejati tertoreh dengan memesona dalam bait-bait indah doa kebahagiaan kedua calon pengantin yang menanti esok. Finally Happy ending ever after.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haru dan bahagia seketika menyeruak menyaksikan dua nama sahabat terbaiku pada akhirnya disatukan dalam  ikatan Cinta pernikahan. Berulang kali kubaca seakan masih tak percaya, doa dan harap kan selalu mengiringi perjalanan mereka berdua, sahabat tercintaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.s: Nina &amp;amp; Adri dalam penantian panjang, kini Ayyubi tersayang sudah ada diantara kalian. bahagia selaluu yaa,  kiss buat Ayyubi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8748359540503814505-2461739662857685731?l=rinasaepulloh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/feeds/2461739662857685731/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/2010/02/bebek-dan-kucing-sebuah-kisah-tentang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8748359540503814505/posts/default/2461739662857685731'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8748359540503814505/posts/default/2461739662857685731'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/2010/02/bebek-dan-kucing-sebuah-kisah-tentang.html' title='Bebek Dan Kucing (Sebuah Kisah Tentang Sahabat)'/><author><name>Rina Saepulloh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01077798137474337093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/TDBAs7CkL0I/AAAAAAAAApA/CwzfYwwlYOg/S220/IMG_0193d.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/S4Ob_LCnpnI/AAAAAAAAAiw/I0b7TFOmJSU/s72-c/story.psd.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8748359540503814505.post-4599782597373869180</id><published>2010-02-01T15:54:00.004+02:00</published><updated>2010-02-24T00:33:15.948+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Chicken Soup'/><title type='text'>Rendank Padang (Sebuah Kisah Tentang Sahabat)</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/S4OcVEPJn3I/AAAAAAAAAi4/f7_4FfsN9qI/s1600-h/story.psd.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 139px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/S4OcVEPJn3I/AAAAAAAAAi4/f7_4FfsN9qI/s200/story.psd.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441364660522164082" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Siapa yang tak kenal sensasi “menggigit” rendang daging? Masakan tradisional bersantan khas Padang, Sumatra Barat. Dengan cita rasa yang kaya rempah bercampur pekatnya karambia (kelapa) yang membalut serat demi serat irisan daging sapi khas dalam. Padupadannya bersama bumbu berempah membaur dan menyatu menyeruakan aroma harum nan gurih yang menggoda setiap indera penciuman. Membuat air liur mengumpul dan semakin tak terbendung membangkitkan selera. Rasanya tak sabar untuk mengecap, mengerat dan merasakan setiap detail kekhasannya. Perut-perut laparpun kian meronta keroncongan. Seperti Winda… Lho..?! Apa hubungannya.. ?!?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Winda Nazir, sebutlah namanya demikian. Sahabatku yang seorang padang tulen berkarakter khas seramai rempah. Seperti rendang yang merupakan perlambangan keseluruhan dari masyarakat minang. Kesetiaannya yang selekat santan senantiasa mengiringi aneka bumbu pemasak sehingga mampu mengasilkan rasa unik nan lezat, layaknya kedekatan kami sebagai sahabat yang erat, lekat dan gurih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, pertama kali aku menilik sosoknya, nuansa minang terasa kental dalam pribadinya. Gadis padang berkulit gelap dan berhidung jambu terlihat manis dengan jilbabnya ia mengenakan terusan tunik longgar hingga ke lutut. Ditambah dialeknya yang khas restoran-restoran padang yang gemar aku kunjungi, dengan cengkoknya yang unik dan berirama menjadikannya terasa begitu “padang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atmosfer inilah yang membuat aku teramat takjub dengan sosoknya. Alasannya sangat sederhana, seumur hidup sebelum aku menjejakan kaki di area kampus tercinta, aku hanya mengenal orang-orang yang berkarakter serupa, tak ada keragaman dan perbedaan budaya. Semuanya urang sunda, tok !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandung yang kian disesaki pribadi dan budaya heterogen, yang semakin tenggelam ke-sundaanya dan kemudian beranjak menjadi sebuah kota yang plural dan universal, akhirnya mempertemukan aku Si-sunda dengan Winda Si gadis minang dari rantau. Si pendiam dan Si ramai, kompilasi unik ini yang menjadikan kami semakin dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia seorang pribadi yang keras dan bersemangat. Lengkingannya semenggigit lado atau cabai  pedas yang kerap membuat gaduh seisi dunia, sangat meriah. Hanya saja berbeda dengan karakter lado yang cendrung  tegas, gadis minang ini kerapkali ragu dengan pendiriannya, terkadang kamipun turut dibuatnya bingung dengan “cita-cita” sebenarnya si gadis minang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya Ia memiliki potensi yang  luar biasa besar, kemampuan interpersonal adalah asset paling utama dari seorang Winda. Gadis yang supel, populer dan mudah bergaul, ia mampu berhubungan dengan siapa saja. Seperti seorang marketer.. Sangat khas orang Padang bukan..?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi proses pencarian jati diri yang sejati terasa begitu panjang. Pernah satu ketika kami dibuatnya terkaget-kaget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Gue ikutan audisi Indonesian idol..!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Serunya lantang dan meyakinkan. Aha..!! Ternyata cita-citanya menjadi Idola Indonesia, menjadi seorang penyanyi. Bersoraklah kami penuh sukacita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ia pun mengawali perjalanan panjang untuk menyingkirkan ribuan peserta audisi di seluruh Bandung. Memang tidak mudah tapi bukan berarti tidak mungkin. Apapun bisa saja terjadi, selama ada kerja keras dan atas seijinNYA tentu saja. Demi cita-cita inilah penampilannya kemudian bertransformasi selayaknya idola masa itu. Berkostum kuning menyala dan.. Hm, ada yang berbeda kelihatannya..? Ahh ya..rambut  hitamnya tergerai bebas tanpa jilbab. O..ow kami kaget dan terbengong-bengong dibuatnya, mndapati sosoknya yang hmmm… Beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu aku, Nina serta seorang teman dengan segenap doa dan dukungan penuh mengantarkan dirinya menuju gerbang kesuksesan, menuju lahirnya idola baru Indonesia. Sepanjang perjalanan menuju Sabuga, tempat dimana audisi diselenggarakan. Tanpa lelah, tanpa menyerah ia mengasah seluruh bakat terpendamnya, bernyanyi-nyayi ala Reza Arthamevia yang mendesah-desas. Beruntung aksi latihan instant gadis padang ini tidak ditambahi gaya merapat-rapat di-dinding andalannya Reza. Cukup pendengaran kami saja yang  menjadi korban. Pikirku kalau saja kala itu Trie Utami yang menjadi jurinya, habislah gadis ini dibantai kejamnya pitch control. Pasrah, kamipun berharap semoga penyakit pendengaran para juri Indonesian Idol kumat temporer saat gadis ini tampil. Hihi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sampai 1 jam kami menunggu ditengah rintik hujan sore itu. Berharap-harap cemas ditemani sepiring baso tahu hoki pengganjal perut yang semakin kelaparan. Dari jauh terlihat wajahnya yang manis menyembul-nyembul diantara lautan calon idola. Ia mengembangkan senyum cerianya ketika datang menghampiri kami yang penasaran mendengar cerita spektakuler di dalam sana. Sejuta pertanyaan berkecamuk mencari-cari jawaban dari sosoknya. Berhasilkah Ia Memukau para juri dengan gaya mendesah ala Reza? Apakah Ia diaudisi artis-artis sekelas Titi DJ dan Indra Lesmana? Atau mungkin gadis padang ini malah sudah sempat berfoto bersama mereka??&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;"Gue gak jadi ikut audisi..!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serunya dengan bersemangat. Dan lagi-lagi kami dibuatnya kaget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Terus ?!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami semakin penasaran, menunggu jawaban yang paling masuk akal dari keputusannya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;"Winda laper.. cari makan aja yuk.."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekiknya manja dengan seringainya yang khas, dan kemudian berlalu meninggalkan mimpinya yang meredup. Tetapi sinar diwajahnya masih tetap sama, cerah ceria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah Winda sahabat kami tercinta, tak tahu kenapa perjuangan sang Gadis minang ini terhenti sebelum ia sempat menghujamkan senjata andalannya di tengah ajang paling spektakuler dinegri ini. Entah karena lapar seperti yang Ia katakan, ataukah berjuta-juta manusia yang menyesaki Sasana Budaya Ganesha saat itu telah membuat jiwa perangnya surut dan ahirnya ia pun mencari strategi yang lain, dengan kekuatan baru. Dan Ia adalah Si gadis Minang yang selalu penuh semangat mencari mimpi-mimpinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.s: masih inget tulisan yg ini kan? windaku sayang, kini satu persatu  mimpi sudah kamu raih.. menunggu maret nggak akan berasa ya, bahagia selalu ya sayang......... miz u&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8748359540503814505-4599782597373869180?l=rinasaepulloh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/feeds/4599782597373869180/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/2010/02/rendank-padang-sebuah-kisah-tentang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8748359540503814505/posts/default/4599782597373869180'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8748359540503814505/posts/default/4599782597373869180'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/2010/02/rendank-padang-sebuah-kisah-tentang.html' title='Rendank Padang (Sebuah Kisah Tentang Sahabat)'/><author><name>Rina Saepulloh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01077798137474337093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/TDBAs7CkL0I/AAAAAAAAApA/CwzfYwwlYOg/S220/IMG_0193d.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/S4OcVEPJn3I/AAAAAAAAAi4/f7_4FfsN9qI/s72-c/story.psd.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8748359540503814505.post-6020519201763082089</id><published>2010-02-01T15:52:00.004+02:00</published><updated>2010-02-24T00:31:14.343+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Chicken Soup'/><title type='text'>Anindita (Sebuah Kisah Tentang Sahabat)</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/S4OcgUCEM4I/AAAAAAAAAjA/N1PvwF7sCIc/s1600-h/story.psd.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 139px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/S4OcgUCEM4I/AAAAAAAAAjA/N1PvwF7sCIc/s200/story.psd.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441364853740811138" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Kriiiiiiiiing !!!!!!!! Kriiiiiiiiiiiiing !!!!!! Dering bel terdengar menyalak dan melengkingkan bunyi2an yang memekakan telinga seluruh penghuni rumah besar itu. Aku celingukan di depan pagarnya yang bercat hijau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hey.. Rina ! Masuk aja !” terdengar teriakan sedikit cempreng yang tak kalah melengking seperti bel rumahnya. Kepalaku mendongak ke arah datangnya suara, mataku bergerak mencari-cari sosok bersuara cempreng tadi diantara jendela-jendela besar yang berderet. Tak lama kutangkap lambaian tangan ramping menyembul dari celah jendela yang terbuka sedikit. Sosoknya tidak terlihat jelas, tapi aku langsung mengenalinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyumku merekah, dan mataku berbinar cerah bersemangat kegirangan menemukan bayangannya di balik kaca yg tertutup tirai putih. Telapak tangannya melambai-lambai menyuruhku masuk. Kelak rumah ini menjadi rumah keduaku. Tempat singgah ketika lapar dan haus dipenghujung bulan dan tempatku bernaung ketika gerbang kost telah rapat tergembok. Rumah yang selalu terbuka dan hangat menyambut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu adalah kedua kalinya bertemu Nina, setelah satu hari sebelumnya kami sempat bertemu untuk pertama kali di ITENAS. Ketika kami sama-sama berstatus mahasiswa baru. Dan pagi itu kami bersepakat untuk berangkat sama-sama.ke kampus. Dikemudian hari kami layaknya sepasang kembar siam yang tak pernah terpisahkan, dimana ada nina disitu ada aku, begitu pula sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah..mari kuceritakan tentang sosok dibalik jendela tadi. Seorang sahabat yang membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama. Seperti terkena sihir yang membuatku terus lekat mengintip sosoknya yang berwajah seperti tokoh komik. Ketika kedua alisnya tampak mengkerut dan matanya yang kecil turut menyipit hingga terlihat seperti segaris. Rambutnya pendek dengan poni yang yang selalu ia pakaikan jepit berjejer. Jerawat-jerawat kecil terhias di dahinya. Wajahnya merenggut serius, memperhatikan lekat-lekat senior yang tengah memberikan pengarahan diantara sekumpulan mahasiswa baru yang mengelilinginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat beberapa senior dengan sejumlah atribut yang bermacam-macam sibuk hilir mudik menebarkan aura-aura keseniorannya, serta mengerahkan seluruh pesona penarik simpati junior-junior potensial untuk mereka jadikan target operasi selanjutnya. Sebuah budaya klasik diawal tahun ajaran baru sebagai ajang pencarian jodoh. Mahasiswa baru, pacarpun baru..Syukur-syukur bisa dapet jodoh di kampus pula. :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditengah eksistensi para senior yang cendrung mendominasi suasana kelas, dengan riuh rendah junior-junior yang tampak mulai terpikat oleh pesona para seniornya. Mataku tak lepas mengintai setiap gerak gerik perempuan yang berwajah merenggut tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raut mukanya terlihat kocak. Sesekali ia menghela napas dalam-dalam hingga pundaknya yang sempit ikut naik. Perlahan dilepas udara yang memenuhi rongga paru-parunya sembari menepuk-nepuk bibirnya yang menguap, pundaknyapun menurun malas. Tampak jelas ia bukannya tengah serius memperhatikan sang senior yang begitu semangat berceramah. Tetapi ia sibuk menahan kantuk yang menjalari seluruh wajahnya hingga terlihat cemberut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya Anindita Ratna Palupi, tapi kami terbiasa memanggilnya Nina. Sebuah nama kecil yang disematkan kedua orangtuanya untuk putri satu-satunya dari tiga bersaudara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosoknya ramping dan jangkung, tinggi badannya sekitar 165 cm lebih tinggi dariku yang hanya 155cm. Saat berhadapan dengannya seringkali aku harus sedikit mendongakan kepalaku supaya dapat menatap persis diwajahnya. .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajahnya manis, ia memiliki mata yang kecil tanpa kelopak, bulu matanya pun pendek-pendek. Pipinya tirus dengan dengan dagu yang lancip. Garis-garis wajahnya sedikit oriental, Namun kulitnya kuning kecoklatan, tipikal warna kulit khas perempuan berdarah jawa. Tetapi sisi ke-jawa-an yang biasanya memperlihatkan bahasa tubuh yang anggun serta kemayu telah luruh dari gerak-geriknya yang tak bisa diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang tingkah lakunya seperti kucing, entah karena kecintaannya yg begitu besar terhadap kucing, atau karena setiap pembawaanya yang komikal layaknya perilaku binatang berbulu itu?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kucing memang sudah menjadi hidupnya, kuingat satu kejadian yang membuatku terkaget-kaget ketika pertama kalinya menyaksikan dengan takjub sebuah “kebun kucing” dilantai dua rumahnya. Belasan bahkan puluhan binatang berbulu itu berkeliaran dan menjelajahi setiap sudut ruangan. Aromanya yang khas tercium begitu lekat dalam ingatanku, seringkali membuat hidung terasa gatal karena khayalan bawah sadarku bermain-main dengan sensor penciuman dan menyampaikannya menuju otak. Aku seperti berada di tengah lautan bulu-bulu kucing yg menggelitiki seluruh lorong didalam hidungku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namuni ia layaknya peri penyelamat bagiku, aku yang seorang anak kost seringkali terjebak masalah-masalah klasik khas anak perantauan. Tak pernah sekalipun ia menutup kedua tangannya yang selalu siap untuku kapanpun dan dimanapun, menyelamatkanku dari kesengsaraan berminggu-minggu. Dan senyumnya senantiasa hangat kala menyapa, memberikan keriangan untuk setiap orang yang berada didekatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu ketika keriangannya berubah menjadi kepanikan yang luar biasa. Sebuah tragedi berdarah membuat jantungku serasa lepas dan berhenti sketika, napasku seperti enggan mengalir di kerongkonganku hingga paru-paru terasa menggembung sesak sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, terdengar isak tangis keras serta rintihan yang menyayat hati diseberang sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rinaaaaaaaaaaaaa..!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"jempol gue kepotoooong..!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepanikan pun dimulai, secepat kilat aku melesat memburu rumahnya yang hanya berjarak sekitar 20M. Mukaku seketika memucat, seakan tak ada darah yang sampai ke otaku. Sejuta prasangka buruk berkecamuk ketika menyaksikan darah segar berceceran dimana-mana. Kengerian mulai menjalar disekujur tubuhku yang kian melemas. Aku menemukan sosoknya yang menyedihkan, terduduk cemas dan berlelehan air mata, ia memegangi bagian kakinya yang terpotong hanya ditutupi helai-helai tissue penuh darah. Perutku terasa mual dan melilit, tetapi mataku sibuk mencari-cari potongan jempol yang terputus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tragedi jempol berdarah dimalam rabu, terkadang membuat kami tersenyum geli. Tuntutan kejam tugas Niramana 3D dari seorang Pak Andri Masri ternyata mampu memacu semangat juang 45 kami hingga tetes darah penghabisan. (ehm.. tepatnya tetes darah penghabisan nina)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nirmana 3D adalah mata kuliah paling angker yang pernah kami temui dimasa kuliah. Tenaga berlipatpun akhirnya selalu dikerahkan karena rasa ngeri berkepanjangan yang kerap menghantui waktu-waktu lengah kami. Mata yang tak kuasa untuk terpejam, selalu terjaga diantara tumpukan karton 3mm dengan tangan yang tak pernah lepas dari pisau cutter. Siap menyayat !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan celakanya di tengah tekad yang kian membaja untuk merampungkan Box 3mm, semangat kejar deadline ahirnya menjadi petaka bagi nina. tajamnya pisau cutter yang melenceng dengan sukses mengarah ke jempol kaki kanannya. Dan tragedi berdarahpun tak terelakan, secuil daging harus rela tersayat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau lega karena kejadiannya tidak seburuk pikiranku yang meracau tak menentu, membayangkan jempol yang terputus dari kakinya,  membuatku geli bercampur ngeri. Beruntung hanya sayatan kecil di ujung jempolnya, sedikit jahitan di UGD RS Bormeous telah menyelamatkan kepanikan tiada dua dimalam itu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Ninaaaaaa... inget gak tragedi itu???)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.s: 4 ninaku..... Love u (catatan jaman dulu, selalu ngangenin masa2 itu....)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8748359540503814505-6020519201763082089?l=rinasaepulloh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/feeds/6020519201763082089/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/2010/02/anindita-sebuah-kisah-tentang-sahabat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8748359540503814505/posts/default/6020519201763082089'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8748359540503814505/posts/default/6020519201763082089'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/2010/02/anindita-sebuah-kisah-tentang-sahabat.html' title='Anindita (Sebuah Kisah Tentang Sahabat)'/><author><name>Rina Saepulloh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01077798137474337093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/TDBAs7CkL0I/AAAAAAAAApA/CwzfYwwlYOg/S220/IMG_0193d.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/S4OcgUCEM4I/AAAAAAAAAjA/N1PvwF7sCIc/s72-c/story.psd.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8748359540503814505.post-6169554585513601071</id><published>2010-02-01T15:47:00.004+02:00</published><updated>2010-06-03T11:37:22.776+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Chicken Soup'/><title type='text'>Sarisari Kiki (Sebuah Kisah Tentang Sahabat)</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/S4OcqRtQPPI/AAAAAAAAAjI/GA9preaYG_8/s1600-h/story.psd.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 139px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/S4OcqRtQPPI/AAAAAAAAAjI/GA9preaYG_8/s200/story.psd.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441365024915340530" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Diam-diam kuperhatikan sosok perempuan seusiaku di seberang sana. Namanya Kiki, mungkin usianya sekitar 18 tahun atau lebih tua sedikit? 18 tahun adalah usia normal mahasiswa yang baru menapakan kakinya di universitas, Ketika anak yang baru lulus SMA hendak belajar menjadi seorang MAHA nya SISWA. Ketika mereka beringsut menjadi sosok yang belajar dewasa, hampir dewasa, menjelang dewasa, dan sejenisnya. Dan saat itulah aku pertama kali melihat sosoknya, sedikit berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Garis rahangnya tegas dengan dagu meruncing sempurna, dia memiliki bibir tipis yang unik, Ketika tawanya mengembang deretan gigi putih yang berjejer teratur terlihat kontras dengan kulitnya yang kecoklatan. Kelak kutahu dari mana ia memiliki bibir yang merekahkan senyuman yang begitu unik. Konon Ia membawa gen yang diturunkan dari ibunya yang berdarah belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi entah kenapa, belum pernah sekalipun aku melihat ia mengembangkan senyum ke arahku, atau sekedar menatap dengan tatapan “hai ayo kita berteman?.” Tatapannya senantiasa lurus ke depan, tanpa menoleh dan tanpa peduli apa yang ada disekitarnya. Ketika berjalanpun ia melangkah cepat-cepat dengan tas ransel yang tampak berat dan kebesaran. Entah apa saja isi tasnya? pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sketch books yang tak pernah lepas ia genggam erat ditangan kanannya. Belum lagi tangan kiri yang tak kalah sibuk menenteng tools box berisi peralatan gambar. Tampak menderita, tapi sepertinya ia tak peduli, langkahnya semakin cepat membuat rambut ikalnya yang selalu dikuncir ke belakang tampak berayun. Rautnya terlihat kurang bersahabat, dan sesekali ekspresi arogan tersirat di balik kaca matanya yang berbingkai tebal..Hff.. nyebelin kan..?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika tanpa sengaja aku berdiri sejajar dengannya, ternyata dia tak lebih kecil dariku. Padahal tubuhku juga tak tinggi. Aku meliriknya diam-diam dengan sudut mataku yang agak memicing, sembari mengamati postur tubuhnya yang lebih berisi dibandingkan badanku yang Cuma sehelai, alias kerempeng dan rata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang aku melihatnya agak sesak, karena kaus oranye yang melekat ketat di badannya. Celana jins nya pun tak kalah mencolok dan terang, berwarna senada dengan kausnya. Seketika aku bergumam dalam hati “woho..serab euy !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia seringkali terlihat bersama sekumpulan mahasiswa  serius dan agak dekil (Oops..waktu itu lho, sekarang sih udah keren-keren semua). Padahal aku juga tak kalah teramat biasa dibandingkan mereka, seorang anak daerah yang baru menginjakan kaki di Bandung, yang takjub dengan keberagaman manusianya. Melihat sosok Erik yang tampak seperti ekspatriat muda, dengan rambutnya yang pirang, matanya yang biru dan bibirnya yang memerah. Posturnya yang cenderung gemuk membuatnya terlihat mencolok diantara kelompoknya. Setiap kekocakan dan candaan yang mereka lontarkan seringkali sarat konsep yang menjual isi kepalanya yang memang encer. Dan pada akhirnya sekumpulan mahasiswa ini dikenal dengan sebutan “kelompok belajar”. Bersama merekalah gadis berkacamata ini tampak mengembangkan tawanya, bertingkah konyol dan ajaib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh iya, dikelasku mahasiswa terkelompok menjadi 3 kubu. Kelompok pertama dikenal dengan nama “kelompok belajar” isinya sekumpulan mahasiswa paling rajin, disiplin waktu dan paling hobby &lt;span style="font-style: italic;"&gt;camping&lt;/span&gt; di kampus untuk mengerjakan tugas bersama. Alur hidup mereka terlihat jelas, rapih, terarah dan terencana. Nilai-nilainya pun tergolong paling menonjol diantara yang lainnya. Umumnya kelompok ini dikenal oleh para pengajar karena eksistensi mereka yang cendrung positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kedua dikenal dengan nama “kelompok bermain” isinya sekumpulan mahasiswa yang tak kenal deadline.. UTS maupun UAS… semua serba dadakan dan serba spontan bahkan cendrung apa adanya menjurus seadanya. Seringkali nilai tugas-tugas mereka terhias angka-angka keramat semacam -5 (minus 5), -10 (minus sepuluh) serta potongan-potongan nilai lainnya yg lebih menghawatirkan, alasannya Cuma satu.. "terlalu senang bermain".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tidak semua mahasiswa di kelompok ini memiliki t&lt;span style="font-style: italic;"&gt;rade record&lt;/span&gt; minim kok.  Beberapa terlihat menonjol dan memiliki bakat cemerlang. Hanya sayang karena kurang disiplin waktu, nilai-nilai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;excellent&lt;/span&gt; mereka harus rontok karena &lt;span style="font-style: italic;"&gt;discount&lt;/span&gt; besar-besaran dari para pengajar. Dan biasanya mereka adalah sekumpulan mahasiswa yang paling populer di fakultas, dikenal para pengajar karena terlalu seringnya mereka “molor tugas” mereka juga dikenal hampir oleh seluruh angkatan karena jaringan pertemanan mereka tergolong luas dan solid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nahh.. Yang ketiga dikenal sebagai “kelompok abu-abu”,  di kubu inilah aku berada.. Tidak terlalu suka main, dengan prestasi cenderung biasa-biasa saja. Tepatnya sekumpulan orang-orang yang stagnan dan kurang termotivasi. Sekumpulan orang-orang yang cepat puas dan enggan mengembangkan diri. Tidak putih dan juga tidak hitam, Itulah abu-abu. Dan biasanya kelompok ini kurang dikenal, karena dalam kehidupan nyatanya kelompok ini kurang terekspos kepermukaan karena terlalu "biasa-biasa".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, kembali ke kiki. Mungkin karena alasan inilah Ia tak pernah menatap peduli pada kedua kelompok yang kurang menjanjikan. Begitupun aku yang tak pernah peduli dengan sekumpulan mahasiswa paling rajin dikelas, atau mungkin sekedar menutup mata karena cukup puas dengan stempel “biasa-biasa”. (hmm kebiasaan yang buruk)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, nilaiku juga tidak terlalu buruk, cukup baik untuk mahasiswa yang berada dikelompok abu-abu.. Pada awalnya.. (hanya pada awalnya lho, selanjutnya? yahhh begitulah :P) nilai-nilaiku sebanding dengan kiki satu-satunya perempuan di kelompok belajar. Hm.. inilah karakter kelompok abu-abu, tidak termotivasi untuk menjadi yang “luar-biasa”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah kuliah tingkat pertamaku, awal aku bertemu sahabat tercintaku.. terbaiku.. bernama Sari Ritzkya Devyani (spelling nya bener gak ya ki??) bersama ketiga sahabat lainnya yang belum ku ceritakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami yang tak saling peduli dan tak pernah saling menatap bersahabat, tanpa menyadari seutas benang merah mulai tampak mengikat sebuah persahabatan, tetapi masih samar..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Tak kenal maka tak sayang, di kuliah tingkat kedua.. Kisah persahabatanpun dimulai, terlalu banyak cerita menarik untuk dikisahkan. Kelak ia menjadi sahabat yang selalu dikagumi sekaligus dicintai dengan segala keajaiban, kehebatan dan keunikan yang ia miliki. One in a million...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.s: baru ketemu ada tulisan tentang kiki yg ini, aku share buat kiki.. miz u&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8748359540503814505-6169554585513601071?l=rinasaepulloh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/feeds/6169554585513601071/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/2010/02/sarisari-kiki-catatan-singkat-tentang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8748359540503814505/posts/default/6169554585513601071'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8748359540503814505/posts/default/6169554585513601071'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinasaepulloh.blogspot.com/2010/02/sarisari-kiki-catatan-singkat-tentang.html' title='Sarisari Kiki (Sebuah Kisah Tentang Sahabat)'/><author><name>Rina Saepulloh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01077798137474337093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/TDBAs7CkL0I/AAAAAAAAApA/CwzfYwwlYOg/S220/IMG_0193d.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_X-nX4AvGqOM/S4OcqRtQPPI/AAAAAAAAAjI/GA9preaYG_8/s72-c/story.psd.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
